PATRON-KLIEN

         Para penghuni liar yang menghuni kawasan Muara Angke dalam kehidupan kesehariannya melakukan interaksi sosial diantara mereka. Interaksi sosial adalah aspek kelakuan dari dan yang terdapat dalam hubungan sosial. Dalam kehidupan manusia sebagai anggota masyarakat, hubungan-hubungan sosial yang dilakukannya dengan para anggota masyarakatnya dalam kelompok-kelompok kekerabatan, kelompok wilayah dan kelompok sosial lainnya yaitu perkumpulan arisan, olah raga, teman sejawat dan lain-lain tidaklah sama dalam hal interaksi sosialnya antara yang satu dengan yang lain (Suparlan, 1985). Sebagai akibat interaksi sosial tersebut terbentuk hubungan sosial berupa hubungan pertemanan, perantaraan (brokerage) dan patron-klien (patron client), yang ciri-cirinya: (1) bersifat spontan dan pribadi yang penuh dengan muatan perasaan dan emosi, (2) adanya interaksi tatap muka diantara pelaku yang bersangkutan, (3) adanya pertukaran benda dan jasa yang relatif tetap diantara pelaku tersebut”. (Suparlan, Media IKA No. 13 Tahun XIX 1991: 1).

         Peter M. Blau dalam Margaret M. Poloma (1987), memberikan pengertian bahwa hubungan patron klien merupakan salah satu bentuk dari pertukaran dan kekuasaan dalam kehidupan sosial manusia. Lebih jauh Blau menjelaskan bahwa kebanyakan perilaku manusia dibimbing oleh pertimbangan pertukaran sosial, dimana terdapat 2 (dua) persyaratan yang harus dipenuhi bagi perilaku manusia yang menjurus kepada pertukaran-sosial, yakni: (1) perilaku tersebut harus berorientasi pada tujuan-tujuan yang hanya dapat dicapai melalui interaksi dengan orang lain, dan (2) perilaku tersebut harus bertujuan untuk memperoleh sarana bagi pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Adapun tujuan-tujuan yang diinginkan itu dapat berupa ganjaran ekstrinsik (seperti uang, barang-barang atau jasa-jasa) atau intrinsik (termasuk kasih sayang, kehormatan, atau kecantikan).[1]

         Selanjutnya dijelaskan oleh James Scott (1977) dalam Suparlan (2004) yang mengatakan bahwa hubungan patron klien mempunyai ciri-ciri yang khusus yang berbeda dari corak hubungan-hubungan sosial lainnya, yang disebabkan oleh adanya unsur-unsur: (1) interaksi tatap muka diantara para pelaku yang bersangkutan; (2) adanya pertukaran benda dan jasa yang relatif tetap berlangsung diantara para pelaku; (3) adanya ketidaksamaan dan ketidakseimbangan dalam pertukaran benda dan jasa tersebut; dan (4) ketidakseimbangan tersebut menghasilkan kategori patron dan klien yang memperlihatkan ciri-ciri ketergantungan dan ikatan yang bersifat meluas dan melentur diantara pantron dengan kliennya.[2]

         Hubungan pertemanan, perantara dan patron klien selalu ada dalam kehidupan setiap masyarakat. Khusus mengenai patron klien diberikan pengertian lebih lanjut bahwa berbeda dengan hubungan pertemanan dan hubungan perantaraan, ditandai oleh adanya hubungan timbal balik antara patron klien yang tidak sama atau seimbang dalam hal benda dan jasa yang dipertukarkan. Ketidak-seimbangan ini menghasilkan adanya hubungan ketergantungan klien pada patronnya dan ketergantungan tersebut berupa ikatan-ikatan yang meluas dan melentur serta bersifat pribadi melampui batas-batas hubungan yang semula melandasi terwujudnya hubungan diantara keduanya. (Suparlan, 1991: 6).

         Di lingkungan permukiman liar Muara Angke, hubungan antara para penghuni liar dengan para perwakilan penghuni yaitu para preman-preman yang biasanya menjadi perwakilan para penghuni didasarkan pada hubungan patron-klien. Hubungan antara warga penghuni liar dengan para preman yang berkuasa di daerah tersebut adalah hubungan antara orang-orang yang memiliki sumber daya disatu pihak dengan orang-orang yang membutuhkan sumber daya tersebut.

         Salah satu bentuk hubungan patron klien yang terjadi di permukiman liar Muara Angke adalah terjadi ketika para penghuni liar di kawasan tersebut akan menerima uang kerohiman. Dalam prakteknya, yang membagikan uang kerohiman tersebut adalah para preman-preman yang telah diberi wewenang oleh Unit Pelaksana Teknis Pengelola Kawasan Pelabuhan Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan (UPT PKPP & PPI) Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Propinsi DKI Jakarta dan Polsek KP3 Pelabuhan Sunda Kelapa. Hal ini dilakukan mengingat dengan para preman-preman tersebut para penghuni liar justru lebih tunduk dan patuh dibandingkan dengan aparat kepolisian dan petugas Tramtib.

*******************

Sumber Tesis    :     Penertiban Permukiman Liar Oleh Tramtib Dan Polisi Di Muara Angke, Jakarta Utara

Penulis             :     Ade Rahmat Idnal


 

[1]Margaret M. Poloma, “Sosiologi Kontemporer”, Jakarta: Radjawali, 1987, hal. 83.

 

[2]Suparlan, “Hubungan Antar Suku Bangsa”, Jakarta: Yayasan Pengembangan Kajian Ilmu Kepolisian, 2004, hal. 335.

Iklan