Tag Archive: anomie



ROBERT K. MERTON: Struktur Sosial dan Anomie

Dalam artikelnya yang berjudul “Struktur Sosial dan Anomie,” Robert K. Merton (1938) menggunakan konsep-konsep anomie dan teori penyimpangan di dalam analisa tentang system reward orang Amerika. Merton mengatakan bahwa sebuah keadaan umum anomie menyebarkan masyarakat Amerika karena ada sebuah kontradiksi (“disjunction”) antara tujuan budaya dan cara untuk berhasil. Tujuan budaya keberhasilan (misalnya, memiliki uang banyak, memiliki rumah sendiri, memiliki mobil) disebarkan secara luas bersamaan dengan idiologi yang dimiliki setiap orang yaitu peluang yang sama untuk mencapai tujuan ini. Namun, kenyataannya peluang-peluang itu terdistribusikan dengan adil. Alat utama untuk mencapai keberhasilan, pendidikan dan pekerjaan tidak dapat diperoleh dengan adil. Kualitas pendidikan dan peluang kerja dan reward sangat bervariasi sesuai dengan kelas social. Disequilibrium terjadi ketika tujuan budaya dan cara-caranya tidak disinkronkan, ketika sejumlah besar orang tidak mendapatkan akses ke tujuan budaya dan cara-caranya (menghasilkan hambatan social).

Menurut teori hambatan Merton, masyarakat Amerika mempromosikan tujuan budaya tentang kesuksesan dengan memasukkan 3 aksioma (keyakinan) kepada semua anggotanya.

  1. Setiap orang berjuang demi kesuksesan, karena kesuksesan terbagi secara sama bagi semua orang.
  2. Kegagalan hanyalah jalan memutar sementara hingga mencapai kesuksesan.
  3. Kegagalan sesungguhnya adalah orang yang mengurangi atau menarik mundur ambisinya untuk sukses.

Aksioma-aksioma ini dikalkulasikan ke dalam anggota masyarakat dengan 3 alasan:

1)   Aksioma itu mencegah kecaman dari akar structural social dengan menempatkan kesalahan atas kegagalan itu pada individu.

2)   Aksioma membantu mempertahankan status quo.

3)   Aksioma menciptakan tekanan-tekanan untuk kesesuaian dengan mendefenisikan kegagalan sebagai sesuatu yang bukan Amerika.

Dengan mengetahui dampak dan kekuatannya, bagaimana manusia bereaksi terhadap hambatan-hambatan antara tujuan budaya dan cara-caranya? Merton menyatakan bahwa adaptasi terhadap anomie (yang didefenisikannya kembali menyangkut hambatan) bisa saja terjadi dalam salah satu bentuk dari 5 reaksi yang berbeda: kesesuaian, inovasi, ritualisme, kemunduran, dan pemberontakan (lihat Tabel 8-1).

  1. Kesesuaian—mode adaptasi yang paling umum menyatakan bahwa manusia menerima cara budaya dan tujuan budaya. Pemuda yang menunda kepuasan dengan bekerja keras di sekolah, untuk mendapatkan pekerjaan, untuk mampu membeli rumah, mobil dan barang mewah, sedang menyesuaikan dengan harapan dan nilai-nilai masyarakat.
  2. Inovasi—menandakan para individu yang menerima tujuan budaya tetapi menganut cara atau alat non-konvensional untuk mendapatkan tujuan, misalnya, mereka mungkin saja mencontek untuk mendapatkan terbaik di sekolah atau di pekerjaan, atau mereka bisa saja menipu atau mencuri untuk memperoleh kekayaan. Di antara banyak pemuda-pemuda di pusat kota, perdagangan obat-obatan bisa saja dipandang seperti bisnis konvensional lain—sebagai cara untuk membuat keuntungan.
  3. Ritualisme—mengacu kepada tipe adaptasi “anggur asam” (Aesop’s Fox, tidak mampu mencapai anggur tersebut, dirasionalkan bahwa dia tidak menginginkan anggur itu karena anggur itu asam). Individu yang dihalangi dari tujuan kesuksesan menyesuaikan diri dengan meninggalkannya; namun, individu it uterus menyesuiakan diri dengan hukum dan norma-norma masyarakat. Konsep Oscar Lewis (1966) tentang “budaya kemiskinan” mengutip model adaptasi ini. Banyak orang dalam lingkungan miskin menyerah tentang “Mimpi Amerika”; namun mereka terus berjuang dan hidup dengan menaati hukum. Banyak pemuda yang bersekolah telah menerima fakta bahwa mereka tidak akan bisa lanjut ke perguruan tinggi. Mereka menerima kegagalan mereka sendiri; tetapi mereka terus “bersekolah,”
  4. Retreatisme (kemunduran)—melibatkan penolakan baik tujuan budaya maupun cara budaya. Beberapa contoh luar biasa dari model adaptasi ini termasuk orang-orang yang keluar (DO) dari arus utama kehidupan dan menjadi consumer penyalahgunaan obat-obatan, atau pemuda yang DO dari kehidupan konvensional untuk bergabung dengan pengikut keagamaan atau beberapa subkultur menyimpang lainnya, atau seorang eksekutif bisnis yang meninggalkan keluarga dan pekerjaannya untuk hidup di antara tuna wisma.
  5. Pemberontakan—adalah penolakan tujuan dan cara yang ada dan pengganti tujuan dan cara yang baru. Individu-individu yang memilih bentuk adaptasi ini seringkali berupaya untuk merusak aturan social yang ada dan mengganti dengan aturan yang baru. Kelompok subversive dan terroris, serta beberapa geng remaja nakal, telah dijelaskan dalam gaya ini. Konotasi negative biasanya dikaitkan dengan kelompok semacam ini dan kegiatan mereka karena terculture (oposisi tertata terhadap cara budaya) juga bisa dipandang sebagai bentuk pemberontak, khususnya selama tahap perkembangannya yang lebih banyak konflik pada tahun 1960-an, pemuda yang menghadapi budaya menolak obsesi dengan kesuksesan moneter dan dorongan untuk nilai. Pemberontakan adalah gerakan kembali ke dasar penghargaan yang lebih besar dari sifat dan focus alamiah tentang badan yang sehat dan lingkungan yang sehat, dan meletakkan perilaku terhadap orang lain. Ketika banyak pemuda dari tahun 60-an dikriminalisasi dan dihukum atas sifat mereka yang tidak sesuai dan memberontak, gerakan ini relative berhasil: Banyak dari nilai-nilai yang melawan budaya ini telah diadopsi secara luas.

Albert K. Cohen: Kejahatan sebagai sebuah Reaksi Terhadap sekolah dan Nilai Kelas Menengah

Seperti Merton, Albert Cohen (1955) mengakui adanya penyangkalan peluang pendidikan, cara yang paling mudah untuk memperoleh kesuksesan, menciptakan frustasi atau hambatan-hambatan. Cohen menyatakan bahwa pemuda kelas bawah tidak mampu berkompetisi secara adil dengan pemuda kelas menengah di system sekolah yang umumnya diarahkan menuju nilai-nilai dan cita-cita kelas menengah dan hal ini menguntungkan siswa dari kelas menengah.

Cohen menyatakan bahwa pemuda dari kelas bawah menciptakan perlawanan sebagai respon terhadap penolakan dan diskriminasi yang mereka alami di sekolah kelas menengah. Kelompok yang melawan budaya menawarkan sebuah nilai-nilai alternative sebagai system dukungan social (misalnya, asosiasi diferensial) dimana mereka bisa memperoleh kembali martabat dan kehormatan mereka yang hilang. Namun, sebagai formasi reaksi terhadap nilai-nilai dan standar kelas menengah dan sebagai mekanisme pertahanan terhadap frustasi, geng ini memperkuat praktik-praktik dan sikap yang negative, non-utiliter, dan hedonis. Penekanan ditempatkan pada gratifikasi menengah, perusakan property, ketidaksediaan dan sikap kasar yang terjadi tiba-tiba. Bagi Cohen, subkultur menyimpang dari siswa kelas bawah menunjukkan solusi yang agak tidak sempurna terhadap masalah ini.

 

 

Walter Miller: Keprihatinan Terpusat

Pada tahun 1958 Walter Miller menerbitkan sebuah artikel yang berjudul “Lower-Class Culture as a Generating Milieu of Gang Delinquency.” Berdasarkan kajian antropologinya, Miller menyimpulkan bahwa orang Amerika kelas bawah memiliki sebuah system dan orientasi nilai subkultur yang berbeda. Orientasi nilai ini, yang dirujuk kepada keprihatinan terpusat, termasuk masalah, kegigihan, kecerdasan, kesenangan, takdir, dan otonomi. Ekspressi keprihatinan terpusat ini oleh pemuda kelas bawah mempromosikan kenakalan sebagai alternative perilaku kepada pencapaian status. Sebagai contoh, dengan menjadi “bermasalah dengan hukum,” pemuda kelas bawah mendapatkan sebuah perasaan penting dan tertekan. Kegigihan atau ketangguhan biasanya mengacu kepada kekuatan fisik, kejantanan dan keberanian. Miller menyatakan bahwa penekanan pada ketangguhan bisa saja menjadi sebuah cara untuk memperkuat kembali dominasi pria kelas bawah atau identitas kejantanan pribadi pada sebuah lingkungan keluarga yang didominasi wanita. Kecerdasan tidak dipandang dalam hal persekolahan, tingkat pendidikan atau IQ; sebaliknya kecerdasan disamakan dengan kelicikan, dan bertaruh atau berjudi sebagaimana ditunjukkan dalam meloloskan diri, dan perjudian. Keprihatinan terpusat mengacu kepada keberadaan dua kelompok: orang-orang yang yang mengeksploitasi dan orang-orang yang dieksploitasi. Peran orang yang mengeksploitasi adalah peran yang disukai oleh anggota geng pemuda. Mengikuti jejak langkah yang legitimate menuju sukses adalah bagi penjilat. Kesenangan atau mencapai sebuah kenikmatan adalah pencarian yang berhadiah; kalau tidak maka kelihatan hambar, dunia yang selalu berulang bagi pemuda kelas bawah. Kenikmatan itu biasanya terkait dengan bahaya dan resiko dan termasuk kehidupan malam di kota, perjudian, perkelahian dan hubungan intim dengan wanita. Keberuntungan yang baik sangat penting—mendapatkan hal-hal yang tepat, atau berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat adalah jalan menuju sukses. Akhirnya, sebagai sebuah reaksi terhadap bawahan dari nilai dan struktur otoritas kelas menengah, pemuda kelas bawah menekankan control atau otonomi individu—ketahanan diri. Miller telah mengkaji masalah geng selama beberapa decade (lihat Box 8-1, Youth Gangs and their “Bussiness” of Drug and Crime).

Darwin E. Wolfgang dan Franco Ferracuti: Subkultur Kekerasan

Darwin E. Wolfgang dan Franco Ferracuti dalam artikel mereka “The Subculture of Violence (1967/1982) berupaya untuk menjelaskan kejadian kekerasan yang relatif lebih tinggi di antara pria muda, kelas bawah dan Afrika-Amerika, baik sebagai pelaku kejahatan dan sebagai korban. Dengan menggabungkan beberapa teori, Wolfgang dan Ferrcuti menyatakan bahwa pria Afrika-America dari kelas bawah memiliki sebuah sistem nilai yang menyimpang dari pria Afrika-Amerika dari masyarakat yang lebih luas dalam penekanannya terhadap kekerasan sebagai sebuah bentuk perilaku yang dapat diterima.

Penulis menyebutkan bahwa untuk banyak pemuda Afrika-Amerika yang tinggal di tengah kota dan miskin, kekerasan merupakan bagian normal dari kehidupan baik dalam keluarga maupun komunitas. Beberapa pemuda ini bisa saja percaya mereka harus harus membawa pisau atau senjata api untuk perlindungan atau keselamatan mereka. Pemuda-pemuda lain  bisa saja percaya bahwa perilaku menyerang adalah respon yang pantas atau normal terhadap hinaan verbal. Wolfgang dan Ferrracuti menekankan bahwa subkultur kekerasan menghasilkan angka kejahatan dengan kekerasan yang tinggi yang menggambarkan bukan hanya toleransi dan penerimaan kekerasan pada sisi sang pelaku dan korban, tetapi juga mencurigakan dan sterotipe dengan menyertakan komunitas dan petugas penegak hukum.

Tulisan Wolfgang dan Ferracuti ini telah memberikan inspirasi bagi banyak perdebatan dan kontroversi. Rujukan kepada sebuah subkultur Afrika-Amerika tentang kekerasan telah dipertanyakan menyangkut konseptualisasi dan pengukurannya. Penentangan terhadap tesis subkultur kekerasan dating dari semua sisi. Misalnya, telah disimpulkan “bahwa tidak ada yang melekat di dalam kultur kulit hitam yang mendukung kejahatan. Sebaliknya, tingginya tingkat kejahatan yang dilakukan orang kulit hitam kelihatannya berasal dari kaitan structural di antara pengangguran, perampasan ekonomi, dan gangguan dalam keluarga di komunitas kulit hitam perkotaan” (J. Sampson, 1987: 38). Dalam pemahaman yang paling dramatis atas argument ini, tingkat yang lebih tinggi dari kejahatan di antara Afrika-Amerika yang tinggal di bagian pusat kota dikaitkan dengan rasisme dan diskriminasi ekonomi dan penegakan hukum yang selektif di masyarakat Amerika, yang semuanya mengindikasikan keberadaan sebuah kelas manusia yang sangat lemah (*W. Wilson, 1987).

 

Richard Cloward dan Lloyd Ohlin: Peluang Diferensial

Richard Cloward dan Lloyd Ohlin, dalam buku mereka “Delinquency and Opportunity” (1960), mengangkat masalah dengan premis dasar Cohen bahwa aspirasi yang tidak berhasil/gagal menyebabkan kenakalan atau perilaku criminal. Mereka juga merasa bahwa keprihatinan terpusat dari Miller atau pemikiran tentang subkultur kekerasan tidaklah cukup untuk menjelaskan sikap criminal atau melanggar hukum. Hanya karena pemuda kelas bawah menolak nilai tertentu atau tidak diijinkan menggunakan cara-cara yang legitimate untuk mencapai tujuan tidak secara otomatis mengarah kepada kenakalan atau penggunaan cara yang tidak legitimate. Dengan merespon Merton, mereka menyatakan bahwa peluang diferensial tidak hanya menandakan model adaptasi yang legal tetapi juga model adaptasi yang tidak legal. Seperti Sutherland, Cloward dan Ohlin menyatakan bahwa akses menuju peluang tidak legitimate seringkali terkait dengan keanggotaan di dalam atau terbukanya dengan nilai dan system keyakinan yang tidak legitimate. Subkultur mendukung sebuah atmosfir yang kondusif terhadap pembelajaran perilaku nakal. Buku Cloward dan Ohlin ini mengarah kepada identifikasi tipe gang yang berbeda. Misalnya, subkultur konflik berorientasi kepada kekerasan dan anggotanya sama dengan anggota geng remaja nakal yang dijelaskan oleh Cohen (jahat, nakal, dll). Subkultur jahat berfungsi sebagai pembelajaran bagi kegiatan penjahat professional; tipe geng seperti ini, khususnya, memiliki kesamaan dengan teori Sutherland. Di sini penjahat dewasa seringkali mengajarkan keahlian mereka (misalnya membuka kunci, menjadi penadah, dll) kepada para pemuda. Contoh lain adalah geng retrearism (bersamaan dengan garis yang dinyatakan Merton yang difokuskan pada kesenangan—biasanya melalui penggunaan obat-obatan dan alcohol—dan seringkai menyertakan perusakan property.

Sebagaimana bisa dilihat, penelitian Cloeard berfungsi sebagai bagian sintesis dari teori pembelajaran Sutherland dan teori anomie Merton dan beberapa geng dan teori-teori subkultur lain. Ketika banyak penelitian mereka berkaitan dengan perilaku geng dan peluang yang tidak legitimate, subkultur, mereka, seperti Shaw dan McKay, menerima banyak bantuan dari pemerintah dan perusahaan swasta untuk melakukan proyek pemuda masyarakat (Mobilization of Youth in New York City).

Teori-teori Cloward dan Ohlin tentang peluang diferensial dan kenakalan remaja diadopsi oleh pemerintahan John F. Kennedy “war on crime.” Tema utama yang diasosiakan dengan kata “war/perang” ini adalah perluasan dari peluang yang legitimate. Penekanan pada peluang yang sama dengan cepat dialihkan kepada mandate kebijakan nasional. Sayangnya, sebelum keefektifan perang terhadap kejahatan ini bisa dinilai, Presiden Kennedy terbunuh, dan Presiden Lyndon B. Johnson, penggantinya, memutuskan untuk beralih ke “perang terhadap kemiskinan” (yang mengalihkan sukungan atas perang terhadap kejahatan) (baca Moynihan, 1969). Karena tidak terlalu banyak didiskusikan, program perang terhadap kemiskinan segera menjadi kehilangan dukungan. Ketika penilaian akhir program ini penuh dengan kontroversi, satu hal yang pasti adalah: Jumlah uang yang dibelanjakan untuk penelitian kejahatan dan program khusus lainnya, implementasi kebijakan dan penilaian tidak parallel pada sejarah Amerika (baca Marris dan Pierre, 1973).

 

Masalah Kritik dan Kontemporer Terhadap Teori-teori Anomie, Strain dan Subkultur

Kecaman utama terhadap teori-teori ini berasal dari dua asumsi dasar:

(1) Keberadaan kultur orang tua dengan nilai dan tujuan dominan tentang dukungan dan persetujuan yang luas;

(2) Keberadaan subkultur yang menentang aspek-aspek yang berbeda dari kultur orangtua dan sifat-sifat menyimpang atau criminal.

Pertama—belum pernah ada demonstrasi empiris yang sukses tentang keberadaan seorang orang tua atau kultur inti. Pertanyaan tentang dasar fundamental dari persetujuan di dalam masyarakat adalah masalah teoritis utama tentang debat mana yang memanas. Sementara kebanyakan teori kausal tentang kejahatan yang didiskusikan terhadap poin in mengasumsikan bahwa persetujuan umum tentang yang benar dan yang salah memang ada, maka tidak semua mereka menerima keberadaan system kultur yang melekat yang digeneralisasikan tentang nilai dan keyakinan. Para ahli teori yang dibahas di Bab 9 mempertentangkan pemikiran kultur serta persetujuan moral dan menawarkan pandangan alternative.

Kedua—defenisi yang memadai tentang subkultur sebagai sebuah unit penelitian dan analisa memang kurang. Misalnya, bagaimana banyak nilai dan tipe nilai atau struktur atau organisasi atau keanggotaan apa yang berfungsi memisahkan unit-unit subkultur ini? Pertanyaan ini adalah salah satu criteria identifikasi. Walaupun banyak materi yang ditulis tentang subkultur kekerasan di antara pemuda Afrika-Amerika yang tinggal di kota yang tinggal di wilayah Selatan, hingga saat ini tidak ada bukti empiris bahwa subkultur seperti ini ada telah ditawarkan. Penjelasan terakhir tentang variasi regional dalam angka pembunuhan telah merumuskan kembali tesis subkultur kekerasan yang orisinal yang dikembangkan oleh Wolfgang dan Ferracuti dengan memberikan penekanan pada peran senjata api dalam subkultur kekerasan. Masih sedikit dukungan yang diberikan untuk tesis ini. Don Dixon dan Alan Lizotte (1987), misalnya, tidak menemukan dukungan untuk premis bahwa kepemilikan senjata api adalah sebuah karakteristik yang mendefenisikan subkultur kekerasan (p. 104). Mereka juga mendukung “keraguan tentang tesis subkultur kekerasan orang selatan karena nilai-nilai kekerasan mengindikasikan keanggotaan dalam sebuah subkultur kekerasan tidak terkait dengan wilayah ketika factor-faktor structural dikendalikan” (p. 401).

Teori-teori anomie dan subkultur dalam bentuk saat ini selanjutnya dibatasi oleh spesifikasi budaya dan gender. Misalnya, teori Merton, Cohen dan Cloward dan Ohlin menerapkan secara eksklusif ke dalam masyarakat Amerika; teori-teori ini tidak dirancang untuk menjelaskan kejahatan dan kenakalan remaja di negara industry Barat lain (baca McDonough, 1983). Lebih dari itu, teori-teori itu biasanya hanya digunakan untuk kejahatan dan kenakalan remaja yang dilakukan pria. Mengapa tingkat kejahatan untuk wanita yang melakukan kejahatan atau subkultur kekerasan yang relative rendah jarang disebutkan. Misalnya, ketika teori strain digunakan untuk menjelaskan kegiatan criminal yang dilakukan pria kelas bawah, tidak ada upaya untuk menangani pertanyaan tentang mengapa wanita kebal dari strain (kegugupan) (baca Adler, 1975; ..)

 

Box 8-1

GENG PEMUDA & “BISNIS” OBAT-OBATAN & KEJAHATAN

 

Karakter, tipe, dan sifat geng telah berubah sejak penelitian Walter Miller. Sejumlah kecil geng dan anggota geng yang beraksi selama tahun 1980-an; pembunuhan geng dan kekerasan lain umumnya tidak mematikan dan hanya melibatkan anggota geng saingan. Diskusi nasional terakhir (1988) tentang kegiatan kejahatan terorganisir oleh geng pemuda mengungkapkan beberapa hal yang sangat berbeda. Di Los Angeles sendiri, lebih dari 200 orang terbunuh dalam penembakan yang terkait dengan geng pada tahun 1987, dengan lebih dari 5000 kejahatan kekerasan terkait dengan geng di wilayah LA. Pembunuhan ini bukan kejadian tersendiri, tetapi lebih merupakan bagian dari kegiatan kejahatan terorganisir oleh geng pemuda. Pada tahun 1989, ada lebih dari 500 pembunuhan geng yang tercatat di AS (Price, 1989). Banyak geng menggunakan taktik yang sama dengan taktik kegiatan kejahatan terorganisir. Mereka menggunakan kekerasan, intimidasi, dan rasa takut untuk mendirikan perusahaan criminal, seperti penjualan obat-obatan, dan terlibat dalam pola-pola pemerasan, termasuk pencurian, pencurian dengan pemberatan (Organized Criminal Activity by Youth Gangs 1988). Komite yang membahas laporan ini menyimpulkan bahwa kejahatan dan kekerasan yang ekstensif yang dikaitkan dengan geng, khususnya penjualan obat-obatan, yang digabung dengan skop nasional tentang masalah geng, telah membuat hal ini menjadi ancaman keamanan dalam negeri yang paling serius yang dihadapi negara ini.

Apa yang belum berubah sejak analisa Miller tentang geng ini adalah bahwa tanpa melihat banyaknya geng saat ini—Afrika-Amerika (misalnya, Crips), Asian (China, Vietnam, Philipina, Jepang, dan Korea), Caucasian (misalnya, Stoner, Aryan Brotherhood), dan Hispanik (misalnya, Mexican Mafia, Nuestra Familia)—sebagian besar anggota geng dengan pengecualian beberapa geng Caucasian, berasal dari kelas yang paling bawah dan paling lemah di dalam masyarakat (Jackson dan McBride, 1989). Geng ini terus memberikan kendaraan untuk status, penerimaan, dan rasa hormat dalam dari tempat yang legitimate untuk kebutuhan. Geng telah menjadi sebuah entitas yang, menurut beberapa pihak, mengambil laih sosialisasi pemuda di pusat kota: “Geng telah menempatkan keluarga, menggantikan kerjasama, mengganti gaya hidup dan lembaga legislative dan pemerintahan di dalam masyarakat dimana lembaga-lembaga ini dan elemen-elemen social ini telah lama ditinggalkan  (OCAYG, 1988: 150).

Hingga sejauh ini, upaya teoritisoleh kriminolog seperti Cohen atau Cloward dan Ohlin masih bisa digunakan. Namun, geng ini sekarang memberikan, di banyak contoh, sebuah alat atau cara  untuk mencapai status keuangan yang akan disangkal bagi pemuda seperti ini. Gerakan cepat geng-geng ini ke dalam perdagangan obat-obatan dimulai pada pertengahan tahun 1980-an berfungsi untuk merangsang kekerasan antara kompetisi geng untuk mendapatkan wilayah obat-obatan dan juga berfungsi membawa kekerasan geng ke dalam segmen lain di masyarakat. Menurut seorang kriminolog, beberapa geng sedang berubah menuju kegiatan bisnis yang sangat rahasia yang lebih canggih dimana banyak ciri-ciri sejarah geng (warna, pakaian simbolis) tidak lagi digunakan. Mereka telah menjadi………………..

 


PERKEMBANGAN MODUS OPERANDI PERJUDIAN TOTO GELAP (TOGEL) SEBAGAI TREND PERKEMBANGAN KEJAHATAN DI MASYARAKAT

BAB  I

P E N D A H U L U A N

Latar Belakang

Kehadiran teknologi telah memberikan nuansa baru bagi kehidupan manusia yang menyentuh semua aspek kehidupan. Perkembangan teknologi memberi kemudahan bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas demi memenuhi kebutuhannya dan melakukan interaksi dengan manusia lainnya dimana pun berada. Teknologi selain membawa keuntungan seperti memberi kemudahan bagi masyarakat untuk melakukan aktivitasnya, juga menimbulkan kerugian-kerugian seperti maraknya kejahatan-kejahatan yang memanfaatkan kecanggihan teknologi.

Perkembangan teknologi merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan kejahatan, sedangkan kejahatan itu sendiri telah ada dan muncul sejak permulaan zaman  sampai sekarang dan teori ethicalmasa yang akan datang. Bentuk-bentuk kejahatan yang adapun semakin hari semakin bervariasi. Kejahatan sebenarnya tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, tidak ada kejahatan tanpa masyarakat. Betapapun kita mengetahui banyak tentang berbagai faktor kejahatan yang ada dalam masyarakat, namun yang pasti adalah bahwa kejahatan merupakan salah satu bentuk perilaku manusia yang terus mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan masyarakat itu sendiri.

Kejahatan merupakan perbuatan antisosial, tidak hanya terdapat pada masyarakat yang sedang berkemang, tetapi ada pula dalam masyarakat yang telah maju tentunya dengan peralatan dan modus operandi yang lebih canggih. Kecanggihan teknologi seperti Hand Phone misalnya telah memberikan kemudahan-kemudahan dalam membantu pekerjaan manusia terutama dalam kecepatan penyampaian informasi.  Saat ini kecanggihan teknologi hand phone banyak disalahgunakan oleh oknum masyarakat untuk melakukan kejahatan. Salah satu kejahatan yang dilakukan dengan menggunakan kecanggihan hand phone adalah Perjudian Toto Gelap. Perjudian Toto Gelap yang lazim disebut Togel bagi sebagian besar masyarakat, Denpasar Bali misalnya, saat ini bukanlah merupakan hal yang baru tetapi sudah ada sejak dulu. Yang menjadi pertanyaan “apakah perjudian toto gelap yang beredar saat ini dimasyarakat merupakan trend perkembangan kejahatan”. Pertanyaan tersebut akan penulis bahas dalam ulasan tulisan berikut dibawah ini.

BAB II 

PERMASALAHAN

Perjudian Toto Gelap (Togel)  sudah ada sejak jaman dahulu. Cara atau modus operandi yang digunakan masih sangat sederhana (konvensional) yaitu dengan menggunakan fasilitas buku tafsir mimpi, lembar paito (angka-angka rumus), buku catatan pemasang dan alat tulis atau kupon togel. Pelaku penjual togel mendatangi langsung para penggemar togel, pembayaran pemasangan angka togel langsung dilakukan saat itu juga. Dengan modus yang sederhana sedemikian rupa pengungkapannya pun lebih mudah karena bukti-bukti permulaan sudah ada. Saat ini seiring dengan kemajuan teknologi dan peradaban manusia, perkembangan modus perjudian togel pun tidak mau melewatkan kecanggihan teknologi tersebut. Para pelaku togel (pengecer) menjual angka-angka togel dengan modus operandi menggunakan pesan singkat (SMS) melalui handphone kepada pembeli, atau pembeli memesan angka-angka togel melalui sms kepada penjual togel tanpa harus bertemu antar pembeli dan penjual. Pembayarannya dapat dilakukan pada waktu berikutnya. Pesan yang diterima oleh pelaku togel ditingkat pengecer langsung ditransfer ke pelaku yang tingkatannya lebih tinggi (pengepul) melalui sms. Mereka tidak pernah melaksanakan transaksi langsung. Ibarat jaringan terputus seperti jaringan narkoba. Dengan modus operandi menggunakan sms bukti-bukti pemasangan mudah dihapus. Kondisi seperti ini menyulitkan aparat penegak hukum Polri untuk melakukan pengungkapan secara tuntas perjudian toto gelap ini. Beranjak dari latar belakang dan permasalahan tersebut, pokok permasalahan dalam penulisan ini”Apakah perkembangan modus operandi perjudian toto gelap merupakan trend perkembangan kejahatan dalam masyarakat ?”

Dari pokok permasalahan tersebut, penulis mencoba untuk merumuskan kedalam sub-sub permasalahan sebagai berikut :

1)          Bagaimana perkembangan modus operandi perjudian toto gelap yang beredar dalam masyarakat?

2)          Apa faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat melakukan perjudian toto gelap ?

3)          Apa kendala yang dihadapi aparat penegak hukum Polri dalam melakukan pemberantasan perjudian toto gelap ?

BAB III

TEORI DAN KONSEP, FAKTA-FAKTA

TEORI DAN KONSEP

1.         Strain Theory

Menurut Robert K. Merton, di dalam suatu masyarakat yang berorientasi kelas, kesempatan untuk menjadi yang teratas tidaklah dibagikan secara merata. Sangat sedikit anggota kelas bawah mencapainya. Teori Anomi dari Merton menekankan pentingnya dua unsur penting di setiap masyarakat, yaitu: (1) cultural aspiration atau cultural goals yang diyakini berharga untuk diperjuangkan; dan (2) institutionalised means atau accepted ways untuk mencapai tujuan itu. Jika suatu masyarakat stabil, dua unsur ini akan terintegrasi; dengan kata lain sarana harus ada bagi setiap individu guna mencapai tujuan-tujuan yang berharga bagi mereka. Disparity between goals and means fosters frustration, which leads to strain.  Berdasarkan perspektif di atas, struktur sosial merupakan akar dari masalah kejahatan (karena itu kadang-kadang pendekatan ini disebut a structural axplanation). Strain teori ini berasumsi bahwa orang itu taat  hukum, tetapi di bawah tekanan besar mereka akan melakukan kejahatan; disparitas antara tujuan dan sarana inilah yang memberi tekanan tadi[1].

2.         Teori Ethical Egoism, Teori ini hanya melihat diri pelaku sendiri, yang mengajarkan bahwa benar atau salah dari suatu perbuatan yang dilakukan seseorang, diukur dari apakah hal tersebut mempunyai dampak yang baik atau buruk terhadap orang itu sendiri. Apa dampak perbuatan tersebut bagi orang lain, tidak relevan, kecuali jika akibat terhadap orang lain tersebut akan mengubah dampak terhadap pelaku yang bersangkutan[2].

3.         Konsep hukum Prof. Dr. Soerjono Soekanto, SH., M.A. tentang faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum meliputi faktor hukumnya, faktor penegak hukum yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum, faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum, faktor masyarakat, dan faktor kebudayaan[3]

FAKTA-FAKTA

Trend perkembangan Modus Operandi peredaran judi toto gelap dimasyarakat sebelum tahun 2000 dan sesudah tahun 2000 (uji petik di Polsek Denpasar Barat Polresta Denpasar Bali)

No

Tahun

Modus Operandi

pelaku

Tingkat keberhasilan pengungkapan

1. Sebelum tahun 2000 –     menggunakan kupon angka pasangan berkedok undian sosial-     dicatat dalam buku rekapan

–     dijual dor to dor

–     pembayaran pd saat membeli angka

–     (bersifat konvensional)

–     Pengundian kupon dilaksanakan seminggu 1x

–   Pada umumnya laki-laki-   Tidak memiliki matapencaharian tetap

 

Lebih mudah karena bukti-bukti masih ada saat tertangkap tangan dan lebih mudah mengungkap jaringannya.
2. Setelah tahun 2000 –     Menggunakan pesan singkat (sms) melalui HP-     Pembayaran dpt dilakukan pd wkt berikutnya (hari lain sesuai kesepakatan)

–     Memanfaatkan kecanggihan teknologi

–     Pengundian dilaksanakan hampir setiap hari (kecuali selasa dan jumat)

–   Laki-laki dan perempuan-   Menyambi menjual togel (PNS, pedagang, petani, buruh, ibu rumah tangga, dll) –     Lebih sulit karena bukti mudah dihapus-     jaringan terputus

 

BAB IV

PEMBAHASAN

1.         Perkembangan modus operandi perjudian toto gelap yang beredar dalam masyarakat.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut diatas bahwa peredaran perjudian toto gelap di kalangan masyarakat sudah ada sejak dulu, kala itu perjudian toto gelap masih berkedok kupon undian sumbangan sosial berhadiah. Para pelaku penjual kupon toto gelap menjual kupon dengan cara mendatangi langsung pembeli angka-angka tafsir mimpi baik di rumahnya maupun ditempat-tempat berkumpul lainnya. Bila ada pembeli angka yang membeli kupon angka kemudian dicatat dalam buku rekapan. Bila angka-angka sudah terkumpul kemudian direkap selanjutnya disetorkan kepada bosnya (atasan pengecer disebut pengepul). Cara yang digunakan (modus operandi) masih sangat sederhana atau konvensional. Kala itu pelaku penjual toto gelap pada umumnya dilakukan oleh seorang laki-laki yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

Seiring dengan perkembangan jaman dan peradaban manusia, saat ini dunia serba modern dan canggih. Perjudian toto gelap pun modusnya mengikuti perkembangan jaman. Saat ini modus operandi perjudian toto gelap yang digelar adalah menggunakan sarana yang lebih canggih yaitu menggunakan sarana handphone. Angka-angka dipesan oleh pembeli melalui pesan singkat (SMS) kepada penjual. Para pembeli dan penjual tidak bertemu langsung saat transaksi. Pembayarannya dapat dilakukan waktu berikutnya sesuai kesepakatan antara penjual dan pembeli. Pelakunya tidak hanya laki-laki saja tetapi kaum perempuan pun saat ini ikut menjalankan aktivitas tersebut. Mereka (para pelaku penjual togel) tahu bahwa perbuatannya itu merupakan pelanggaran hukum. Tetapi karena aktivitas menjual togel tersebut dapat mendatangkan untung yang besar dan cepat, para pelaku tidak peduli dengan ancaman hukum yang ada. Bahkan ada yang pernah keluar masuk penjara dalam kasus yang sama mengulangi perbuatan yang sama.  Tetapi pelaku tidak jera dengan perbuatannya. Hal ini disebabkan oleh faktor pendorong yang menyebabkan pelaku mengulangi perbuatannya. Hasil pemeriksaan dalam BAP pelaku bahwa keuntungan yang pelaku peroleh dari menjual togel untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bila dilihat dari perbandingan fakta tersebut diatas menurut pandangan penulis bahwa “modus operandi perjudian togel mengalami trend perkembangan kejahatan di masyarakat”. Bila dikaji dengan pendekatan teori Starin dari Robert K. Merton, yang dikutif oleh Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa yang intinya bahwa pada dasarnya masyarakat penggemar perjudian togel terutama pelaku penjual adalah masyarakat yang patuh hukum. Mereka tidak mau melakukan suatu perbuatan yang melanggar hukum. Mereka tahu jika mereka melakukan pelanggaran hukum, maka mereka akan terkena sanksi hukum itu sendiri. Namun karena kondisi yang mendesak akibat kebutuhan hidup sehari-hari yang harus dipenuhi, sementara kesempatan untuk berusaha yang legal tidak ada peluang/kesempatan atau tidak memungkinkan sehingga mereka terpaksa melakukan perbuatan yang menyimpang. Dalam kasus ini, kondisi masyarakat berada dalam posisi yang tidak stabil dimana tidak ada keseimbangan antara tujuan dengan sarana yang ada. Dalam artian bahwa masyarakat menginginkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari yaitu pekerjaan yang dapat menjamin kelangsungan hidupnya secara berkesinambungan, tetapi lapangan pekerjaan itu tidak mencukupi untuk semua masyarakat yang ada sehingga terjadilah penyimpangan yang terpaksa. Keadaanlah yang memaksa masyarakat melakukan penyimpangan tersebut.

Dalam hukum bisnis perbuatan yang dilakukan oleh pelaku penjual togel dapat diasumsikan sebagai Ethical Egoism, perbuatannya hanya melihat diri pelaku sendiri, yang mengajarkan bahwa benar atau salah dari suatu perbuatan yang dilakukan seseorang, diukur dari apakah hal tersebut mempunyai dampak yang baik atau buruk terhadap orang itu sendiri. Apa dampak perbuatan tersebut bagi orang lain, tidak relevan, kecuali jika akibat terhadap orang lain tersebut akan mengubah dampak terhadap pelaku yang bersangkutan. Bahwa perbuatan yang dilakukan oleh pelaku penjual togel tersebut menimbulkan dampak hukum terhadap dirinya sendiri.

2.         Faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat melakukan perjudian toto gelap.

Dari hasil penelusuran bahwa aktivitas penjualan togel  merupakan aktivitas bisnis yang menguntungkan. Kenapa dikatakan demikian karena para pelaku tanpa modal mereka sudah mendapatkan keuntungan 30 % dari omset penjualan. Contoh seorang pelaku penjual togel yang omsetnya setiap hari mencapai 1 juta rupiah, 30 % dari 1 juta rupiah tersebut sudah menjadi haknya pelaku. Itu salah satu faktor yang mempengaruhi sebagian masyarakat tergiur ingin menekuni bisnis penjualan togel. Termasuk masyarakat yang sudah memiliki pekerjaan tetap seperti PNS, pedagang, petani ikut tergiur melihat keuntungan dari penjualan togel. Padahal itu merupakan perbuatan yang melanggar hukum.

Faktor lain yang menyebabkan masyarakat tidak takut menekuni bisnis penjualan togel adalah vonis hukuman yang dijatuhkan hakim sangatlah ringan. Rata-rata kasus yang sudah divonis para pelaku penjual togel divonis berkisar 3 – 4 bulan penjara. Padahal ancaman hukum bagi para pelaku perjudian sudah diatur dalam pasal 303 KUHP dengan ancaman hukum 10 tahun penjara. Rendahnya vonis hakim tersebut tidak menimbulkan efek jera bagi para pelaku penjual togel sehingga mereka ingin mengulangi dan mengulangi lagi perbuatannya.

Disamping faktor tersebut masih ada faktor pendukung yang mempengaruhi masyarakat menjalankan bisnis togel ini yaitu masih ada masyarakat yang gemar membeli angka-angka tafsir mimpi tersebut. Masyarakat penggemar angka yang disebut pembeli, juga berharap ingin mendapatkan keuntungan dari pemasangan angka tersebut. Dalam arti kata lain bahwa sebagian masyarakat melegalkan perbuatan perjudian togel tersebut.

Dari uraian faktor-faktor yang mempengaruhi bila dikaji dengan konsep yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Soerjono Soekanto, SH., M.A. tentang faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum meliputi faktor hukumnya bahwa masih beredarnya perjudian togel dalam masyarakat karena asas-asa hukum yang ada dalam undang-undang belum dilaksanakan secara maksimal, faktor penegak hukum yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum yaitu vonis hakim yang terlalu ringan tidak memberi efek jera kepada pelaku, faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum, faktor masyarakat yaitu masih ada sebagian masyarakat yang mempunyai harapan mendapatkan keuntungan mudah dan cepat dengan cara membeli nomor togel, dan faktor kebudayaan yaitu hukum pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang mendasari hukum yang berlaku, nilai yang merupakan konsepsi-konsepsi abstrak apa yang dianggap baik dan buruk. Sebagian masyarakat terutama pelaku penjual togel menganggap nilai-nilai tersebut sudah tidak berlaku sehingga mereka menganggap perbuatan menjual togel merupakan perbuatan yang dilegalkan oleh sebagian masyarakat.

3.         Kendala yang dihadapi aparat penegak hukum Polri dalam melakukan pemberantasan perjudian toto gelap.

Saat ini untuk dapat mengungkap tuntas perjudian togel dengan modus operandi menggunakan sms memang sebuah tantangan yang cukup sulit. Selain buktinya sulit didapat karena gampang dihapus, sebagian dari penyidik ada yang belum memiliki kemampuan memanfaatkan kecanggihan alat yang digunakan pelaku. Pelaku yang sudah tertangkap tidak mau menyebutkan siapa bosnya (pengepulnya) dengan dalih tidak kenal dan tidak pernah bertemu. Penyidik sudah melakukan upaya pengungkapan dengan menggunakan kecanggihan teknologi yaitu melalui cyber, tetap saja belum dapat mengungkap tuntas. Karena kartu yang digunakan oleh pelaku identitasnya tidak jelas saat registrasi. Hal ini memang masih menjadi tantangan bagi penyidik untuk dapat mengungkap tuntas perjudian toto gelap yang sampai saat ini masih ada di masyarakat.

Untuk mencegah perjudian toto gelap (togel) tidak terus berkembang menjadi trend kejahatan, harus dipahami bahwa penanganan masalah perjudian dalam bentuk apapun dan dimanapun harus ada komitmen bersama antar penegak hukum untuk menciptakan efek jera. Selain itu perlu ada kontrol sosial dari masyarakat itu sendiri untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa perbuatan perjudian tersebut merupakan perbuatan yang melanggar hukum dan akan menimbulkan dampak sosial yang negatif yaitu masyarakat menjadi malas dan akan terus berhayal yang tidak pasti.

BAB IV

PENUTUP

1.     Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan tentang perkembangan modus operandi perjudian toto gelap (togel) merupakan trend perkembangan kejahatan di masyarakat di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut:

a)      Bahwa modus operandi perjudian toto gelap yang sudah ada sejak dulu sampai sekarang merupakan trend perkembangan kejahatan. Karena modus operandi yang digunakan mengalami perkembangan seiring perkembangan peradaban manusia. Jika dulu modusnya masih sangat konvensional dengan menulis manual dalam sebuah catatan sehingga pengungkapannya lebih mudah karena bukti-bukti masih ada pada pelaku. Sedangkan sekarang pengungkapannya lebih sulit karena sudah memanfaatkan kecanggihan perkembangan teknologi melalui pesan singkat (sms) menggunajan sarana HP dimana bukti-bukti gampang dihapus.

b)     Bahwa Faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat melakukan perjudian toto gelap adanya harapan keuntungan yang diperoleh dari bisnis tersebut baik sebagai penjual maupun pembeli. Selain itu rendahnya vonis hakim tidak dapat menimbulkan efek jera bagi pelaku.

c)      Bahwa kendala yang dihadapi penyidik Polri dalam mengungkap perjudian toto gelap yang menggunapan fasilitas handphone adalah minimnya alat bukti yang didapat dari pelaku karena bukti gampang dihapus. Selain itu masih ada penyidik yang belum bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi alat yang digunakan pelaku.

2      Saran

a)      Untuk mencegah berkembangnya modus operandi perjudian togel menjdi trend perkembangan kejahatan di masyarakat harus ada komitmen moral dalam masyarakat bahwa perbuatan perjudian itu adalah melanggar hukum dan perlu ada sanksi sosial dari masyarakat itu sendiri sebagai sarana kontrol sosial.

b)     Untuk  dapat menimbulkan efek jera bagi para pelaku perjudian togel, hakim dalam menjatuhkan vonis kepada pelaku kiranya mempedomani peraturan yang sudah ada, jangan membuat polecy yang tidak populer yang berimplikasi pada timbulnya dampak sosial yang negatif dalam masyarakat.

c)      Untuk dapat mengungkap tuntas pelaku perjudian togel dalam masyarakat, Polri harus meningkatkan sumber daya manusia melalui pelatihan-pelatihan yang lebih spesifik untuk dapat mengikuti trend perkembangan Informasi dan Teknologi. Dengan kata lain bahwa yang perlu dibenahi adalah aspek instrumental yang meliputi filosofi dan doktrin kepolisian, kompetensi, kemampuan dan iptek yang diperlukan untuk mampu memberi perlindungan (to protect) dan pelayanan (to serve) kepada masyarakat sehingga kita tidak menjadi polisi yang keder, tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi jadilah Polri yang mengedepankan profesionalisme yang memiliki keahlian yang didasarkan atas pendidikan atau pelatihan jangka panjang untuk dapat mengimbangi trend perkembangan kejahatan. Disamping itu pelaksanaan tugas penyidikan juga harus didukung dengan kecanggihan alat yang dimiliki untuk dapat mendeteksi trend perkembangan kejahatan yang berkembang dalam masyarakat.