ANALISIS SUB BUDAYA KEKERASAN DALAM KELOMPOK GANG REMAJA BERDASARKAN TIPOLOGI WALTER MILLER

Suatu  kelompok dikatakan sebagai sebuah gang, ketika gang  itu muncul  untuk mendapatkan  keuntungan  dari  aktivitas  kriminal  yang dilakukan  oleh  anggota-anggota  didalamnya  secara berkesinambungan. Beberapa unsur kejahatan harus muncul sebagai ciri khasnya untuk dapat didefinisikan sebagai gang. Suatu kelompok tidak  dapat  secara  sederhana  didefinisikan sebagai gang  hanya karena kelompok  tersebut diberi  label menyimpang. Suatu kelompok menjadi gang jika  kelompok  tersebut  secara  nyata terlibat dalam kejahatan.

Sebuah kelompok dapat didefinisikan  sebagai  geng hanya bila anggota-anggota  didalamnya  melakukan  kejahatan  dan  mengambil keuntungan dari padanya. terdapat  perbedaan  antara  bagian  struktur sosial yang satu dengan yang lain dalam tipe adaptasi terhadap cara-cara ilegal yang tersedia bagi seseorang dalam mencari penyelesaian masalah-masalah  yang  muncul  sebagai  akibat  terbatasnya penggunaan  cara-cara  yang  legal  dalam  mencapai  tujuan budaya. Dalam pengertian  ini, individu berada dalam dua  jenis  struktur  kesempatan,  satu  legal  yang  lainnya  tidak  legal. Keterbatasan untuk mencapai tujuan budaya dengan cara yang legal, respon  yang muncul  dan  para  delinkuen  itu mungkin  saja  bervariasi sesuai dari variasi penggunaan cara-cara ilegal.

Sub  budaya  kriminal  dapat  berkernbang di lingkungan  ketetanggaan  yang  dicirikan  oleh  adanya  keterikatan yang erat diantara pelanggar dan berbagai  tingkatan usia dari antara elemen-elemen  kriminal  dan  konvensional. Sebagai  konsekuensi  dan hubungan  integratif  ini  muncul  struktur  kesempatan  baru  yang menyediakan  jalan  alternatif  mencapai  kesuksesan.  Hal  ini disebabkan  tekanan  yang  dihasilkan  oleh  akses  penggunaan  cara-cara  yang  sah  untuk mencapai  kesuksesan  terputus.  Kontrol  sosial atas perilaku pemuda  secara efektif diterapkan, adanya pembatasan perilaku  ekspresif  dan  pemaksaan  pengadopsian  instrumen  tersebut menyebabkan  ketidakpuasaan,  jika  kriminalitas  menjadi  gaya  hidup mereka.

Pembatasan  yang  tegas atas kesempatan untuk melakukan hal yang konvensional dan kriminal menimbulkan  frustasi dan  ketidakpuasan  dalam  mendapatkan  posisi.  Ketidakpuasan  ini semakin  besar  pada  kondisi  masyarakat  yang  didalamnya  terdapat kontrol  sosial  yang  lemah,  integrasi  yang  kurang  diantara  pelanggar hukum  dari  berbagai  tingkatan  usia  dan  kurangnya  integrasi  yang membawa  nilai-nilai  konvensional  dan  kriminal,  hal  ini  tidak  dapat mencegah  munculnya  frustasi  diantara  pemuda.  Kondisi  ini  yang menyebabkan  remaja  beralih  untuk menggunakan  kekerasan  dalam mencari status. Kekerasan kemudian berkembang pada kondisi yang relatif  terpisah  dari  semua  sistem  kesempatan  yang  terinstitusional dan kontrol sosial.

Namun yang paling sering  luput dari perkelahian itu  sendiri.  Kemampuan  calon  anggota  untuk  disegani  atau  untuk mendapatkan  status dikalangan geng. Tujuan geng  ingin mengetahui apakah  anggotanya  berpotensi  atau  tidak  untuk  berkelahi,  adalah sebagai antisipasi  jika mereka  tertangkap atau  terkurung yang mana memaksa  mereka  untuk  berkelahi.  Geng  ingin  semua  anggotanya mampu menjaga  keamanan  dirinya  sendiri,  sebagai    anggota  geng yang bertanggung jawab.

Komponen yang dominan dari motivasi pelanggar perilaku  yang  digunakan  oleh  anggota  dari  kelompok  kelas lebih rendah  yang  menyendiri  melibatkan  suatu  usaha  positif  untuk  mencapai  keadaan,  kondisi-kondisi,  atau  kualitas  dihargai  di  dalam lingkungan pergaulan budaya pelaku yang paling penting.

Dalam penjelasan Miller tentang geng sebagai adaptasi budaya kelas bawah mempunyai premis sebagai berikut:

a. Trouble 

Bagi  anggota  geng  perilaku  melanggar  hukum adalah  sah  dilakukan  oleh  anggota  geng  sehingga  sah untuk  dilakukan  oleh  masing-masing  anggotanya.  Perilaku  mencari keributan  di jalanan  baik  terhadap  kelompok  geng  lainnya maupun  masyarakat  umum  sering  dilakukan  oleh geng, seperti  mengadakan  bentrokan  fisik  dijalanan  dengan  menggunakan senjata  tajam,samurai,  golok,  tongkat  softball  dan  senjata  lainnya  yang sering  digunakan  geng  dalam  melakukan  kekerasan.  Kegiatan kriminalitas  lainnya sering pula dilakukan seperti perampasan barang-barang  berhaga  milik  orang  lain. Mereka  terkadang tidak  pernah  takut  terhadap  pihak  kepolisian  dalam  melaksanakan tindakan melanggar hukum.

b. Toughness

Anggota  geng  yang mempunyai  aspek  kelebihan dalam  kemampuan  berkelahi    mendapat  pengakuan  lebih  didalam komunitas  geng  seperti  mampu  memukul  sekali  jatuh  terhadap lawan,  menghindar  kejaran  lawan  dengan  taktik  berlari  sekencang-kencangnya  apabila  terjadi  bentrokan  fisik  antar  geng.  Juga  apabila seorang  anggota  geng  mempunyai  nyali  yang  besar  atau  keberanian dalam  menghadapi  lawan  meski  yang  dihadapi  itu  banyak  sedang anggota geng sendirian atau berjumlah  sedikit dari  jumlah  lawan, akan kemampuannya  itu sangat dihargai di dalam komunitas geng.

c. Smartness

Anggota  geng  mempunyai  kebiasaan  dalam penyerangan  di  jalan,  apabila  lawan  mereka  kalah  maka  barang-barang  berharga  lainnya  akan  dirampas  guna  mendapatkan kepentingan materi.  Anggota  geng  juga mempunyai  tim,  yaitu sekelompok  anggota  geng  yang  dikhususkan  untuk  merampas barang-barang  berharga milik  orang  lain  di  jalanan,  tim  ini  berguna untuk menggumpulkan uang baik untuk kesenangan anggota geng hingga  untuk  penebusan  anggota  geng  yang  tertangkap pihak  kepolisian.

d. Exitement

Anggota  geng  dalam  kegiatan  rutin  berkumpul malam minggu maupun malam  biasa  biasanya  harus  tersedia minuman keras dengan kadar alkohol tinggi. Minum-minuman keras sudah menjadi kebiasaan mereka dalam berkumpul.  Dalam  berkumpul  di  wilayah  masing-masing  distrik  juga tersedia  minuman  berakohol  tinggi  sambil  menyanyi  sekeras-kerasnya diiringi irama alat musik gitar yang tidak beraturan. Perilaku kegembiraan  dalam  geng  juga  diekspresikan  dalam  perkelahian, mencari-cari masalah  di  jalan  serta  kebut-kebutan  yang  dilakukan  geng.

e. Authonomy

Didalam  geng  meskipun  ada  aturan  di  dalam komunitas  tetap  saja  dilakukan  hukum  rimba.

Berdasarkan  uraian mengenai sub budaya kekerasan pada kelompok  gang pada  awal  berdirinya merupakan  suatu  kelompok  sosial  yang tercipta  karena  adanya  persamaan minat. gang dapat  dikatakan  sebagai  suatu kelompok  sosial.  Tujuan-tujuan  dari  terbentuknya  gang ini  tentunya  akan menguntungkan  bagi  para  anggotanya  sehingga  dia  akan  tertarik  untuk  ikut bergabung  dengan  gang ini.  Keinginan  memberontak  dan  menghilangkan pengaruh orang  tua, kebutuhan akan ekonomi  juga menjadikan para  remaja  ini tertarik untuk ikut bergabung dengan gang.

 Dapat  dilihat  bahwa  proses  perekrutan  yang  dilakukan  oleh  kelompok gang memang sangat penuh dengan kekerasan dan banyak menyimpang dari hukum  serta  norma-norma  yang  hidup  pada  masyarakat  bila  dilihat  secara singkat  dengan  kacamata masyarakat  pada  umumnya.  Stigma  yang  diberikan masyarakat  pada  kelompok  gang ini  memang  penuh  dengan  kekerasan  dan penyimpangan-penyimpangan, singkatnya hanya hal-hal negatif yang menempel pada  identitas  kelompok  mereka  sesuai  dengan  perilaku  keseluruhan  geng. Tekanan mental serta kekerasan fisik yang dilakukan pada proses perekrutan gang bertujuan untuk kelangsungan hidup masing-masing anggota sendiri  pada  khususnya  dan  kelangsungan  hidup  kelompok  pada  umumnya.

Karena  pada  kenyataannya  kekerasan  dan  bentrokan-bentrokan  fisik  dengan kelompok lainnya memang sering terjadi, dan keberhasilan dari bentrokan itu  merupakan  suatu  kemenangan  tersendiri  bagi  kelompok  ini  untuk menunjukkan  keberadaannya  sebagai  satu  kelompok  yang  kuat.  Ketahanan mental serta fisik tiap anggota gang sangat berpengaruh pada hasil ini semua.

Kekerasan  yang  sudah  ditanamkan  dan  diterima  sejak  awal mula  para calon  anggota  gang ini  bergabung  hanya  merupakan  sebagian  kecil  saja  dari sekian  banyak  rentetan  kekerasan  yang  akan mereka  hadapi  setelah mereka menjadi  anggota  gang demi  membela  nama  besar  kelompoknya.  Kekerasan sudah  menjadi  identitas  bagi  kelompok  gang dimata  masyarakat  pada umumnya  dan  anggota  pada  khususnya.  Tanpa  adanya  ketahanan  fisik  dan mental  serta  rasa  kebersamaan  yang  kuat  sebagai  bagian  dari  satu  kesatuan pada  diri  setiap  anggota  gang,  tentu  saja  sulit  bagi  kelompok  gang untuk mempertahankan dan menunjukkan eksistensi keberadaan mereka di kalangan kelompok lainnya. Karena kelangsungan hidup kelompok gang berada pada  tangan  para  anggotanya. Geng  dianggap  menjadi  wadah sosial yang dapat menimbulkan perasaan anggotanya menjadi suatu kelompok, memunculkan  rasa  loyalitas  dan  solidaritas,  status  sosial  yang membuat  para anggotanya merasa dihargai, diakui dan diterima, perasaan aman, memberikan aspirasi dalam hidupnya,  sebagai wadah untuk mencapai  tujuan hidupnya, dan menimbulkan perasaan menjadi satu bagian dari totalitas kelompok.

Perilaku para anggota gang  yang menjurus pada tindakan kriminal seperti penganiayaan, perampasan hak milik, serta melanggar peraturan-peraturan lalu-lintas  merupakan  suatu  tindakan  yang  sangat  meresahkan  masyarakat.

Penyimpangan-penyimpangan para anggota gang terhadap kaidah dan nilai-nilai yang  terdapat  dalam  masyarakat.  gang seperti  wadah  bagi  para  anggotanya untuk  mengekpresikan  diri  dan  mencoba  hal-hal  baru  dan  digunakan  untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.

Kelompok Geng merupakan kelompok yang beranggotakan individu-individu  dengan  beragam  latar  belakang  dan  beragam  motivasi  serta pengalaman hidupnya. Hal  ini akan memungkinkan  timbulnya  suatu pertukaran pengalaman (social experience) yang pada prosesnya (baik  itu disadari maupun tidak  oleh  para  anggotanya)  berpengaruh  besar  terhadap  pembentukan kepribadian  anggota-anggotanya.  Pembentukan  ini  dapat  menjadi  suatu  nilai yang  membedakan  kelompok gang dengan  kelompok-kelompok  lainnya.  Nilai-nilai  yang terdapat  di  geng  merupakan  suatu  identitas  kelompok  yang dipertahankan  secara  turun-temurun  ke  setiap  generasinya  sehingga  tercipta subbudaya yang berbeda dari budaya masyarakat pada umumnya.

Iklan