SEKILAS TEORI KONFLIK

Sumber                    : Prof. DR. Maswadi Rauf (Guru Besar UI)
Subject Terms    : Politic
Date                            : May 2002

1.     Konflik sosial (termasuk konflik politik) adalah sebuah fenomena sosial penting yang memerlukan penyelesaian konflik (conflict resolution). Konflik sosial juga merupakan fenomena yang mempengaruhi pembuatan keputusan. Semakin hebat konflik, semakin sulit membuat keputusan yang mengikat semua.

2. Konflik terjadi bila ada minimal dua pihak (individu atau kelompok) yang terlibat perbedaan pendapat. Perbedaan ini disadari oleh semuanya sehingga mereka tahu ada pihak lain yang bertentangan dengan pendapat mereka.

3. Lawan dari konflik adalah konsensus. Konsensus yang juga disebut mufakat atau kesepakatan terjadi bila semua pihak mempunyai pendapat yang sama. Oleh karena itu terjadi konflik bila tidak ada konsensus, dan konsensus terjadi bila konflik berhasil dihilangkan.

4. Konflik adalah sebuah fenomena sosial yang selalu ditemukan di dalam setiap masyarakat. Konflik tidak akan pernah bisa dihilangkan karena setiap hubungan sosial mempunyai potensi untuk menghasilkan konflik.

5. Namun konflik dapat mengganggu hubungan sosial dan mengancam keberadaan masyarakat bila konflik berkembang terus (tanpa bisa diselesaikan) yang mengakibatkan disintegrasi sosial (dan disintegrasi politik). Masyarakat akan terbelah sesuai dengan polarisasi yang ditimbulkan oleh konflik.

6. Semakin demokratis sebuah negara, semakin besar kemungkinan terjadinya konflik di dalam masyarakat karena kebebasan berfikir, berpendapat, berkumpul dan berserikat menghasilkan konflik yang meluas di dalam masyarakat.

7. Oleh karena itu salah satu persyaratan terpenting bagi demokrasi adalah adanya kemampuan dari pemerintah dan rakyat untuk menyelesaikan konflik sehingga tidak menimbulkan disintegrasi sosial dan disintegrasi politik.

8. Penyelesaian konflik bisa ditempuh dengan cara persuasif (perundingan) dan cara koersif (kekerasan).

9. Yang ideal adalah cara penyelesaian konflik secara persuasif karena digunakan cara rasional dalam bentuk musyawarah. Cara koersif dianggap kurang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan karena penggunaan kekerasan atau ancaman penggunaan kekerasan bukanlah nilai-nilai manusiawi.

10. Penyelesaian konflik secara persuasif hanya bisa dicapai bila pihak-pihak yang terlibat konflik tidak bersifat fanatik dan arogan, sehingga bersedia menerima pendapat pihak lain dan mau mengurangi tuntutan sendiri. Hanya dengan cara begitu, titik temu (kompromi) bisa dihasilkan.

11. Kompromi tercapai bila pihak-pihak yang berkonflik menyetujui hal yang sama yang ada dalam  pendapat yang dianut pihak-pihak yang berkonflik. Hal-hal yang ditentang oleh semua dibuang dengan persetujuan dari setiap pihak yang berkonflik. Hal-hal yang sama juga bisa diambil dari pendapat pihak lain yang disepakati oleh pihak-pihak yang berkonflik.

12. Bila kompromi sulit dicapai, berarti konflik sulit diselesaikan. Yang terjadi kemudian adalah munculnya gangguan terhadap hubungan sosial yang harmonis dan kemungkinan terjadinya ancaman bagi keutuhan masyarakat.

Iklan