Tag Archive: masalah penelitian



Masalah penelitian merupakan suatu pondasi dalam melakukan suatu penelitian. Singkatnya, masalah penelitian adalah adanya gap atau kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, teori dengan praktek, yang seharusnya dengan yang terjadi. Masalah penelitian bukan merupakan suatu rumusan tujuan. Ketika ditanya apa masalah penelitianmu? Beberapa menjawab: ”Ingin mengetahui…” dan itu adalah rumusan tujuan, bukan suatu masalah penelitian.

Menentukan masalah penelitian bukanlah suatu hal yang mudah. Oleh karena itu untuk menentukan masalah penelitian, perlu mengetahui dulu apa masalahnya. Sebagian besar pemecahan masalah tergantung pada pengetahuan peneliti tentang masalah tersebut. Sebagian lain ditentukan oleh pengetahuan peneliti tentang sifat dan hakekat masalah tersebut. Dengan kata lain, masalah adalah sebuah kalimat Tanya atau kalimat pertanyaan.

Masalah penelitian akan menentukan keberhasilan dari suatu penelitian. Ada seorang pakar penelitian yang menyatakan bahwa ”Ketika seorang peneliti sudah berhasil memformulasikan (baca: ”menemukan”) masalah penelitian, maka sebenarnya 50% penelitian tersebut sudah berjalan”. Begitu juga sebaliknya, ketika masalah penelitian itu belum ditemukan, maka penelitian itu selamanya tidak akan berjalan.

Oleh karena pentingnya masalah dalam suatu penelitian maka dalam makalah ini penulis mencoba membahas tentang menentukan masalah penelitian yang didalamnya menjelaskan tentang urgensi menentukan masalah penelitian, latar belakang masalah, identifikasi masalah, perumusan masalah, dan pembatasan masalah.

Supaya masalah penelitian yang kita pilih benar-benar tepat, biasanya masalah perlu dievaluasi. Evaluasi masalah penelitian harus berdasarkan beberapa parameter yaitu : (1) Menarik, (2) Bermanfaat, (3) Hal Yang Baru, (4) Dapat Diuji (Diukur), (5) Dapat   Dilaksanakan, (6)Merupakan Masalah Yang Penting, (7)Tidak Melanggar Etika.

—  Masalah biasa didefinisikan sebagai kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, atau kesenjangan antara teori dengan praktik, kesenjangan antara cita dengan realita, atau sesuatu yang memerlukan jawaban dan penjelasan. Tidak selamanya, masalah dapat menggambarkan kesenjangan, tapi terkadang juga merupakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan

MASALAH PENELITIAN

1.      Apa masalah itu ?

Suatu kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, perundang-undangan dengan pelaksanaan, peraturan dengan implementasinya, teori dengan praktik, sehingga menarik minat dan perhatian untuk diteliti.

2.      Bagaimana cara mengadakan penelitian dalam upaya memecahkan masalah penelitian secara kuantitatif ?

Ada tiga persyaratan penting dalam mengadakan penelitian yaitu sistematis, berencana dan mengikuti konsep atau prosedur ilmiah.

a.              Sistematis artinya dilaksanakan menurut pola atau aturan tertentu disusun mulai dari yang paling sederhana sampai pada masalah yang komplek sehingga tercapai tujuan penelitian secara efektif dan efisien.

b.             Berencana artinya dilaksanakan berdasarkan rencana sesuai dengan unsur-unsur masalah berbentuk langkah-langkah penelitian yang jelas.

c.              Konsep atau prosedur ilmiah artinya sejak awal menemukan masalah sampai akhir kegiatan penelitian mengikuti cara-cara yang sudah ditentukan, sesuai dengan prinsip-prinsip atau konsep-konsep penelitian ilmiah.

 

Masalah yang Baik untuk Diteliti

I.       Masalah yang bagaimana yang baik untuk diteliti ?

1.             Masalah yang tepat diteliti yaitu masalah yang dihadapkan pada suatu kebutuhan atau tantangan bagi peneliti.

2.             Masalah mudah dirumuskan sehingga menjadi jelas batasannya, kedudukan dan alternatif cara pemecahannya.

3.             Memiliki hipotesis yang jelas sebagai titik tolak dalam penelitian dan alternatif pemecahannya.

4.               Mudah dalam pengumpulan data untuk menguji hipotesis.

5.             Mudah dalam menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data dan dikembalikan pada jawaban hipotesis yang sudah dirumuskan.

6.             Dapat memecahkan masalah yang diteliti sehingga dapat menemukan kebenaran serta implikasinya untuk memberi saran-saran agar masa depan lebih baik.

Latar Belakang Penelitian

Setelah membaca berbagai informasi tentang temuan ada kesenjangan, kemudian peneliti membeberkan masalah tersebut, sehingga peneliti tertarik untuk meneliti karena :

1.             Penting untuk diteliti karena akan berimplikasi terhadap pengembangan ilmu.

2.             Dapat memperbaiki langkah pembangunan pendidikan, dan bila tidak diteliti akan berdampak semakin merosotnya mutu pendidikan.

3.             Cara mengungkapkan masalah atau gejala kesenjangan di lapangan disusun seperti kerucut terbalik.

4.             Diuraikan dengan jelas kedudukan ilmu yang diteliti dan hubungannya dengan masalah di lapangan.

5.             Berhubungan dengan wilayah ilmu yang sedang ditekuni.

6.             Menguraikan teori, peraturan, perundang-undangan dengan kondisi lapangan pendidikan sehingga tampak jelas adanya kesenjangan.

Fungsi Studi Pendahuluan, Anggapan Dasar dan Hipotesis

Apa peranan atau fungsi Studi Pendahuluan, Anggapan Dasar dan Hipotesis itu ?

1.      Studi Pendahuluan

Untuk memperjelas masalah dan menjajagi kemungkinan apakah masalah ini dapat diteliti atau tidak.

Menurut Winarno Surakhmad, studi pendahuluan atau eksplotaris, fungsinya untuk mencari informasi yang diperlukan oleh peneliti agar masalah yang akan diteliti lebih jelas kedudukannya.

2.      Anggapan Dasar, suatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang berfungsi sebagai titik tolak pemikiran atau tempat berpijak awal pemikiran dalam penelitian. Misalnya kita akan meneliti tentang kinerja guru. Peneliti bertolak dari anggapan dasar bahwa kinerja guru adalah berbeda-beda, karena itulah kinerja guru yang berbeda merupakan variabel yang bisa diteliti.

3.      Hipotesis

Jika anggapan dasar merupakan dasar pemikiran awal tentang masalah yang akan diteliti, maka hipotesis merupakan dugaan sementara kebenaran penelitian yang perlu diuji. Jadi hipotesis untuk mengarahkan peneliti agar pemecahan masalahnya terfokus pada pengujian dugaan sementara atau hipotesis.

 

Merumuskan Judul Penelitian

Ada dua pendapat tentang perumusan judul penelitian

1.      Pendapat pertama :

Judul penelitian ditulis selengkap mungkin sehingga dengan membaca judul dapat diketahui alur pikir peneliti dan tergambar kegiatannya.

2.      Pendapat kedua :

Judul penelitian sebaiknya sesingkat mungkin. Jika pembaca ingin tahu alur pikir peneliti dan gambaran kegiatan penelitian dapat membaca penjelasan bagian lain.

3.      Judul Penelitian mencakup

a.       Sifat dan jenis penelitian

b.      Objek yang diteliti

c.       Subjek penelitian

d.      Lokasi / daerah penelitian

e.       Tahun / waktu penelitian

4.      Syarat Judul Penelitian

a.       Judul harus sesuai dengan minat peneliti dan mencerminkan masalah yang diteliti.

b.      Judul harus mudah diimplementasikan dan komponen-komponennya jelas.

c.       Harus tersedia faktor pendukung

d.      Judul harus mencerminkan manfaat hasil.

Cara Perumusan Masalah

1.             Menguraikan masalah utama sesuai dengan latar belakang penelitian dan judul penelitian. Alangkah baiknya apabila peneliti mampu membuat definisi atau rumusan masalah.

2.             Menyusun masalah yang akan diteliti yang dijadikan fokus atau pokok-pokok penelitian sesuai dengan urutan judul penelitian.

3.             Setiap pokok penelitian erat hubungannya dengan variabel yang diteliti, serta kaitan antara variabel yang satu dengan variabel yang lainnya secara rasional dan proporsional.

4.             Pokok-pokok yang akan diteliti diungkapkan berbentuk kalimat tanya.

5.             Setiap pokok penelitian merupakan definisi operasional variabel.

6.             Setiap variabel yang diteliti harus jelas menggambarkan objek yang diteliti.

7.             Dari setiap indikator yang diteliti harus disesuaikan dengan jenis instrumen penelitian yang bisa mengungkap masalah yang dicari jawabannya.

8.             Jawaban penelitian sesuai dengan jenis penelitian apakah penelitian kualitatif atau penelitian kuantitatif.

Contoh Judul

Pengaruh Manajemen Pembelajaran dan Wawasan Kependidikan terhadap Peningkatan Kualitas Pembelajaran.

Definisi atau Rumusan

Manajemen pembelajaran dan wawasan kependidikan memiliki peranan penting dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran.

Pokok-pokok Penelitiannya

1.      Bagaimana pengaruh manajemen pembelajaran terhadap peningkatan kualitas pembelajaran ? (X1)

2.      Bagaimana pengaruh wawasan kependidikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran ? (X2)

3.      Bagaimana pengaruh manajemen pembelajaran dan wawasan kependidikan secara simultan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran (X1 – X2 – Y)

Gambaran komponen penelitian

Peneliti harus mampu menyusun variabel X1 – X2 dan variabel Y beserta  sub variabel dan indikator setiap variabel atau pokok-pokok penelitian.

Contoh Kisi-kisi Variabel

Variabel Sub variabel Indikator
Manajemen pembelajaran (X1) 1.   Menyusun rencana pembelajaran

 

a.   Mendeskripsikan tujuan pembelajaran.

b.   Mengolah materi pembelajaran sesuai dengan potensi dan minat anak.

c.   Merancang prosedur belajar.

d.  Merencanakan metode yang tepat.

e.   Merencanakan media pembelajaran.

f.    Merencanakan alokasi waktu pembelajaran.

  2.   Pengorganisasian pembelajaran

 

a.   Mengorganisasikan materi pembelajaran berdasarkan urutan konsep dan prinsip materi pembelajaran.

b.   Mengorganisir sumber belajar dari buku, internet, laboratorium dan perpustakaan.

c.   Menentukan pola pembelajaran beserta pola penilaian hasil belajar.

  3.   Melaksanakan pembelajaran

 

a.   Membuka pelajaran sesuai dengan standar pendidikan.

b.   Menyajikan materi pelajaran secara jelas dan rinci atau sistematis.

c.   Menggunakan metode dan prosedur pembelajaran yang telah ditentukan secara tepat.

d.  Mengatur irama dari tempo pembelajaran sesuai dengan materi dan kegiatan anak.

e.   Menggunakan media pembelajaran yang tepat.

f.    Memotivasi dan merangsang siswa dengan berbagai cara yang positif.

g.   Memberikan pertanyaan umpan balik untuk mengetahui daya serap siswa setiap komponen pembelajaran.

h.   Menyimpulkan hasil belajar.

i.     Menggunakan waktu secara efektif dan efisien.

  4.   Pengawasan dan penilaian pembelajaran a.   Keterampilan menyusun soal sesuai dengan indikator yang telah ditentukan.

b.   Melaksanakan penilaian yang tepat.

c.   Memberikan skor tes sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.

d.  Keterampilan mengolah hasil penilaian.

e.   Menganalisis hasil penilaian berdasarkan tingkat kesukaran, daya beda, validitas dan reliabilitas.

f.    Menyimpulkan hasil penilaian secara jelas dan logis.

g.   Memperbaiki cara belajar mengajar dan perangkat penilaian.

h.   Menyusun laporan hasil penilaian.

Wawasan Kependidikan (X2) 1.   Memahami landasan kependidikan

 

a.   Memahami hakikat pendidikan dan tujuan pendidikan.

b.   Memahami hakikat pembelajaran dan tujuan pembelajaran.

c.   Memahami konsep dasar pengembangan kurikulum.

d.  Memahami struktur kurikulum.

  2.   Memahami kebijakan pendidikan a.   Memahami visi, misi dan tujuan pendidikan tingkat nasional dan sekolah.

b.   Memahami tujuan pendidikan dan pembelajaran setiap satuan pembelajaran.

c.   Memahami sistem dan struktur pembelajaran.

d.  Memahami potensi dan standar kompetensi siswa.

e.   Memahami konsep pengembangan sistem pengelolaan pembelajaran (seperti life skills, BBE, CC, CBE, dll.).

f.    Memahami konsep pengembangan manajemen pembelajaran (MBS, dsb.).

  3.   Memahami tingkat perkembangan siswa a.   Memahami psikologi pendidikan yang mendasari perkembangan siswa.

b.   Memahami tingkat-tingkat perkembangan dan kemampuan siswa

c.   Memahami perbedaan mental siswa.

  4.   Memahami pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan metode dan materi a.   Memahami teori belajar yang sesuai dengan perkembangan anak dan materi pembelajaran.

b.   Memahami strategi belajar mengajar.

c.   Memahami berbagai metode yang sesuai dengan materi pembelajaran.

  5.   Mampu memanfaatkan IPTEK dalam pembelajaran a.   Menggunakan teknologi pembelajaran seperti OHP, internet, dan sebagainya.

b.   Memahami istilah-istilah asing atau literature bahasa asing.

Kualitas Pembelajaran (Variabel Y) 1.   Aktivitas belajar

 

a.   Guru dan siswa datang ke kelas tepat waktu.

b.   Mengajar dan belajar tuntas.

c.   Penyelesaian tugas tepat waktu.

d.  Program pembelajaran tercapai secara efektif.

e.   Ekosistem pembelajaran relevan.

  2.   Pembelajaran peserta didik a.   Materi pembelajaran tertentu dan terencana.

b.   Terbentuknya mitra belajar yang harmonis.

c.   Setiap siswa berperan aktif dalam pembelajaran.

d.  Tercipta kegairahan belajar.

e.   Bakat dan minat siswa berkembang.

f.    Belajar tanpa hambatan.

g.   Mencintai belajar.

h.   Termotivasi belajar untuk mencari kebenaran ilmiah.

i.     Memahami peranan ilmu dalam mencapai kemajuan.

j.     Mencapai prestasi yang tinggi.

k.   Gandrung akan keunggulan.

l.     Terwujudnya komulatif dari sikap komponen pembelajaran terpadu dan bermutu.

m. Terwujudnya karakteristik siswa yang esensial.

I.       Pengertian Variabel

FN. Kelinger = variabel sebagai sebuah konsep penelitian, atau objek penelitian.

Sutrisno Hadi = variabel sebagai gejala yang bervariasi.

Variabel dapat dibedakan :

a.       Variabel kualitatif dan variabel kuantitatif.

b.      Variabel kuantitatif diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu variabel diskril dan variabel kontinum.

a.       Variabel diskril atau variabel nominal atau variabel kategori.

Misalnya seberapa banyak guru yang memahami landasan kependidikan, maka penelitian menghitung yang dinyatakan sebagai frekuensi.

b.      Variabel kontinum bisa dibedakan menjadi 3 macam

1).    Variabel ordinal yaitu variabel yang menunjukkan tingkat-tingkat.

2).    Variabel interval yaitu variabel yang menjelaskan jarak jika dibandingkan dengan variabel lain.

3).    Variabel rasio yaitu variabel perbandingan seperti hubungan-pengaruh, dan sebagainya.

II.    a. Data adalah gejala fakta atau angka yang dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi.

      b. Informasi adalah hasil pengolahan data yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan atau informasi.

—  Data dari variabel diskril disebut data diskril berupa frekuensi.

—  Data variabel kontinum disebut data kontinum berupa tingkatan angka jarak atau ukuran.

—  Data dari variabel kualitatif tidak berbentuk angka tetapi berbentuk nilai seperti :”sangat bagus, bagus, cukup, jelek, sangat jelek”.

—  Data variabel kuantitatif berbentuk simbol-simbol “sangat bagus 5, bagus 4, cukup 3, jelek 2, sangat jelek 1.


Sistematika Proposal Penelitian[1]

L. I. Nurtjahyo Kurnia[2]

Hakikatnya suatu proposal penelitian memiliki unsur-unsur seperti disebutkan di bawah ini, meskipun tidak secara absolut. Dapat terjadi peneliti menambahkan unsur-unsur lain seperti skema jadwal kegiatan, anggaran keuangan penelitian, kajian kepustakaan, dan sebagainya.

Latar Belakang Masalah

  1. Penjelasan singkat mengenai topik yang akan diteliti.
  2. Relevansi melakukan penelitian.
  3. Pengantar untuk menjelaskan pokok permasalahan penelitian.

Pokok Permasalahan Penelitian/Masalah Pokok Penelitian

  1. Berupa pokok permasalahan tunggal atau lebih dari satu, tetapi tidak perlu terlalu banyak (biasanya maksimal 3)
  2. Berbentuk pertanyaan atau berupa deskripsi yang menggiring pembaca untuk berpikir bahwa memang sebetulnya ada masalah di bidang yang akan dibahas itu.
  3. Merupakan tulang punggung penelitian yang akan dilakukan, sehingga sangat penting untuk merumuskan pokok permasalahan ini dengan teliti.
  4. Seluruh kegiatan penelitian yang dilakukan pada hakekatnya merupakan upaya untuk menjawab pokok permasalahan ini.
  5. Setelah berhasil merumuskan pokok permasalahan penelitian, barulah dirinci hal-hal yang ingin diketahui itu dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan penelitian.
  6. Masalah penelitian harus logis (masuk akal) dan feasible/ dapat atau mungkin untuk dikerjakan oleh peneliti dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi tertentu.

Tujuan penelitian:

  1. Berisi tujuan yang ingin dicapai dengan melakukan penelitian.
  2. Dibedakan atas tujuan yang bersifat akademis dan tujuan praktis, mis. Untuk memberikan rekomendasi kepada….dst.
  3. Tujuan penelitian ini harus memiliki benang merah dengan relevansi melakukan penelitian dan pokok permasalahan.

Kerangka Teoritis dan Kerangka Konseptual:

  1. Kerangka Teori: Terdiri dari  teori-teori yang akan digunakan untuk menganalisa data yang telah diperoleh melalui penelitian kita atau untuk mendukung hipotesa kerja kita.
  2. Kerangka Konseptual: Terdiri dari konsep-konsep atau definisi-definisi yang kita gunakan dalam penelitian tersebut.
  3. Tidak perlu mengutip terlalu banyak teori yang tidak dikuasai dan tidak relevan dengan masalah yang akan diteliti. Alur pemaparan teori harus membentuk suatu benang merah.
  4. Pilih definisi konsep yang benar-benar dapat menjelaskan hal yang kita maksud.

Metode Penelitian:

  1. Bedakan antara metodologi penelitian dan metode penelitian.
  2. Metode penelitian untuk Antropologi Hukum sebetulnya tidak terpaku pada metode kualitatif saja, akan tetapi dengan metode kualitatif kita akan memperoleh data yang lebih kaya, yang khas Antropologi Hukum, lihat Hoebel dan Moore.
  3. Metode penelitian sangat terkait dengan paradigma yang dianut oleh peneliti atau oleh ilmu yang menjadi ruang lingkup penelitian tersebut (lihat fotokopi Dr. Sulistyowati Irianto tentang paradigma: positivis, interpretivis,dan kritikal)
  4. Dalam penelitian yang menggunakan metode kualitatif, peneliti turun ke lapangan dengan mempergunakan alat: pedoman wawancara, observasi/pengamatan, observasi/pengamatan terlibat. Pertanyaan-pertanyaan dalam pedoman wawancara bersifat terbuka dan memberi tempat bagi informan untuk mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi atau dia alami/data empirik.
  5. Kekhasan dari metode kualitatif, datanya lebih kaya. Menjawab pertanyaan-pertanyaan: mengapa? Bagaimana?
  6. Dalam metode kualitatif subyek penelitian disebut informan.
  7. Uraian data dari hasil penelitian kualitatif sifatnya deskriptif.
  8. Kesulitan dari metode penelitian kualitatif: rapport dengan subyek penelitian harus bagus, pendekatannya harus baik, peneliti diharapkan melakukan probbing.
  9. Dalam penelitian yang menggunakan metode kuantitatif, peneliti menggunakan kuesioner yang bentuk pertanyaan-pertanyaan di dalamnya bersifat tertutup, jawaban hanya berkisar pada ya/tidak, benar salah, atau pilihan-pilihan lain yang telah ditetapkan peneliti. Seringkali subyek penelitian sulit mengungkapkan apa sesungguhnya yang terjadi atau ia alami karena jawaban pertanyaan tertutup tidak menyediakan kemungkinan tersebut.
  10. Dalam penelitian kuantitatif, yang ingin dicapai adalah pembuktian terhadap suatu teori atau hipotesa awal.
  11. Dalam metode kuantitatif obyek penelitiannya adalah responden, karena semata-mata hanya merespon pertanyaan peneliti.
  12. Uraian data dari hasil penelitian kuantitatif dapat bersifat deskriptif atau interpretatif (harus diinterpretasikan lebih dulu angka2 yang diperoleh dari penelitian lapangan itu).
  13. Kesulitan dari metode penelitian kuantitatif: sampling harus relatif lebih banyak karena ada rumusnya tersendiri, hasil penelitian cenderung menggiring pembacanya untuk menggeneralisasi hasil sampling tersebut seabgai kondisi yang terjadi pada masyarakat secara luas.
  14. Cara-cara pemilihan subyek penelitian pada penelitian kualitatif yang harus disesuaikan dengan tujuan dan masalah penelitian (Poerwandari, 55: 1998): Pengambilan informan dengan kasus ekstrim atau kasus menyimpang, pengambilan informan berdasarkan intensitas kasus, pengambilan informan berdasarkan variasi kasus (semua variasi harus tercakup), pemilihan kasus informan yang bersifat homogen saja,  pengambilan kasus/informan secara bola salju/berantai, pengambilan kasus informan yang memiliki kriteria tertentu, dll.
  15. Dalam menentukan jumlah responden pada metode penelitian kuantitatif, tidak bisa disebutkan suatu jumlah secara acak, karena ada suatu rumus perhitungannya tersendiri, di mana dari suatu jumlah populasi harus terwakili minimal berapa persen dan dengan kriteria-kriteria tertentu. Jumlah responden ditentukan berdasarkan prosentase tersebut dan kriteria-kriteria tertentu itu. Kemudian dilakukan proses penghitungan atas hasil/data penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode a.l. SPSS.
  16. Ketika membahas mengenai bagian metode penelitian, jangan lupa sertakan relevansi atau alasan mengapa Anda memilih kriteria informan tertentu. Gambarkan secara singkat juga situs penelitian Anda, penjelasan panjang lebar mengenai situs penelitian, komposisi penduduk, dll biasanya dimuat atau muncul lagi pada Bab II dari hasil penelitian Anda nanti yang akan dipresentasikan.

Daftar Pustaka

 Suatu proposal penelitian yang baik dan peneliti yang beretika akan selalu mencantumkan daftar pustaka di akhir proposal tersebut. Perlu diingat juga untuk selalu mencantumkan sumber bacaan, sumber teori atau sumber kutipan yang dipakai dalam proposal dalam bentuk catatan kaki ataupun catatan yang terintegrasi dalam kalimat (mis. Metode kasus sengketa (Hoebel, dalam TOI, 1989: 54).)

Jangan lupa: susunan kalimat yang baik (Subyek-predikat-obyek), kalimat tidak terlalu panjang, alur pikiran yang sistematis, dan penulisan sesuai EYD.

Tes kecil:

Buatlah statement of intent/pernyataan maksud penelitian yang isinya:

  • Topik/Permasalahan yang akan Anda teliti
  • Hipotesa awal yang Anda pakai
  • Definisi utama
  • Relevansi meneliti masalah tersebut.

Referensi:

Creswell, John W.. Research Design Qualitative and Quantitative Approaches. Sage Publications, Inc., California: 1996.

Poerwandari, E. Kristi.. Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. LPSP3 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok: 1998.

Irianto, Sulistyowati. Perempuan di Antara Berbagai Pilihan Hukum. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta: 2003.


[1] Bahan ini digunakan terbatas hanya untuk kepentingan perkuliahan Antropologi Hukum bagi mahasiswa di FHUI dan PTIK periode tahun ajaran 2003-2004.

[2] Pengajar yunior pada kuliah Antropologi Hukum di FHUI dan PTIK