PENDAHULUAN

Konflik mengandung banyak penafsiran seperti : pertentangan, permusuhan, benturan, kekerasan, ketegangan yg konotasinya negatif  konflik memiliki dua sisi pengertian : 1) positif, jika konflik mendorong ke arah terjadinya perubahan yg menuju ke arah perbaikan; 2) negatif, jika konflik mengarah pada perbedaan pendapat yg disertai dg pertentangan utk menyingkirkan kelompok yg lain.  Sebagai contoh seperti bentrokan antara dua pihak yang terjadi diclub blowfish, city plaza, komleks wisma mulia, jakarta selatan di klub blowfish. Sebagai akibatnya dari konflik tersebut , sekitar club blowfish mengalami rusak berat, kaca-kaca pecah dan banyak property yang berserakan. Tidak hanya kerugian property tetapi terdapat 3 orang korban dengan 1 orang diantaranya meninggal dunia, korban tewas bernama m soleh alias sony (27) yang beralamat di titin indah blok l 4, bekasi, sedangkan korban luka berat atas nama boy (40) dan nuh (35).

Konflik yang terjadi  semula hanyalah akibat kesalah pahaman antara petugas keamanan/ security diskotik Blowfish dengan salah seorang pengunjung, namun akhirnya konflik berkembang menjadi perang dan kekerasan terbuka antara kelompok yang mengidentifikasikan diri dan kelompoknya  sebagai Flores  dan Ambon dilihat dari asal dan kelahiran dari masing masing anggota kelompok yang bertikai.

“Perang”antar kelompok atau dalam  bahasa umum dikenal sebagai perang  Gang , sesungguhnya bukan merupakan hal baru di Indonesia, apalagi di Jakarta sebagai sebuah kota metropolitan yang makin sesak dengan penduduk dan tingkat kesejahteraan yang juga belum merata.Sejarah perang antar Gang digambarkan secara mendetail melalui penelitian oleh Maruli Simanjuntak di tahun 2007, bahwa fenomena kelompok preman dan Gang mulai berkembang di Jakarta dan khususnya Blok M sekitar tahun 60an , Organisasi Preman Flores  merupakan panggilan tidak resmi kepada kelompok pemuda asal kelahiran flores yang datang ke Jakarta pada untuk mencari pekerjaan dan penghidupan lebih baik, namun seiring dengan tekanan hidup dan keterbatasan  sumberdaya manusia dan modal beberapa pemuda asal Flores yang tidak beruntung mengadu nasib di Jakarta memilih berkumpul sesama pemuda lainnya untuk mendapatkan penghidupan di Jakarta, beberapa pemuda yang memilih  bekerja di sektor informal ini umumnya memulai dengankegiatan jasa penagih hutang ( Debt Collector), Jasa pengawalan( Body Guard) , Jasa keamanan , jasa pembebasan lahan, Jasa tenaga unjuk rasa, Jual beli lapak, Jasa perantara jual beli Narkoba, pada umumnya  organisasi  preman dan Gang ini  selalu melibatkan  setiap kegiatan yang menghasilkan uang.

Fenomena yang sama juga ditemukan dalam kelompok preman Ambon atau Gang Ambon , walaupun pernah terjadi Konflik komunal di Ambon , namun soliditas antar pemuda kelahiran Ambon yang datang ke Jakarta untuk mengadu nasib  tetap terpelihara, sejarah terulang kembali kepada mereka yang tidak berhasil  hidup diJakarta dengan tata cara hidup yang sebenar dan selayaknya, bentuk kegiatan organisasi Preman Ambon juga tidak berbeda jauh dengan kelompok preman asal Flores , sektor pekerjaan yang melibatkan kekerasan dan kekuatan selalu menjadi warna sehari hari  dalam mencari penghidupan[1].

ANATOMI KASUS

Kasus Blowfish, Tokoh Maluku & Flores BertemuMereka akan mencari solusi atas bentrokan massa terkait kasus Blowfish.[2]

Kamis, 30 September 2010, 17:52 WIB, Eko Priliawito, Mohammad Adam , (VIVAnews/ Tri Saputro), BERITA TERKAIT

VIVAnews – Perwakilan tokoh masyarakat Maluku dan NTT yang tergabung dalam Persatuan Indonesia Timur mengadakan pertemuan dengan pimpinan DPD RI. Mereka akan mencari solusi atas bentrokan massa terkait kasus Blowfish.

“Pertemuan ini untuk mencari solusi, nanti akan ada pertemuan susulan untuk menciptakan perdamaian di antara saudara-saudara yang bertikai,” kata Wakil Ketua DPD Laode Ida dalam pertemuan tersebut, di Gedung Parlemen, Jakarta, Kamis 30 September 2010.

Laode menengarai aparat polisi terkesan sengaja membiarkan bentrokan itu terjadi dan lamban bertindak meski potensi bentrokan sudah terlihat. “Mereka (polisi) lamban bertindak,” kata Laode.

Dalam kesempatan yang sama, tokoh perwakilan Flores, Zakaria, menjelaskan bahwa sebenarnya perselisihan muncul lantaran rebutan lahan bisnis jasa pengamanan di Jakarta. Masyarakat urbanisasi ke ibukota pun lantaran mereka ingin meningkatkan kesejahteraan.

“Kami dari NTT meminta supaya bisa diakhiri konflik yang terjadi di pengadilan kemarin. Kita harus berpikir strategis bagaimana memberdayakan kelompok-kelompok ini karena akar masalah sebenarnya adalah kesejahteraan,” kata Zakaria.

Senada dengan Zakaria, Anggota DPD dari Maluku Jack Osdara, menyatakan bahwa ketimpangan pembangunan antara wilayah barat dan timur menyebabkan gelombang urbanisasi warga ke Jakarta untuk menyambung hidup.

“Akarnya adalah pembangunan timur barat tidk memadai. Kami dari DPD berjuang agar ada kue keadilan di timur Indonesia. Ini ekses, Jangan sampai kita diperalat, diadu domba,” kata Jack.

Oleh karena itu, kata Laode, DPD berinisatif mengundang tokoh-tokoh perwakilan masyarakat NTT dan Maluku untuk cari solusi bersama sehingga tak terulang lagi kejadian serupa di masa mendatang.  AKan ada pertemuan susulan untuk mencari solusi bersama tersebut.

“Yang bertikai sudah selesai dan diserahkan ke proses hukum, itu langkah awal, lalu konsolidasi tokoh-tokoh yang di Jakarta,” kata Laode. (sj)  VIVAnews

 

KONSEP DAN TEORI LOWER CLASS DAN KONFLIK

Konflik adalah sebuah pertikaian atau perselisihan yang terjadi pada individu atau kelompok masyarakat dengan individu atau kelompok lainnya.  Konflik ada beberapa macam, salah satunya menurut Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam : konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role), konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank) ,konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa) dan terakhir adalah konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara).

Seperti yang dijelaskan dalam fenomena organisasi preman dan Gang dijakarta ( Maruli:2007) bahwa kumpulan pemuda dari berbagai asal daerah  yang tidak berhasil hidup secara wajar dan layak dalam tata kehidupan masyarakat  lainnya memilih berkumpul dan melakukan aktifitas secara bersama sama dengan ikatan Primodial sebagai dasar soliditas, cerita cerita tentang mudahnya bekerja dan adanya kebiasaan membawa teman sekampung halaman untuk datang ke  Jakarta menjadi daya tarik dan menumbuh kembangkan fenomena Gang primordial di Jakarta, beberapa faktor terkait soliditas  kelompok Primordial yang bekerja dalam konteks menggunakan kekerasan dan intimidasi sebagai main job kelompok Preman dapat dijelaskan melalui pandangan dasar dasar perilaku kelompok ( Suwarto:1999) bahwa kebutuhan Individu  untuk membentuk suatu kelompok  baik formal maupun Informal adalah karena adanya alsan  menyangkut Keamanan diri di perantauan , Pengharagaan diri, Pertalian dan kekerabatan, kekuasaan dan Prestasi atau keuntungan.[3]

FX Suwarto juga menjelaskan bahwa  terkait alasan pemuasan kebutuhan sebagai motivasi kuat yang menjurus  pada pembentukan  kelompok sebab sebagian  besar karyawan/ Individu sampai tingkat tertentu dapat memenuhi kebutuhannya dengan berafiliasi dalam kelompok  untuk memenuhi :1. Rasa Keamanan ; dengan bergabung dalam suatu kelompok individu dapat mengurangi tekanan rasa ketidak amanan dirinya sendiri, orang orang merasa lebih kuat  dan tahan terhadap ancaman bila mereka merupakan bagian dari suatu kelompok. 2. Status; Kelompok akan dipandang penting oleh orang orang lain  dan memberikan pengakuan , apalagi didukung penggunaan kekuatan dankekuasaan yang dimiliki oleh suatu kelompok. 3.Penghargaan diri; selain memberikan sebuah status baru , kelompok juga akan memeberikan perasan berharga yang meningkat kepada anggota kelompok itu sendiri.4. Pertalian ; Kelompok dapat memenuhi kebutuhan  sosial. Orang-orang yang berinteraksi dalamkelompok akan memperoleh akses terhadap pemenuhan kebutuhan.5.Kekuasaan; apa yang tidak dapat diraih perorangan, kemungkin akan tercapai bila dilakukan secara berkelompok. 6. Prestasi Baik; Kebutuhan eksistensi berdasakan bakat dan kemampuan akan berkembang dalam ikatan kelompok.

Alasan Tujuan kelompok  yang dipahami secara seksama  dapat menjelaskan mengapa individu mau bergabung membentuk suatu kelompok, dilihat dalam hal fenomena Kelompok Preman dan Gang , bahwa tujuan kelompok tersebut berdiri adalah untuk mencari keuntungan material sekaligus memberikan wadah bagi mereka yang secara harafiah gagal beradaptasi dalam tata kehidupan masyarakat sebagai mana mestinya karena akibat keterbatasan Sumber daya manusia, taraf pendidikan dan modal yang menjauhkan mereka dari akses akses ekonomi.

Kemanfaatan ekonomi sebagai landasan yang mendorong sekelompok pemuda dari suku yang  sama  membentuk sutau kelompok / organisasi karena bagaimanapun bila pekerjaan yang khususnya terkait dengan kekerasan bahkan bertentangan dengan hukum akan lebih menguntungkan dan menghasilkan bila dilakukan secara bersam sama.

Beberapa  faktor yang dapat dijadikan pedoman dalam  melakukan analisa terhadap konflik dan kekerasan antar individu maupun kelompok adalah pertama adanya fakta terdapat perbedaan dari tiap  individu yang juga membentuk kelompok, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap manusia adalah individu yang unik, artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Kedua Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya Ketiga adanya perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.Keempat adalah adanya perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Kelima adanya perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial.

Ketika dua atau lebih kelompok Preman berada dalam suatu kawasan adalah suatu keniscayaan akan sseringkali terjadi perang dalam rangka memperebutkan lahan dan kekuasaan[4], Tulisan Maruli Simanjuntak dalam buku Preman-preman Jakarta  juga mengutip penjelasan Parsudi Suparlan dalam menjelaskan pendapat Dahrendorf (1959), mengatakan bahwa konflik merupakan sesuatu yang endemik dalam masyarakat sehingga akan selalu ada dalam kehidupan bermasyarakat, tinggal bagaimana konflik tersebut dibangun dan diselesaikan, tampaknya bagi kelompok preman , bahasa kekuatan dan kekerasan masih menjadi dominan manakala konflik terjadi akibat persaingan, perebutan dan penguasaan lahan dan kawasan  kerja mereka.

ANALISA KASUS BERDASAR TEORI LOWER CLASS

Kasus Blowfish yang terjadi di Ampera pada dasarnya diawali dari permasalahan pribadi, yaitu dimana ada pengunjung klub yang cukup elite di Plaza City, Jakarta Selatan yang dipukul dan dikeroyok oleh petugas keamanan klub tersebut. Dari permasalahan tersebut meluas dan berkembang menjadi konflik yang terjadi antar suku, yaitu suku ambon dan flores selain itu kemungkinan dari permasalahan tersebut diakibatkan karena perebutan wilayah kekuasaan oleh kelompok-kelompok tersebut[5].

Salah satu premis dalam  teori Lower Class yang digagas oleh Miller menyebutkan bahwa umumnya kelompok Preman sebagai perwujudan dari kelompok kelas bawah ( lower Class) memiliki kecenderungan untuk  dekat dengan masalah/Trouble (kesulitan), yaitu orang gemar mencari gara-gara atau keributan sebagai upaya dalam perluasan atau mempertahankan hegemoni dan kekuasaan yang dimiliki, pertarungan  orang perorang maupun kelompok merupakanhal lumrah, modus mendatangi suatu lokasi ( lahan parkir, klab malam maupun lapak lapak pedagang kaki 5 ) yang sebelumnya dikenal telah dikuasai sebuah kelompok, dapat dengan serta merta beralih kepemilikan , tuan dan segenap keuntungan finasial kepada kelompok lain yang berhasil mengusir ( bahkan dengan cara paksa ) kepemilikan lahan dari lawan yang berhasil dikalahkan dalam pertarungan.

Dalam insiden tersebut terdapat korban tewas sebanyak tiga orang yang diakibatkan karena terluka akibat sabetan senjata tajam, tusukan panah dan tertembak senjata api. Kasus pertikaian tersebut tidak saja terjadi pada awal bermulanya keributan, tetapi berlajut sampat pada persidangan dan paska dilakukannya persidangan yang terjadi tidak hanya tindakan saling menyerang antar kelompok tetapi juga disertai perusakan terhadap fasilitas umum yang ada dan tindakan anarkis yang menggangu ketertiban masyarakat disekitarnya.

Konsepsi “ kami dan mereka “ dalam konflik antara kelompok preman Ambon dan Flores  pada peristiwa di Blowfisf,  dilihat dari pendekatan teori Lower Class Structure menurut Miller adalah Fate/(nasib), anggota kelompok Gang preman merasa sudah ditakdirkan  hidup seperti itu (bergelut dengan kekerasan/kejahatan), tidak ada usaha untuk merubah, sebagai  sesama  bagian dari masyarakat yang merupakan kaum  bawah / marginal , ketika tuntutan hidup mengharuskan cara cara kekerasan sebagai salah satu  upaya yang paling rasional untuk bertahan , maka  bahasa kekerasan sebagai bagian takdir yang harus dijalani oleh segenap anggota kelompok Gang Preman agar  eksistensi dan kekuasaan terkait keuntungan ekonomi dari  masing masing kelompok senantiasa terjaga.

KESIMPULAN

  1. Bahwa  Tekanan hidup mengharuskan perantau yang datang ke jakarta memperjuangkan segala daya upaya yang dianggap mungkin , termasuk melakukan kejahatan dan kekerasa.
  2. Dalam  menjalani hidup yang keras di perantauan, adalah suatu  tindakan rasional untuk membentuk kelompok atau bergabung dengan kelompok yang memiliki kesamaan kepentingan, asal dan kelahiran , termasuk budaya , bahasa dan adat agar memperoleh kekuatan yang lebih baik, perlindungan serta bantuan manakala kesulitan senantiasa menghadang di tempat merantau.
  3. Terbentuknya kelompok kelompok preman sebagai wujud  adanya kebersamaan atas dasar kesamaan , membutuhkan daerah dan kawasan sebagai lahan kehidupan , dimana hal ini juga berarti akan menimbulkan konflik antar kelompok.
  4. Konflik antar kelompok ketika  memperebutkan lahan dan kuasa  merupakan perwujudan dari  kegemaran menyerempet bahaya / trouble maupun  kewajiban menjalani  nasib / fate sebagai bagian dari masyarakat kelas bawah yang menghasuskan menggunakan bahasa kekerasan agar senantiasa  dapat bertahan hidup sekaligus sebagai bagian dari sebuah kelompok preman.


[1] Maruli CC Simanjuntak, Preman Preman  Jakarta, jakarta 2007.halaman 173.

[3] FX Suwarto,Drs, Ms.,Perolaku Keorganisasian, penerbit Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 1999, halaman 129.

Maruli CC Simanjuntak, Preman Preman  Jakarta, jakarta 2007.halaman 91

Iklan