Bab 12

Perkembangan Manusia dan Karir Kriminal

David P. Farrington

 

            Tujuan bab ini adalah meninjau apa yang dikenal sebagai perkembangan manusia dan karir kriminal. “Karir kriminal” didefinisikan sebagai rangkaian longitudinal pelanggaran kejahatan yang dilakukan oleh pelaku pelanggaran hukum. Kejahatan dalam bab ini didefinisikan sebagai jenis kejahatan yang paling umum yang mendominasi dalam data statistika resmi, termasuk pencurian, perampokan, kekerasan, vandalisme, dan penggunaan obat-obatan. Kejahatan kerah putih tidak dimasukkan di sini, karena  hanya terdapat sedikit usaha untuk mempelajarinya dari sudut pandan karir krimnal dan pengembangan manusia.

            Suatu karir kriminal mempunyai permulaan (awal) dan akhir (berhenti) dan panjang karir di antaranya (durasi). Hanya proporsi tertentu populasi (prevalensi) yang mempunyai karir kriminal dan melakukan kejahatan. Selama karir mereka, para pelaku kejahatan melakukan kejahatan pada taraf tertentu (frekuensi) sambil berisiko ketika melakukan kejahatan dalam komunitas (misalnya ditahan atau dirumahsakitkan). Terhadap para pelaku kejahatan yang melakukan beberapa kejahatan, adalah mungkin untuk menyelidiki seberapa jauh mereka mengkhususkan diri dalam jenis tertentu kejahatan dan seberapa jauh keseriusan kejahatan mereka menghebat dari waktu ke waktu.

            Pendekatan karir kriminal secara esensial berkaitan dengan pengembangan manusia dari waktu ke waktu. Namun, perilaku kriminal biasanya tidak muncul tanpa peringatan, hal itu biasanya didahului oleh perilaku anti-sosial masa kanak-kanak (seperti mengancam, berbohong, membolos, dan kekejaman terhadap hewan) dan diikuti oleh perilaku anti sosial dewasa (seperti penyerangan pasangan, pengabaian dan perlakuan kasar terhadap anak, minum berlebihan, dan pergaulan bebas). Kata “anti-sosial” tentu saja menyangkut penetapan nilai, tapi tampaknya terdapat kesepakatan umum antara sebagian besar anggota demokrasi barat bahwa jenis tindakan ini antipatetik (merusak) kelangsungan yang lancar dalam masyarakat barat.

            Diargumentasikan bahwa kejahatan adalah bagian dari sindrome perilaku anti sosial yang lebih besar yang muncul dalam masa kanak-kanak dan cenderung bertahan pada masa dewasa. Tampaknya terdapat kelanjutan dari waktu ke waktu, karena anak-anak yang anti sosial cenderung menjadi remaja yang anti-sosial dan kemudian orang dewasa yang anti sosial, seperti hanya orang dewasa yang anti sosial cenderung menghasilkan anak anti-sosial yang lain.

            Untuk memahami dan menjelaskan pengembangan kejahatan dan perilaku anti-sosial dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, adalah penting untuk membawa pengetahuan dari bidang psikopatologi dan riset karir kriminal yang berbeda, dan hal ini merupakan tujuan bab ini (Untuk usaha lain untuk menyatukan kedua bidang ini, lihat Loeber dan LeBlanc 1990: Tonry dll, 1991). Seperti hanya adalah mungkin untuk menyelidiki permulaan, akhir, frekuensi (kekerapan), dan lamanya jenis perilaku ini didefinisikan sebagai melanggar hukum, adalah juga mungkin untuk mempelajari awal, akhir, kekerapan, dan lamanya jenis tindakan anti sosial yang lain. Bab ini meninjau pengetahuan tentang awal dan bentuk karir lain dalam kejahatan dan perilaku anti sosial.

            Dalam mempelajari pengembangan, adalah penting untuk menyelidiki rangkaian perkembangan dari waktu ke waktu, sebagai contoh ketika satu perilaku mendukung atau bertindak sebagai sejenis batu loncatan ke tindakan yang lain. Kita diharapkan untuk mengidentifikasi perilaku nonkriminal yang mengarah ke perilaku kriminal, dan rangkaian perkembangan jangka panjang termasuk jenis-jenis pelanggaran hukum. Sebagai contoh, hiperaktifitas pada umur dua tahun bisa mengarah ke kekejaman pada hewan pada usia 6 tahun, mencuri di toko pada umur 20, dan akhirnya penyerangan pasangan, pengabaian dan perlakuan kejam terhadap anak, penyalahgunaan alkohol, dan masalah tenaga kerja dan akomodasi dalam waktu hidup kemudian. Secara khusus, suatu karir dalam perilaku anti-sosial masa kanak-kanak menimbulkan karir kriminal, yang sering berimpitan dengan karir perilaku anti-sosial remaja dan menimbulkan karir perilaku anti-sosial dewasa. Karir kriminal adalah sesuatu yang terpisah yang didefinisikan secara legal dari karir anti-sosial yang lebih berjangka panjang dan merentang lebih luas. Pemahaman yang lebih mendalam terhadap perkembangan karir kriminal membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap karir anti-sosial yang lebih luas.

            Bab ini juga meninjau faktor-faktor resiko yang mempengaruhi pengembangan karir antissosial dan kriminal. Untungnya atau malangnya, tidak ada kekurangan faktor yang secara signifikan berkorelasi dengan kejahatan dan perilaku anti-sosial. Memang secara harfiah ribuan variabel berbeda secara signifikan antara pelaku kejahatan resmi dan nonpelaku kejahatan dan berkorelasi secara signifikan dengan laporan perilaku anti-sosial oleh remaja, rekan, orangtua, dan guru. Dalam bab ini, adalah mungkin untuk meninjau secara ringkas beberapa dari faktor resiko yang paling penting untuk kejahatan dan perilaku anti-sosial, yaitu faktor perbedaan individual seperti mengasuh anak dengan buruk dan orang tua anti-sosial, kehilangan secara sosial dan ekonomi. Pengaruh teman seperti mempunyai teman yang jahat, faktor sekolah, karakteristik komunitas seperti kekacauan sosial, dan faktor situasional. Karena fokus bab ini ada pada perkembangan manusia, variabel yang tidak berubah seperti seks dan ras tidak ditinjau.

            Bab ini berakhir dengan tinjauan singkat implikasi teoritis dan kebijakan dari riset tentang perkembangan manusia dan karir kriminal. Suatu usaha telah dibuat untuk mengajukan teori sederhana yang mencakup sebanyak mungkin realitas kompleks, dan implikasi untuk pencegahan kejahatan dan kontrol kejahatan dibahas. Tekanannya ada pada perilaku anti-sosial oleh pria. Sebagian besar riset tentang kejahatan dan perilaku anti-sosial telah berkonsentrasi pada pria, karena mereka melakukan sebagian besar kejahatan kejam dan ganas yang serius. Tinjauan ini terbatas pada riset yang dilangsungkan di Inggris, AS, dan beberapa negara demokrasi barat lain.  Sesuai dengan cakupan buku ini, sebagian besar riset yang dikutip di sini adalah tentang kejahatan bukannya tentang jenis perilaku anti-sosial.

            Dalam satu bab tunggal, jelas mustahil untuk meninjau segala sesuatu yang diketahui tentang perkembangan kejahatan dan perilaku anti-sosial (Untuk tinjauan yang lebih mendetail tentang faktor resiko, lihat Rutter dan Giller, 1983, Wilson dan Hernstein 1985). Penulis akan sangat selektif dalam berfokus pada beberapa penemuan yang lebih serius dan dapat ditiru yang diperoleh dalam beberapa studi lebih memadai secara metodologi, khususnya studi longitudinal terhadap sampel-sampel komunitas yang besar.

            Dalam mempelajari perkembangan manusia, adalah sangat penting untuk melakukan survei longitudinal prospektif. Penulis terutama akan mengacu pada pengetahuan yang diperoleh dalam Studi Cambridge tentang Perkembangan Kejahatan, yang merupakan survei longitudional terhadap 400 pria London dari umur 8 sampai 32 (Farrington dan West 1990). Namun, hasil yang serupa telah diperoleh dalam proyek-proyek serupa di Inggris (misalnya Kolvin dan lain-lain pada tahun 1988, 1990), di AS (misalnya oleh McCord 1979; Robins 1979), di negara-negara Skandinavia (misalnya Wikstrom 1987; Pulkkinen 1988) dan di Selandia Baru (misalnya Moffitt dan Silva 1988a). Sementara sebagian besar  survei longitudinal tentang kejahatan dan perilaku anti-sosial terutama berfokus pada sampel perkotaan dan kelas rendah, beberapa yang lain berdasarkan pada sampel perwakilan besar dari keseluruhan populasi (misalnya Wikstrom 1987: Moffitt dan Silva 1988a).

ISU METODOLOGIS DAN KONSEPTUAL

Sindrom Anti-sosial

Sementara tindakan yang didefinisikan sebagai kejahatan berbeda-beda. Namun, menyelidiki karakteristik pelaku kejahatan adalah hal yang dapat dimengerti. Hal ini adalah karena pelaku kejahatan terutama adalah serba bisa bukan terspesialisasi (Klein 1984; Farrington, Snyder, dan Finnegan 1988). Dengan kata lain, orang-orang yang melakukan satu jenis kejahatan mempunyai kecenderungan yang signifikan untuk juga melakukan bentuk kejahatan yang lain. Sebagai contoh, 86 persen pelaku kejahatan kekerasan yang dihukum dalam Studi Cambridge juga telah dihukum atas kejahatan non-kekerasan (Farrington 1991b).

            Seperti halnya  para kejahatan cenderung serba bisa dalam jenis kejahatan mereka, mereka juga cenderung serba bisa dalan perilaku anti-sosial secara umum. dalam Studi Cambridge, pelaku kejahatan sering bermasalah dan tidak jujur dalam sekolah dasar mereka, cenderung agresif dan sering berbohong pada umur 12-14, dan cenderung untuk mengancam pada umur 14. pada umur 18, pelaku kejahatan cenderung anti-sosial dalam berbagai jenis hal, termasuk minum minuman keras, merokok berat, menggunakan obat-obatan terlarang, dan berjudi berat. Sebagai tambahan, mereka sendiri berhubungan seks bebas, sering memulai hubungan seks di bawah umur 15, mempunyai beberapa rekan seksual pada umur 18,d an biasanya mempunyai hubungan seksual yang tidak terlindungi (Farrington 1992, d).

            West dan Farrington (1977) berargumen bahwa perbuatan jahat (yang didominasi oleh kejahatan ketidakjujuran) adalah hanya satu unsur dari sindrom yang lebih besar dari perilaku anti-sosial yang muncul dalam masa kanak-kanak dan biasanya bertahan sampai masa dewasa. Mereka mengembangkan satu skala “kecenderungan anti-sosial” pada umur 18, berdasarkan faktor-faktor  seperti catatan kerja yang tidak kerja, judi berat, merokok berat, penyalahgunaan obat-obatan, mengemudi sambil mabuk, seks bebas, menghabiskan waktu berkeluyuran di jalanan, kegiatan kelompok anti sosial, kekerasan, dan sikap anti-kemantapan. Tujuan mereka adalah menggunakan suatu skala yang tidak berdasarkan pada jenis tindakan (pencurian dan perampokan) yang umumnya mengarah pada penghukuman, dan mereka memperlihatkan bahwa pria yang dihukum biasanya anti-sosial dalam beberapa hal lain. Sebagai contoh, dua pertiga (67 persen) dari orang yang terhukum sampai umur 18 mempunyai empat lebih atau bentuk perilaku anti-sosial dalam umur tesebut, dibandingkan hanya 15 persen dari pria yang tidak dihukum.

            Farrington (1991a) mengembangkan skala yang lebih komprehensif tentang “kepribadian anti-sosial” pada umur 10, 14, 18, dan 32 berdasarkan kejahatan dan pada jenis perilaku anti-sosial yang lainnya. Sebagai contoh, skala pada umur 14 mencakup  penghukuman,  kejahatan dilaporkan-sendiri yang tinggi, mencuri diluar rumah, merokok secara teratur, mempunyai hubungan seks, mengancam, sering berbohong, sering tidak patuh, permusuhan terhadap polisi, mangkir,  nekad, dan konsentrasi yang buruk/kegelisahan. Semua tindakan ini cenderung saling berkaitan. Namun, dua tindakan terakhir, menyangkut impulsifitas,  diargumenkan sebagai penyebab perilaku anti-sosial daripada indikator darinya. Keduanya dimasukkan karena konsistensi dengan kriteria psikiatrik dari kekacauan kepribadian anti-sosial, tapi impulsifitas akan ditinjau kemudian dalam bab ini sebagai faktor resiko untuk perilaku anti-sosial. Sering sulit untuk membedakan antara penyebab, konsekuensi, dan indikator kepribadian anti-sosial.

            Hubungan antara kejahatan dan jenis perilaku anti-sosial yang lain telah ditemukan dalam berbagai studi yang lain. Sebagai contoh, dalam survei Saint Louis tentang pria kulit hitam, Robins dan Ratcliff (1980) melaporkan bahwa kenakalan ermaja cenderung dengan dikaitkan dengan bolos, seks dini, minum, dan penyalahgunaan obat-obatan. Dalam dua studi Amerika yang berbeda 13 tahun, Donovan dkk (1988) menyimpulkan bahaw suatu faktor umum tunggal yang membentuk korelasi positif di antara sejumlah perilaku anti-sosial anak remaja, termasuk minum-minum bermasalah, penggunaan mariyuana, hubungan seks dini, dan perilaku jahat. Dengan demikian, seperti yang dinyatakan oleh Jessor dan Jessor (1977), tidak ada sindrom masalah perilaku pada remaja.

            Dalam literatur psikopatologi kanak-kanak, adalah suatu yang umum untuk menemukan sindrom tunggal termasuk mencuri, berbohong, curang, vandalisme, pelanggaran norma,  kabur dari rumah, dan bolos (Achenbach, dll, 1987). Suatu isu kunci adalah seberapa jauh tindakan-tindakan agresif mejadi bagian dari sindrom ini.  Kekacauan perilaku kadang-kadang dibagi ke dalam jenis agresif atau terbuka dan jenis non-agresif atau tertutup (Loeber dan Schmaling, 1985). Karena individu yang agresif cenderung serius dan serba bisa dalam perilaku anti-sosial mereka, tampaknya bahwa perbedaan antara individual terbuka dan tertutup dapat merupakan perbedaan dalam tingkat daripada jenis. Perbedaan ini juga dapat mencerminkan tahap-tahap perkembangan. Anak-anak yang tidak agresif pada usia awal dapat meningkat ke agresi kemudian.

Pendekatan Karir Kriminal

Pendekatan karir kriminal tidak merupakan teori kriminologi tapi merupakan kerangka dalam mana teori-teori dapat diajukan dan dites (lihat Blumstein dan lain-lan 1986; Blumstein dan Cohen 1987).  Definisi kamus tentang istilah “karir” merinci dua konsep yang berbeda: suatu arah atau kemajuan sepanjang hidup, dan cara untuk mencari nafkah. Istilah tersebut digunakan dalam pengertian pertama di sana. Suatu “karir kriminal” menjelaskan rangkaian kejahatan yang dilakukan suatu bagian dari kehidupan seorang individu, tanpa keharusan sugesti bahwa para pelaku kejahatan menggunakan kegiatan kriminal mereka sebagai sarana penting untuk mencari nafkah.

            Pendekatan karir kriminal menekankan kebutuhan untuk menyelidiki pertanyaan seperti kenapa orang-orang memulai kejahatan (awal), kenapa mereka meneruskan kejahatan (keberlanjutan), kenapa kejahatan menjadi sering atau lebih serius (eskalasi), dan kenapa orang-orang berhenti menghentikan kejahatan (penghentian). Faktor-faktor yang mempengaruhi awal mungkin berbeda dari yang mempengaruhi segi-segi karir kriminal yang lain seperti keberlanjutan, eskalasi,  dan penghentian, mungkin karena proses yang berbeda ternjadi pada umur yang berbeda. Memang, Farrington dan Hawkins (1991) dalam Studi Cambridge tersebut menemukan bahwa tidak ada hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi prevalensi (pelaku kejahatan resmi versus nonpelaku),  faktor-faktor yang mempengaruhi kemunculan awal versi kemudian, dan faktor-faktor yang mempengaruhi penghentian sesudah umur 21, dan Loeber dkk (1991) dalam Pittsburgh Youth Study melaporkan tidak ada hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi awal dan yang mempengaruhi eskalasi/peningkatan.

            Untuk memahami sebab-sebab kejahatan, adalah penting untuk mempelajari proses perkembangan seperti awal, persistensi/keberlanjutan, peningkatan, dan penghentian. Namun, adalah juga penting untuk tidak membatasi studi ini secara sempit terhadap kejahatan, tapi juga mempelajari awal, keberlanjutan, peningkatan, dan penghentian jenis lain perilaku anti-sosial. Loeber dan LeBlanc (1999) menggunakan banyak konsep lain untuk menjelaskan proses perkembangan dalam karir anti-sosial, termasuk  percepatan dan perlambatan, diversifikasi, pergantian, stabilisasi, dan penurunan. Sebagai contoh, “retensi”/tetap melakukan (meningkat ke tindakan serius sambil tetap melakukan tindakan yang sepele) lebih umum daripada “inovasi” (meningkat dan menghentikant tindakan sepele).

            Pendekatan karir kriminal pada hakekatnya peduli dengan perkembangan manusia dari waktu ke waktu. Sebagian besar teori kriminilogi berfokus pada perbedaan segera atau lintas-bagian antara pelaku kejahatan resmi dan nonpelaku kejahatan. Lebih lanjut, sebagian besar teori kriminologi bertujuan untuk menjelaskan kejahatan ketika ada dalam aliran penuh (full flow), dalam tahun-tahun remaja. Namum pendekatan karir kriminal berfokus pada perubahan dalam individu dari waktu ke waktu dan pada prediktor proses-proses longitudinal seperti awal dan penghentian,  dengan mengakui bahwa orang yang sama dapat menjadi pelaku kejahatan aktif pada satu umur dan seorang nonpelaku kejahatan pada umur yang lain.  Hal itu juga bertujuan untuk menjelaskan perkembangan kejahatan pada semua umur.

            Riset karir kriminal berusaha untuk menyelidiki apakah segi-segi karir kumpulan adalah sama seperti atau berbeda dari segi-segi individual (Blumstein dll 1988). Sebagai contoh, kurva usia kriminal pada semua individual memperlihatkan bahwa taraf kumpulan kejahatan meningkat menuju puncak dalam tahun remaja dan kemudian berkurang. Bentuk kurva ini mungkin mencerminkan perubahan-perubahan dalam prevalensi para pelaku ifx pada masing-masing usia (proporsi individual yang melakukan kejahatan dari populasi total), atau perubahan dalam kekerapan kejahatan (oleh orang yang merupakan pelaku kejahatan pada masing-masing umur), atau beberapa kombinasi dari hal-hal ini. Sebagian besar bukti di Inggris dan Amerika menyimpulkan bahwa umur puncak kumpulan dari kejahatan pada pokoknya mencerminkan variasi dalam prevalensi, dan bahwa para pelaku kejahatan individual melakukan kejahatan pada frekuensi konstant yang dapat ditoleran selama karir kriminal mereka (Farrington 1986a). Pada model ini, seorang pelaku kejahatan berumur 30 tahun melakukan kejahatan secara kasar pada taraf yang sama seperti pelaku kejahatan berumur 18 tahun, biarpun para pelaku kejahatan lebih prevalen dalam populasi-18 tahun daripada populasi-30 tahun. Karena itu, distribusi  umur kejahata yang datar untuk frekuensi kejahatan individual sangat berbeda dari distribusi memuncak untuk prevalensi dari kurva umur-kejahatan kumpulan/agregat yang memuncak.

            Dinyatakan dengan cara yang agak berbeda, suatu persoalan kunci dalam riset karir kriminal adalah menentukan berapa jauh kumpulan/agregat berubah menurut umur atau selama bentuk karir kriminal mencerminkan perubahan dengan pelaku kejahatan individual  yang berlawanan dengan perubahan dalam komposisi populasi yang melakukan kejahatan. Sebagai contoh, pelaku kejahatan remaja pada pokoknya melakukan kejahatan mereka sendiri (Reiss dan Farrington, 1991). Apakah penemuan ini berarti bahwa para pelaku kejahatan mengubah metode mereka untuk melakukan kejahatan ketika mereka makin tua berganti dari melakukan kejahatan bersama ke melakukan kejahatan sendirian? Apakah hal ini berarti bahwa satu populasi  para pelaku kejahatan berhenti (keluar) dan digantikan oleh populasi baru para pelaku kejahatan sendirian? Jawaban dari jenis pertanyaan ini, yang tumbuh sangat sering, mempunyai implikasi teoritis dan kebijakan. Pada umumnya, bukti membuktikan bahwa perubahan-perubahan terjadi dalam satu populasi pelaku kejahatan pada umur-umur yang berbeda,  bukannya beberapa pelaku kejahatan berhenti dan diganti oleh populasi pelaku kejahatan yang lebih tua.

            Begitu juga, para periste karir kriminal menekankan bahwa segi-segi karir yang berbeda dapat berbeda berkaitan dengan umur. Telah dinyatakan bahwa prevalensi berpuncak pada umur remaja tapi bahwa  frekuensi kejahatan individual mungkin tidak. Blumstein dll (1982) menemukan bahwa panjang residual karir kriminal (waktu yang ada  sampai titik penghentian) berpuncak antara 30 dan 40. sementara para pelaku kejahatan remaja sangat prevalen (lazim terdapat) dalam populasi remaja, pelaku kejahatan remaja rata-rata tidak melaukan kejahatan pada frekuensi yang sangat tinggi dan cenderung hanya mempunyai sisa karir kriminal yang relatif pendek. Dengan demikian, prevalensi (kelaziman) puncak dalam umur-umur remaja tidak berarti bahwa tindakan peradilan kriminal seperti pencabutan kapasitas (incapacitation) hendaknya secara khusus ditargetkan pada para remaja. Sebaliknya, para pelaku kejahatan berumur 30 tahun jauh kurang lazim dalam populasi 30-an, tapi rata-rata pelaku kejahatan berumur 30 tahun cenderung mempunyai karir kriminal yang relatif panjang yang tersisa. Dilihat secara perkembangan, para pelaku kejahatan 30 tahun, cenderung terpisah dari para pelaku kejahatan remaja. Sebagian besar pelaku kejahatan remaja berhenti dari melakukan kejahatan sebelum umur 30.

                        Segi kunci dari pendekatan karir kriminal adalah penekanannya terhadap perkembangan model matematika eksplisit dan pengujian prediksi kuantitatif (untuk detail yang lebih lanjut, lihat Farrington 1992a).  Prediksi ini biasanya lebih bersifat probabilistik (kemungkinan) daripada deteministik (kepastian).  Tujuannya adalah untuk mengajukan model-model yang merupakan penyederhanaan realitas tapi yang menjelaskan data kompleks. Sebagai contoh, adalah tidak mungkin bahwa frekuensi kejahatan individual konstan secara tepat dari waktu ke waktu, tapi adalah mungkin untuk mencocokkan data karir kriminal pada asumsi sederhana ini. Sebagian besar model bersifat stochastic, dengan mengasumsikan bahwa kejadian kejahatan yang terukur (misalnya hukuman) tergantung dalam suatu tingkat pada proses kesempatan.

Definisi dan Pengukuran

Perilaku anti-sosial mencakup berbagai dosa. Hal itu mencakup tindakan-tindakan yang dilarang oleh hukum kriminal, seperti pencurian, perampokan,  kekerasan, vandalisme, dan penyalahgunaan obat-obatan. Seperti yang sudah dijelaskan, definisi “kejahatan” dalam bab ini berfokus pada jenis tindakan ini. Definisi ini jgua menyangkut tindakan penyimpangan yang jelas seperti mengancam, mengemudi sembrono, minum-minum, dan seks bebas, dan tindakan yang lebih marginal dan  dapat diperdebatkan sebagai menyimpang seperti merokok berat, judi berat, kestabilan kerja, dan konflik dengan orang tua. Semua tindakan ini sering saling berkaitan, dalam pengertian bahwa orang-orang yang melakukan salah satu dari hal-hal tersebut mempunyai resiko yang cukup makin besar untuk melakukan yang lainnya (West dan Farrington, 1977).

            Beberapa tipe perilaku anti-sosial digunakan sebagai kriteria diagnotis untuk kategori psikiatrik “gangguan perilaku” dalam Klasifikasi Penyakit Internasinal Organisasi Kesehatan Dunia, ICD-10 dan dalam Manual Diagnostik dan Statistik Asosiasi Psikiatrik Amerika, DSM-IIIR (lihat Robins 1991). Tipe-tipe pokoknya adalah mencuri, kabur dari rumah, berbohong, pembakaran rumah, perampokan, vandalisme, seks yang dibuat-buat, perkelahian, pencurian, dan kekejaman terhadap orang dan hewan. Gangguan perilaku sering didiagnosis ketika perilaku menganggu itu berlanjut selama setidaknya enam bulan dan mencakup setidaknya dua (ICD-10) atau tiga (DSM-111R) dari perilaku yang dispesifikasikan. Biarpun hal ini biasanya sering disebut gangguan perilaku masa kanak-kanak, diagnosis ini dapat dibentuk sampai umur 17 dan dengan demikian sering mencerminkan perilaku anti-sosial remaja.

            Kategori psikiatrik “gangguan kepribadian anti-sosial” dalam DSN-IIIR (Asosiasi Psikiatrik Amerika pada tahun 1987) dipengaruhi oleh tulisan Robins

(al 1979) dan diaplikasikan kepada orang dewasa yang gagal untuk mempertahankan hubungan pribadi yang dekat dengan orang lain, berkinerja buruk dalam pekerjaan mereka, terlibat dalam kejahatan, gagal mendukung diri mereka sendri dan orang-orang yang tergantung pada mereka  tanpa bantuan luar, mengemudi sembrono, dan cenderung untuk mengubah rencana mereka secara impulsif, dan kehilangan kesabaran mereka dalam menanggapi frustasi kecil. Menurut DSM-IIIR, gangguan kepribadian anti-sosial dewasa didiagnosis jika orang dewasa anti-sosial-tersebut  menampilkan empat dari 10 gejal yang dirinci tersebut dan telah memperlihatkan gangguan perilaku sebelum umur 15. persyaratan terakhir ini dimasukkan karena riset Robin memperlihatkan bahwa, biarpun tidak lebih dari separih anak yang bergangguan perilalu menjadi orang dewasa anti-sosial, hampir semua orang dewasa anti-sosial sebelumnya memperlihatkan setidaknya satu gejala gangguan perilaku. Untuk orang dewasa anti-sosial, umur rata-rata gejala kanak-kanak pertama adalah 8 (Robin dll, 1991).

            Kategori gangguan kepribadian anti-sosial dewasa sangat berkaitan dengan konsepsi psikopati. Ukuran psikometrik yang paling baik diketahui dari konsepsi yang terakhri ini adalah “Psychopaty Checklist (PC)” dari Hare (1980. 1986). Hal ini agak lebih berfokus pada indikator-indikator perilaku anti-sosial.  PC mencakup kriteria seperti daya tarik yang dibuat-buat (superficial charm), ego yang membumbung, kebosanan, mengambil resiko (nekad), dan mencari kegemparan, bohong secara patologis, kurangnya penyesalan yang mendalam, dingin, kurangnya emosi dan kurangnya empati, gaya hidup parasit, mudah menjadi marah dan agresif, perilaku seks serampangan, masalah perilau anak-anak dan kejahatan/kenakalan; impulsifitas dan kegagalan untuk menghormati komitmen keluarga dan finansial, kegagalan untuk menerima tanggungjawab atas tindakan, dan berbagai kejahatan yang dilakukan. Biarpun penekanan yang agak berbeda, skor PC pada orang dewasa  sangat berkorelasi dengan diagnosis tentang gangguan kepribadian anti-sosial (misalnya korelasi titik-duaserial sebesar 0,67 dilaporkan oleh Hare, 1985).

            Di Inggris, definisi psikopati adalah lebih subyektif daripada di Amerika Utara, dan kriteria checklist diagnotis yang eksplisit belum dikembangkan. Pada Undang-undang Kesehatan Mental tahun 1959 dan 1983, gangguan psikopatik didefinisikan sebagai gangguan yang berkelanjutan “yang menghasilkan perilaku yang tidak bertanggung jawab secara serius atau agresif secara tidak normal”. Menurut Walker (1985), para psikiater Inggris memberikan label “psikopat” untuk orang-orang yang memperlihatkan impuls (dorongan) yang tidak biasa (misalnya sadistis, kompulsif) atau yang mempunyai kontrol diri yang lemah dan tidak biasa, atau melakukan kejahatan tanpa penyesalan atau kecemasan tentang akibatnya.

            Apakah gangguan perilaku, gangguan kepribadian anti-sosial, dan psikopat dinilai sebagai penyakit dapat diperdebatkan. Robins dll (1991) berpikir bahwa ketiga hal itu seharusnya dianggap penyakit, karena gejala-gejalanya sangat saling berkorelasi, karena ketiga hal itu dikenali dalam waktu dan tempat yang berbeda dan ketiga mempunyai komponen genetik. Namun, Blackburn (1988) berargumen bahwa karakteristik kepribadian dan perilaku anti-sosial adalah berbeda dan hendaknya dibedakan secara cermat. Tentu adalah benar bahwa interkorelasi antara gejala dan reliabilitas antarpenaraf (interrater reliabilities) adalah tinggi (antara lain Hare 1985: Klinteberg dll, 1992). Juga, struktur faktor gejala-gejala tersebut bertahan dengan baik dalam perbandingan lintas-negara (al Raine 1985; Achenbach dll, 1987; Harpur dll, 1988). Namun, adalah sulit untuk mengklaim bahwa penyebab genetik, fisika, atau biologis dari sindrom-sindrom tersebut telah dibentuk secara meyakinkan.

            Perilaku anti-sosial biasanya diukur dengan melangsungkan wawancara dengan atau mendapatkan rating dari orang tua, rekan, gurum atau subyek itu sendiri. Diagnosis psikiatrik seperti gangguan perilaku atau kepribadian anti-sosial biasanya  dibentuk berdasarkan wawancara klinis. Namun, gangguan perilaku juga dapat diukur dengan menjadikan orangtua, guru, atau remaja melengkapi checklist dari gejala-gejala tertentu (misalnya Achenbach dan Edelbrock 1984). Wawancara psikiatrik terstruktur yang dapat dikelola oleh nondokterklinij, seperti Jadwal Wawancara Diagnostik dan Jadwal Wawancara Diagnostik untuk Anak-anak, dan rating (pemeringkatan) berdasarkan pengamatan sistematis juga digunakan. Biasanya terhadap kesepakatan yang sangat tinggi di antara metode pengukuran  yang berbeda dalam mengidentifikasi para individual yang terganggu  (misalnya Boyle dll, 1987; Edelrock dan Costello 1988).

            Kejahatan biasanya diukur dengan menggunakan catatan resmi penahanan atau penghukuman, atau laporan-sendiri (self-reports) kejahatan. Kelebihan dan kelemahan cataan resmi laporan sendiri dan pada suatu tingkat saling melengkapi. Secara umum. catatan resmi mencakup pelaku of yang paling buruk dan kejahatan yang paling buruk, sementara laporan-sendiri mencakup rentang normal kegiatan kejahatan. Melapor sendiri mempunyai kelebihan berupa mencakup kejahatan yang tidak terdeteksi, tapi kerugian berupa penyembuyian dan keterlupaan. Persoalan kuncinya adalah apakah hasil yang sama diperoleh dengan kedua metode. Sebagai contoh, jika catatan resmi dan laporan sendiri sama-sama memperlihatkan hubungan antara pengawasan orang tua dan kejahatan, adalah mungkin bahwa pengawasan adalah berkaitan dengan perilaku jahat (bukannya dengan prasangka apapun dalam pengukuran). Bab ini berfokuspada hasil-hasil yang dapat ditiru demikian.

            Secara umum, pelaku kejahatan terburuk (dengan memperhatikan frekuensi dan keseriusan) menurup laporan-sendiri juga cenderung menjadi pelaku kejahatan terburuk menurut laporan resmi (al. Farrington 1973; Huizinga dan Elliott 1986). Sebagai contoh, dalam Studi Cambridge, 11 persen pria antara 15 dan 18 mengakui melakukan pencurian, dan 62 persen dari pria ini dihukum atas pencurian (West dan Farrington 1977). Prediksi dan korelasi antara pencurian resmi dan yang dilaporkan-sendiri sangat serupa (Farrington 1992c).

            Hasil-hasil yang diperoelh dalam riset karir kriminal tergantung kepada metode mendefinisikan dan mengukur kejahatan yang digunakan. Sebagai besar periset karir kriminal berfokus pada catatan resmi penahanan atau hukuman untuk kejahatan yang relatif serius daripada pada laporan-sendiri terhadap pelanggaran yang relatif remeh. Dengan catatan resmi tentang kejahatan yang relatif serius, prevalensi dan frekuensi yang diukur terhadap kejahatan lebih rendah dan umur awal kejahatan adalah lebih tua. Secara prinsip, tidak ada alasan kenapa pendekatan karir kriminal tidak dapat diterapkan pada laporan-sendiri terhadap kejahatan yang relatif remeh. Hal itu dapat diperluas (sebagai pendekatan “karir anti-sosial) untuk mencakup tindakan-tindakan anti-sosial tapi perilaku nonkriminal seperti curang, berbohong, mangkir, mengemudi sembrono, dan mabuk.  Dalam membandingkan catatan resmi dan laporan-sendiri dari perilaku yang sama, parameter karir kriminal yang mendasari (seperti frekuensi kejahatan individual) mungkin tetap sama dalam masing-masing analisis, tapi hubungan antara parameter-parameter ini dan perilaku yang diamati  (misalnya hukuman atau laporan-sendiri) akan bervariasi.

            Riset karir kriminal membutuhkan informasi yang tepat tentang penetapan waktu kejahatan. Hal ini tersedia dalam catatan resmi (misalnya hukuman), tapi biasanya tidak dalam laporan sendiri. Akan memadai untuk periset karir kriminal jika para pelaku kejahatan menyimpan buku harian teratur yang menuliskan semua kejahatan mereka, tapi hal ini adalah sulit untuk memperoleh data valid dalam skala besar yang dapat didemonstrasikan dengan menggunakan metode ini. Adalah jelas bahwa bahwa laporan sendiri yang retrospektif (berhubungan dengan masa lalu) yang  mencakup periode panjang selama 10 tahun atau lebih adalah tidak akurat (lihat Yarroe dan lain-lain 1970). Sebagai contoh, dalam perbandingan sistematis  laporan-sendiri prospektif yang diulang dan laporan-sendiri retrospektif jangka panjang kejahatan oleh pria-pria yang sama, Farrington (1989c) menemukan bahwa rata-rata 46 persen dari semua kejahatan yang diakui secara prospektif (mungkin) antara 10 dan 25 ditolak secara restrospektif (dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan  “pernah”) pada umur 32. Para pelaku kejahatan yang paling sering tampaknya mempunyai kesulitan yang paling besar dalam menghasilkan laporan retrospektif yang valid dalam karir kejahatan mereka, khususnya jika mereka mempunyai kecerdasan yang rendah dan merupa penyalah guna obat-obatan atau alkohol. Dengan demikian, data longitudinal prospektif dibutuhkan.

Prevalensi pada Umur yang Berlainan

Salah satu kontribusi yang tersendiri dari riset karir kriminal adalah mendemonstrasikan prevalensi (kelaziman) tinggi kumulatif  dari penahanan dan penghukuman terhadap para pria (untuk tinjauan, lihat Visher dan Roth 1986). Sebagai contoh, di Philadelphia, Wolfgang dkk (1987) menemukan bahwa 47 persen pria ditahan atas kejahatan non-lalu lintas (non traffic) sampai umur 30 tahun, termasuk 38 persen orang kulit putuh dan 69 persen non kulit putih. Di Londong, Farrington dan West (1990) melaporkan bahwa 37 persen pria dihukum atas kejahatan kriminal sampai umur 32, ketika  kejahatan ini dibatasi dalam kejahatan yang biasanya dicatat dalam Dinas Catatan Kriminal. Di Swedia, Sttatin dll, (1989) menemukan bahwa 1/3 pria (dan 7 persen wanita) secara resmi terdaftar dalam kejahatan non lalulintas pada umur 30. Kurva-kurva tersebut memperlihatkan prevalensi kumulatif sampai umur 25 dalam kejahatan oleh para pria kelas pekerja di London dan Stockholm sangat mirip (Farrington dan Wikstrom, 1993).

            Prevalensi kumulatif dari kejahatan yang dilaporkan sendiri bahkan lebih tinggi. Di Studi Cambridge, Farrington (1989c) memperlihatkan bahwa 96 persen pria telah melakukan satu dari 10 kejahatan yang dirinci (termasuk pencurian, perampokan, penyerangan, vandalisme, dan penyalahgunaan obat-obatan) pada usia 32. Banyak pria melakukan tindakan minor/kecil, khususnya dalam usia remaja, yang mungkin secara tegas digolongkan sebagai kejahatan. Untuk membandingkan  pelaku kejahatan dan non pelaku kejahatan, adalah perlu untuk menetapakan kriteria yang cukup tinggi untuk “kejahatan” (misalnya dalam hal frekuensi, keseriusan, atau jangka waktu, atau dalam segi penahanan atau hukuman) sehingga mayoritas luas dari populasi pria tidak digolongkan sebagai pelaku kejahatan. Sebagai alternatif, para pelaku yang lebih dan kurang serius dapat dibandingkan.

            Suatu fokus yang penting dalam karir kriminal adalah hubungan antara umur dan kejahatan. Biasanya “prevalensi titik” dari kejahatan pada masing-masing umur meningkat ke suatu puncak dalam umur remaja dan kemudian berkurang. Kurva umur-kejahatan yang diperoleh dengan mem-follow up/mengikuti sekelompok orang dari waktu ke waktu  (orang yang sama pada berbagai usia) sering berbeda dari kurva lintas-bidang yang terlihat dalam data statistika resmi (yang mencerminkan orang berbeda pada umur berbeda. Lihat Farrington 1990a). Farrington (1986a)  mengajukan suatu model matematikan untuk kurva umur-kejahatan, dengan tiga parameter. Yang pertama menentukan kecepatan kenaikan kurva ke puncak, yang kedua menentukan kecepatan penguranga kurva dari puncak, dan yang ketiga menentukan tinggi puncak.

            Dalam studi Cambridge, umur puncak untuk prevalensi hukuman adalah 17 (Farrington 1992b). umur rata-rata hukuman untuk sebagian besar jenis kejahatan (perampokan, pencurian, pencurian terhadap dan dari kendaraan, mencuri di toko) adalah 17, sementara untuk kekerasan adalah 20 dan untuk penipuan 21. Begitu juga, dalam studi kelompok Philadelphia oleh Wolfgang dkk (1987), taraf penahanan bertambah menuju puncak pada umur 16 dan kemudian berkurang. Dalam studi Cambridge, umur puncak dari pertambahan dalam prevalensi kejahatan adalah pada 14, sementara umur puncak pengurangan adalah 23. Kedua waktu percepatan dan pelambatan maksimal dalam prevalensi menarik perhatian kita terhadap waktu-waktu  dalam kehidupan orang-orang ketika peristiwa-peristiwa hidup yang penting mungkin terjadi sehingga mempengaruhi kejahatan. Waktu-waktu ini juga mengindikasikan bahwa umur awal kejahatan mungkin sekali adalah 14 dan umur penghentian mungkin sekali adalah 23.

            Studi laporan sendiri memperlihatkan bahwa jenis kejahatan yang paling umum berkurang dari usia remaja ke umur 20-an. Dalam Studi Cambridge, prevalensi pencurian, pencurian di toko, pencurian terhadap dan dari kendaraan, pencurian dari mesin slot, dan vandalisme semua berkurang dari usia remaja ke usia 20-an, tapi pengurangan yang sama tidak terlihat untuk pencurian dari pekerjaan, penyerangan, penyalahgunaan obat-obatan, dan penipuan (Farrington, 1989c). Sebagai contoh, pencurian (sejak wawancara terakhir) diakui oleh 13 persen pada umur 14, 11 persen pada umur 18, 5 persen pada umur 21, dan 2 persen pada umur 25 dan umur 32. dalam Survei Pemuda Nasional Amerika, Elliot dan kawan-kawan (1989) menemukan bahwa laporan sendiri prevalensi kejahatan meningkat dari 11-13 menuju puncak pada 15-17 dan kemudian berkurang pada umur 19-21.

            Prevalensi tipe-tipe lain perilaku anti-sosial juga bervariasi menurut definisi dan metode pengukuran. Menurut manual DSM-IIIR, sekitar 9 persen pria warga Amerika dan 2 persen wanita warga Amerika di bawah umur 18 memenuhi kriteria diagnostis untuk gangguan perilaku. Informasi yang paling luas tentang prevalensi gangguan psikiatrik dalam anak-anak dan remaja  dikumpulkan di Studi Kesehatan Anak Ontario berskala besar di Kanada (Offord dll, 1989). Hal ini merupakan survei tentang 3.000 anak. Sekitar 7 persen pria dan 3 persen wanita berumur 12016 mengalami gangguan perilaku dalam enam bulan sebelumnya, menurut laporan oleh guru dan oleh remaja itu sendiri.

            Angka-angka yang terinci untuk gejala individual dihasilkan oleh Offord dkk. (1986). Sebagai contoh, untuk 12-16 tahun, 10 persen pria dan 9 persen wanita mengakui kekejaman kepada hewan, sementara 14 persen pria dan 8 persen wanita mengakui menghancurkan barang orang lain. Dalam survai yang sama, Boyle dan Offord (1986) menghasilkan angka-angka yang rinci untuk prevalensi merokok, minum-minum, dan penyalahgunaan obat-obatan. Informasi meluas/ekstensif tentang prevalensi gejala-gejala anti-sosial yang berbeda pada umur-umur yang berbeda antara 4-5 dan 15-16 dapat ditemukandalam tulisan Sheperd dkk (1971) untuk anak-anak Inggris dan di Achenbachdan Edelbrick (1983) dan Loeber dkk (1989) untuk anak-anak warga Amerika.

            Menurut manual DSM-IIIR, sekitar 3 persen pria warga Amerika dan kurang dari 1 persen wanita Amerika memenuhi kriteria diagnostis untuk gangguan kepribadian anti-sosial dewasa. Namun, prevalensinya jauh lebih besar dalam hal ini Proyek Area Penampungan Epidemiologis yang dilaksanakan di lima lokasi di AS. Prevalensi seumur hidup adalah 7,3 persen untuk pria dan 1,0 persen untuk wanita (Robins dkk, 1991).

Frekuensi Kejahatan Individual

Sejak riset perintis oleh Blumstein dan Cohen (1979), banyak riset karir kriminal telah dilakukan untuk memperkirakan frekuensi kejahatan individual dari para pelaku kejahatan aktif selama karir kriminal mereka (untuk tinjauan, lihat Cohen, 1986). Sebagai contoh, berdasarkan riset Amerika, Blumstein dan Cohen menyimpulkan bahwa pelaku kejahatan Indek (lebih serius) aktif rata-rata melakukan sekitara 10 kejahatan Indeks per tahun bebas, dan bahwa frekuensi kejahatan individual secara esensi tidak bervariasi menuru umur. Lebih lanjut, pelaku kejahatan Indeks aktif rata-rata mengakumulasikan sekitar satu penahanan per tahun bebas.

            Studi Inggris dan Amerika yang ditinaju oleh Farrington (1986a) mengindikasikan bahwa frekuensi kejahatan individual tidak sangat bervariasi menuru umur atau selama karir kriminal. Namun, kemudian Loeber dan Snyder (1990) menyimpulkan bahwa hal itu meningkat selama tahun-tahun remaja sampai tahun-tahun dewasa, dan Haapanen (1990) menemukan bahwa hal itu meningkat selama tahun-tahun dewasa. Lebih lanjut, di Stockholm Project Metropolitan, Wikstron (1990) memperlihatkan bahwa  frekuensi memuncak pada umur 15-17 dan dalam riset melapor-sendiri retrospektif  dengan para tahanan Nebraskan Honey dan Marshall menyimpulkan bahwa hal itu bervariasi dari waktu ke waktu dalam para individu. Karena terdapat beberapa studi yang mengindikasi secara sebaliknya bahwa frekuensinya stabil dengan umur (al. Home Office 1987; LeBlanc dan Frechette 1989), lebih banyak riset jelas dibutuhkan untuk membentuk kondisi-kondisi dimana hal itu relatif stabik atau bervariasi menurut umur.

            Jika periode percepatan atau perlambatan dalam frekuensi kejahatan individual dapat diidentifikasi, dan jika prediktor-prediktor percepatan atau perlambatan dapat dibentuk, seperti yang dianjurkan oleh Farrington (1987b), hal ini dapat mempunyai implikasi yang penting untuk teori dan kebijaan. Barnett dan Lofaso (1985) menemukan bahwa prediktor terbaik untuk frekuensi kejahatan masa depan di studi kelompok Philadelphia adalah frekuensi kejahatan masa lalu.

            Banyak kondisi atau kejadian hidup yang mungkin menyebabkan kenaikan kejahatan individual. Sebagai contoh, dengan menggunakan, laporan sendiri yang retrospektif, Ball dkk (1981) menemukan bahwa orang-orang yang ketagihan heroin di Baltimore melakuan  kejahatan non-obat-obatan pada taraf yang lebih tinggi selama periode ketagihan daripada selama periode ketika mereka tidak ketagihan, sehingga menyimpulkan bahwa ketagihan menyebabkan kenaikan dalam kejahatan. Dengan menggunakan catatan resmi, Farrington dkk (1986b) memperlihatkan bahwa para pria London melakukan kejahatan pada taraf yang lebih tinggi selama periode pengangguran daripada selama periode bekerja. Perbedaan ini terbatas pada kejahatan yang melibatkan peroleh material, sehingga menyimpulkan bahwa kepengangguran menyebabkan kekurangan uang, yang pada gilirannya menyebabkan kenaikan dalam kejahatan untuk mendapatkan uang. Namun,  tidak satu pun dari studi-studi ini yang secara memadai menguraikan perbedaan dalam prevalensi dari perbedaan dalam frekuensi.

            Frekuensi kejahatan individual tidak dapat diperkirakan dari data agregat/kumpulan hanya dengan membagi jumlah kejahatan pada masing-masing umur dengan jumlah orang yang ditahan atau dihukum pada masing-masing umur, karena beberapa orang yang memulai karir kriminal mungkin tidak menyimpan catatan resmi pada umur tertenu. Barnett dkk (1987) menguji beberapa model matematik dari karir kriminal dari pria-pria Studi Cambridge, dengan membatasi analisis tersebut terhadap orang-orang dua atau lebih hukuman. Mereka menemukan bahwa model-model yang mengasumsikan bahwa semua pelaku kejahatan mempunyai frekuensi kejahatan yang sama adalah tidak memadai. Dengan demikian, mereka mengasumsikan bahwa terdapat dua kategori pelaku kejahatan, “yang sering” dan “yang kadang-kadang”. Data tersebut memperlihatkan bahwa kedua kategori menimbulkan hukuman pada taraf yang konstan (tapi berbeda) selama karir kriminal aktif mereka. Barnett dkk tidak menyimpulkan bahwa dalam kenyataan hanya ada dua kategori pelaku kejahatanm tapi bahwa adalah mungkin untuk mencocokkan data sebenarnya dengan model sederhana yang mengasumsikan hanya dua kategori.

            Interval “waktu jalanan” rata-rata antara kejahatan adalah bersifat timbal balik dengan frekuensi kejahatan individual. Secara umum, interval waktu ini berkurang menurut masing-masing kejahatan yang berturut-turut dalam suatu karir kriminal (misalnya Hamparian dkk, 1987; Tracy dkk, 1985). Penguranngan ini berarti bahwa frekuensi kejahatan individual makin cepat menurut masing-masing kejahatan yang berturut-turut atau bahwa para pelaku kejahatan dengan frekuensi rendah secara bertahap keluar dari populasi yang melakukan kejahatan, sehingga populasi ini makin terdiri dari para pelaku kejahatan berfrekuensi tinggi apa masing-masing transisi kejahatan yang berturut-turut. Dengan data kelompok Philadephia, Barnett dan Lofaso (1985) menyimpulkan bahwa para pelaku kejahatan tidak makin cepat. Frekuensi kejahatan tetap relatif konstan dari waktu ke waktu, dan interval waktu yang berkurang mencerminkan populasi pelaku kejahatan yang berubah.

            Sebagian besar studi sebelumnya tentang residivisme telah menggunakan penghumuman ulang atau tanpa penghukuman ulang (atau penahanan ulang atau tanpa penahanan ulang) dalam periode follow-up yang pendek selama dua atau tiga tahun sebagai variabel dependen kuncu untuk dipredikisi. Namun, hal ini merupakan ukuran yang agak tidak sensitif. Frekuensi kejahatan individual dan interval (rentang) waktu yang berkaitan (timbal balik) antara kejahatan-kejahatan merupakan ukuran yang lebih sensitif, dan dapat memberikan periset kesempatan yang lebih baik untuk mendeteksi pengaruh pemberian hukuman atau perlakuan hukum tentang residivisme.

Permulaan

Riset karir kriminal pada permulaan yang menggunakan data resmi biasanya memperlihatkan umur puncak permulaan antara 13 dan 15. Sebagai contoh, di AS, Blumstein dan Graddy (1982) menemukan bahwa umur kurva permulaan untuk penahanan pria berkulit putih dan nonkulit putih memuncak pada umur 15.  Dalam Swedish Project Metropolitan, Fry (1985) melaporkan bahwa umur puncak  penahanan pertama untuk pria dan wanita adalah 13. Dalam Studi Cambridge, usia puncak permulaan adalah 14. 4,6 persen pria pertama kali di hukum pada umur tersebut (Farrington 1992b). Kurva permulaan tersebut naik sampai umtu 25 pada pria kelas-pekerja di London dan Stockholm adalah sangat mirip (Farrington dan Wikstrom 1993).

            Bukannya menampilkan taraf permulan dengan semua orang dalam suatu kelompok yang masih sebagai angka penyebut  (denominator), adalah lebih untuk menampilkan taraf  “bahaya”. Hal ini menghubungkan angka para perlaku kejahatan pertama dengan jumlah orang yang tetap berisiko melakukan kejahatan pertama, tidak termasuk orang-orang dengan permulaan sebelumnya. Farrington, Loeber, Elliot, dkk. (1980) menampilkan taraf bahaya dan taraf permulaan untuk hukuman di Studi Cambridege. Taraf bahaya memperlihatkan puncak kemudian pada umur 17. 5,5 persen pria yang masih berisiko  pertama kali dihukum pada umur tersebut. Pada dasarnya, taraf bahaya puncak adalah lebih kemudian dan lebih besar daripada tarak permulaan puncak karena berkurangnya jumlah pria yang tetap berisko terhadap hukuman pertama dengan umur yang meningkat (denominator). McCord (1990) memperlihatkan bagaimana taraf  bahaya bervariasi menurut variabel latar belakang sosial. Di Studi Cambridge, Farrington dan Hawkins (1991) menemukan bahwa prediktor masa kanak-kanak terbaik pada permulaan dini versus kemudian dalam kejahatan adalah: jarang menghabiskan waktu luang dengan bapak, sangat suka membuat masalah, dan impulsifitas psikomotor yang tinggi.

            Dalam kenyataannya, dan dalam model matematika, umur sebenarnya permulaan kejahatan akan mendahului umur hukuman pertama. Dengan mengetahui frekuensi kejahatan individual yang sebenarnya (yang dapat diperkirakan dari interval waktu di antara kejahatan-kejahatan, adalah mungkin untuk memperkirakan umur permulaan yang sebenarnya dari umur permulaan yang diukur. Sebagai contoh, jika frekuensi kejahatan individual yang sebenarnya adalah dua per tahun, dan umur permulaan yang diukur (kejahatan pertama yang dicatat) adalah 13,0 tahun, umur permulaan yang sebenarnya adalah 12,5 tahun (karena waktu rata-rata  terhadap kejahatan pertama adalah 0,5 tahun).

            Kita juga diharapkan untuk mempelajari rangkaian permulaan, untuk menyelidiki seberapa jauh  permulaan satu jenis kejahatan diikuti oleh permulaan jenis yang lain. Umur permulaan bervariasi menurut berbagai jenis kejahatan yang berbeda. Dalam studi tentang pelaku kejahatan Montreal, LeBlanc dan Frechette (1989) menemukan bahwa pencurian di toko dan vandalisme cenderung terjadi sebelum umur permulaan rata-rata remaja (11), pencurian dan pencurian kendaraan motor dalam permulaan rata-rata remaja (14-15), dan kejahatan seks dan perdagangan obat-obatan dalam tahun remaja akhir (permulaan rata-rata 17-19). Juga dikembangkan dengan baik bahwa penyalah gunaan substansi tertentu memprediksikan penggunakan obat-obatan yang serius kemudian. Sebagai contoh, Yamaguchi dan Kandel (1984) memperlihatkan bahwa penggunaan alkohol mendahului merokok, yang pada gilirannya mendahului penggunaan mariyuana, yang pada gilirannya mendahului penggunaan obat-obatan terlaran yang lainnya.

            Dengan menilai dari umur rata-rata permulaan, permulaan mencuri di toko dan vandalisme mungkin menghasilkan kesempatan awal untuk mendeteksi para pelaku kejahatan kriminal serius. Namun, permulaan perilaku anti-sosial masa kanak-kanak seperti kekejaman terhadap hewan mungkin memberikan indikasi yang bahkan lebih awal. Berdasarkan laporan retrospektif oleh orang-tua tentang anak-anak yang sering berhubungan dengan klinik, Loeber dan kawan-kawan (1992) menemukan bahwa pelanggaran aturan di rumah cenderung terjadi pada umur rata-rata permulaan 4,5 tahun, kemudian kekejaman terhadap hewan (5,0), mengancam (5,5), berbohong, mencuri,  berkelahi (6,0), vandalisme (6,5) dan akhirnya pencurian (10,0), Kita diharapkan untuk menyelidiki apakah rangkaian permulaan ini terjadi dalam para individu. Rangkaian permulaan mungkin menyimpulkan adanya tahap-tahap ketika intervensi dapat diperkenalkan untuk mencegah peningkatan ke perilaku yang lebih serius.

            Dalam Studi Cambridge, umur rata-rata hukuman pertama adalah 17,5. Para pria yang pertama kali dihukum pada umur yang paling dini (10-13) cenderung menjadi para pelaku kejahatan yang paling bertahan, melakukan rata-rata 8,1 kejahatan yang mengarah ke hukuman dalam suatu karir kriminal yang bertahan 9,9 tahun (Farrington 1992b). Begitu juga,  Farrington dan Wikstrom (1993), dengan menggunakan laporan resmi di Stockholm, dan LeBlanc dan Frechette (1989( menggunakan laporan-sendiri dan laporan resmi di Montreal memperlihatkan bahwa lamanya karir kriminal berkurang dengan meningkatnya umur permulaan. Biasanya adalah benar bahwa permulaan dini oax memprediksikan karir anti-sosial yang serius dan panjang (Loeber dan LeBlanc 1990). Reitsma-Street dan kawan-kawan (1985) menemukan bahwa para remaja anti-sosial di Ontario telah memulai merokok, minum-minum, penggunaan obat-obatan, dan perilaku seksual pada rata-rata lebih dari dua tahun sebelum saudara kandung mereka yang non-anti-sosial.

            Jelas, umur awal permulaan mendahului karir kriminal panjang (lihat juga Home Office 1987). Apakah hal itu juga mendahului frekuensi kejahatan yang tinggi adalah kurang jelas. Hamparian dkk (1978) dalam suatu studi tentang remaja pelaku kekerasan di Ohio, melaporkan bahwa terdapat hubungan linier (negatif) antara umur permulaan dan jumlah kejahatan. Dengan mengabaikan kemungkinan penghentian, hal ini menyimpulkan bahwa frekuensi kejahatan mungkin konstan secara yang dapat ditoleran antara permulai dan ulang tahun ke-18. Namun,  Tolan (1987) menemukan bahwa frekuensi kejahatan yang dilaporkan-sendiri waktu itu adalah paling besar untuk orang-orang dengan masa permulaan yang paling dini.

            Adalah penting untuk mengetahui kenapa umur dini permulaan mempredikisi karir kriminal yang panjang dan kejahatan yang banyak. Menurut Gottfredson dan Hirschi (1986), satu kemungkinan adalah bahwa umur dini permulaan hanya merupakan satu gejala dari satu potensi kriminal yang tinggi, yang kemudian memperlihatkan dirinya sendiri dalam kejahatan yang bertahan lama dan serius.  Menurut teori ini, suatu umur dini permulaaan tidak mempunyai pengaruh terhadap konsepsi-konsepsi teoritis mendasar. Kemungkinan lain adalah bahwa umur dini permulaan dengan suatu cara mendukung kejahatan kemudian, mungkin karena pengaruh pengukuhan dari kejahatan dini yang berhasil atau efek penodaan oleh hukuman. Dengan kata lain, suatu permulaan dini menimbulkan perubahan dalam konsepsi teoritis  mendasar seperti probabilitas persistensi. Nagin dan Frrington (1992a) menyimpulkan bahwa hubungan terbalik antara umur permulaan dan persistensi (keberlanjutan) dalam Studi Cambridge dapat secara keseluruhan diakibatkan oleh keberlanjutan potensi kriminal yang ada sebelumnya, dan bahwa umur awal permulaan tidak mempunyai dampak tambahan terhadap keberlanjutan.

            Suatu kejahatan awal berjenis tertenu mungkin memprediksikan frekuensi yang tinggi kemudian atau karir kriminal yang serius. Sebagai contoh, studi  Home Office (1987) memperlihatkan bahwa kejahatan pencurian atau pencurian dengan pembongkaran permulaan secara khusus prediktif terhadap keberlanjutan dalam kejahatan. Jenis informasi ini mungkin berguna dalam mengidentifikasikan pada hukumana atau penahanan pertama orang-orang yang berisko tinggi meningkat menjadi seorang karir kriminal yang serius dan berlanjut.

Desistensi (Penghentian)

Umur sebenarnya penghentian dari kejahatan hanya dapat ditentukan dengan kepastian sesudah para pelaku kejahatan. Dalam Studi Cambridge sampai umur 32, umur rata-rata kejahatan terakhir,  menurut catatan resmi adalah 23, 3. Karena umur rata-rata kejahatan pertama adalah 17,5, panjang rata-rata karir kriminal yang dicatat adalah 5,8 tahun, dengan rata-rata  4,5 hukuman yang dicatat per pelaku kejahatan selama periode ini (Farrington 1992b).

            Dalam studi kelompok Philadelhia, Wolfgang dkk (1972) memperlihatkan bahwa probabilitas kembali melakukan kejahatan (persistensi dibandingkan dengan desistensi) meningkat sesudah kejahatan yang berturut-turut. Probabilitas ini adalah 0,54 sesudah kejahatan pertama, 0,65 setelah kejahatan kedua, 0,72 sesudah ketiga, dan mencapai asimtot sebesar 0,80 sesudah enam atau lebih penahanan. Dengan mengasumsikan suatu proses probabilitas dengan probabilitas rho  keberlanjutan sesudah setiap kejahatan, dan sebaliknya suatu probabilitas (1 – rho) penghentian, jumlah kejahatan masa depan yang diharapkan sesudah kejahatan tertentu adalah rho/(1 – rho), yang pada asimtot (rho + 0,80) adalah 4. Beberapa periset lain telah meniru hasil-hasil ini dengan memperlihatkan pertumbuhan dalam probabilitas residivisme setelah masing-masing kejahatan yang berturut-turut (lihat Blumstein dkk, 1985; Farrington dan Wikstrom, 1993).

            Barnet dll (1987) mengajukan  model matematika yang lebih rumit untuk data Studi Cambridge, yang bertujuan untuk menjelaskan interval waktu antara hukuman begitu juga probabilitas residivisme. Mereka membedakan “yang sering” dan “yang jarang” yang berbeda dalam taraf kejahatan dan probabilitas keduanya untuk berhenti sesudah masing-masing hukuman. Rangkaian longitudinal hukuman paling dicocokkan dengan mengasumsikan probabilitas persistensi sesudah masing-masing hukuman adalah 0,90 untuk pelaku yang sering dan 0.67 untuk pelaku kadang-kadang.

            Model-model ini mengasumsikan bahwa penghentian/desistensi terjadi atau tidak terjadi segera sesudah setiap  penghukuman. Dengan demikian terdapat asumsi tersirat yang sesuatu yang berkaitan dengan penghukuman (misalnya hukuman) mempunyai suatu pengaruh, dengan probabilitas tertentu.  Model alternatif adalah bahwa sesudah permulaan, penghentian terjadi secara berturut-turut sebagai proses tahunan. Dengan asumsi ini dalam data London, taraf tahunan penghentian untuk yang sering (0.11) tidak secara signifikan berbeda dari yang jarang (0,14). Adalah sulit untuk membedakan antara model-model alternatif ini berdasarkan rangkaian penghukuman saja. Namun, model-model ini mempunyai implikasi kebijakan dan teoritis yang sangat berbeda.

            Barnett dll (1989) juga melangsungkan tes prediktif model mereka dengan data Studi Cambridge. Model ini dikembangkan pada data penghukuman antara ulang tahun ke-10 dan ke-25 dan menguji data penghukuman ulang antara ulang tahun ke-25 dan 30. Secara umum, model ini tampil dengan baik, tapi tampaknya adalah perlu untuk mengasumsikan bahwa terdapat suatu  keadaan sebentar-sebentar/intermitensi (berhenti dan kemudian memulai kembali) dalam karir kriminal. Beberapa pelaku yang sering berhenti melakukan kejahatan pada umur rata-rata 19 dan kemudian memulai kembali sesudah periode sepanjang 7-10 tahun dengan tanpa penghukuman. Adalah penting untuk mengetahui kenapa pengawalan kembali ini muncul.

            Beberapa proyek telah secara eksplisit menyelidiki kenapa para pelaku kejahatan berhenti. Sebagai contoh, dalam Studi Cambridge, menikah dan pindah keluar London keduanya mendukung penghentian (Osborn 1980; West 1982). Shover secara eksplisit mengajukan perntanyaan eksplisit tentang penghentian kepada orang-orang yang lebih tua yang berhenti melakukan kejahatan. Alasan utama yang diajukan untuk penghentian berfokus pada meningkatnya biaya kejahatan (hukuman penjara yang lama), pentingnya hubungan yang intim dengan wanita, kepuasan yang meningkat dengan pekerjaan, dan menjadi lebihmatang, bertanggung jawab, dan tenang karena usia. Beberapa implikasi kebijakan dari riset penghentian adalah bahwa para pelaku kejahatan hendanya dibantu untuk tenang dalam hubungan pernikahan yang stabil dan dalam pekerjaan yang stabil, dan membantu untuk memisahkannya dari rekan-rekan kriminalnya.

Para Pelaku Kejahatan Kronis

Dalam studi kelompok Philadelphia, Wolfgang dkk (1972) memperlihatkan bahwa 6 persen pria (18 persen pelaku kejahatan) membentuk 52 persen dari semua tahanan remaja, dan menyebut ke 6 persen “pelaku kejahatan kronis”. Para orang kronis bahkan membentuk proprossi yang lebih tinggi dalam kejahatan serius: 69 persen dari semua penyerangan yang menjengkelkan, 71 persen pembunuhan, 73 persen pemerkosaan dengan kekerasan, 82 persen perampokan. Frekuensi dan keseriusan kejahatan biasanya berhubungan. Para periset lain telah secara esensial meniru hasil-hasil ini. Sebagai contoh, dalam Studi Cambridge, Farrington (1983a) menemukan bahwa sekitar 6 persen dari pria membentuk setengah dari semua penghukuman. Lebih lanjut, ketika penghukuman dari semua anggota keluarga (bapak, ibu, anak laki-laki, dan anak perempuan) ditambahkan bersama. Ditemuka bahwa kurang dari 5 persen keluarga membentu separuh dari semua penghukuman (West dan Farrington 1977).  Di Stockholm. Wikstrom (1987) memperlihatkan bahwa hanya 1 persen dari para anggota kelompok Project Metrolpolitan (8 persen dari semua pelaku kejahatan) yang menimbulkan separuh dari semua kejahatan, sementara Pulkkinen (1988) di Finlandia menemukan bahwa 4 persen dari semua pria dan 1 persen wanita menyebabkan separuh dari semua penghukuman.

            Para pelaku kejahatan kronis yang menimbulkan jumlah yang tidak proporsional dari semua kejahatan jelas merupakan target utama untuk kontrol dan pencegahan kejahatan. Namun, banyak hal tergantung pada seberapa jauh mereka dapat diidentifkasikan sebelumnya. Blumstein dkk (1985) menyatakan bahwa Wolfgang dkk (1972) mengidentifikasikan para pelaku kronis itu secara retrospektif.  Bahkan jika  remaja-remja yang ditahan benar-benar homogen dalam potensi kriminal mendasar mereka, faktor kesempatan saja akan menyebabkan sebagian dari mereka mendapatkan penahanan yang lebih sering dan yang lain mendapatkan yang lebih sedikit. Karena proses-proses probalistik ini, orang-orang dengan penahanan paling banyak – didefinisikan sebagai fakta tersebut sebagai orang-orang kronis – akan membentuk  fraksi yang tidak seimbang dari jumlah total orang yang ditahan. Sebagai contoh, jika suatu dadu dilemparkan 30 kali dan lima skor yang paling tinggi ditambahkan, hal ini akan membentuk fraksi yang tidak seimbang dari skor total yang diperoleh dalam ke-30 lemparan (30 dari dari 105, berdasarkan rata-rata. 16, 7 persen dari lemparan membentuk 28,6 persen dari skor total.

            Suatu pertanyaan kunci adalah apakah para pelaku kejahatan kronis berbeda secara prospektif dari para pelaku non-kronis dalam frekuensi kejahatan individual mereka. Blumstein dll (1985) menyelidiki hal ini dalam Studi Cambridge. Mereka menggunakan skala variabel tujuh point yang diukur pada umur 8-10, yang mencerminkan perilaku anti-sosial anak, kehilangan secara ekonomi, orang tua yang dihukum, kecerdasan yang rendah, dan perilaku pengasuhan anak yang buruk. Dari 55 orang anak yang mencetak angka 4 atau lebih, 14 adalah pelaku kejahatan yang  kronis (dari total 23 pelaku kronis), 22 dihukum, dan hanya 18 yang tidak sedang dihukum. Dengan demikian, disimpulkan bahwa sebagian besar pelaku kronis telah diprediksi di muka berdasarkan informasi yang tersedia pada umur 10. Adalah benar bahwa hanya minoritas orang yang mencetak skor tinggi yang menjadi kronis. Namun, seperti yang akan dijelaskan di bawah, sisanya tidak semua dinilai sebagai “positif palsu”  atau kesalahan dalam prediksi.

            Blumstein dkk (1985) mengembangkan model matematik dimana semua pria Londin diklasifikasikan sebagai “tidak berdosa”,  “pelaku yang berhenti (desisters)”, “pelaku yang berlanjut (persisters)”.  Hasil yang cocok dengan probabilitas residivisme dalam survei diperoleh dengan mengasumsikan bahaw probabilitas keberlanjutan sesudah setiap penghukuman adalah 0,87 untuk pelaku yang berlanjut dan 0,57 untuk pelaku yang berhenti. Proporsi para pelaku kejahatan pertama yang adalah pelaku yang berlanjut adalah 28 persen. Pelaku yang berlanjut dan yang berhenti berbeda dalam kemungkinan a priori (sebelumnya) untuk berlanjut, tidak dalam dalam jumlah penghukuman             a posteori/sesudahnya (seperti pada pelaku kronis).

            Yang menarik, jumlah pelaku kronis yang diprediksi di antara para pelaku kejahatan (37 mencetak empat atau lebih dari skala tujuh poin) adalah serupa dengan jumlah pelaku yang berlanjut yang dihipotesiskan menurut model matematika.  Lebih lanjut, proses individual keluar dari kejahatan pada pelaku kronis yang diprediksi sangat cocok dengan proses keluar agregat/himpunan dari para pelaku yang berlanjut yang diprediksikan oleh model matematika dengan parameter-parameter yang diperkirakan dari data residivisme agregat. Dengan demikian, pelaku kronis yang diprediksikan dapat dipandang sebagai ekuivalen dengan para pelaku yang berlanjut. Menurut model matematika, karena proses probabilistis, 18,3 dari 36,7 pelaku yang berlanjut akan terus berlanjut untuk mendapatkan tujuh atau lebih penghukuman pada umur 25 (dan dengan demikian diklasifikasikan sebagai kronis). Kenyataannya, 15 dari 37 kejahatan yang diprediksikan menjadi kronis menjadi pelaku kronis sebenarnya. Model matematika tersebut memperlihatkan bahwa adalah tidak tepat untuk melihat ke 23 pelaku kejahatan sebagai “positif palsu” karena konsep ini mencerminkan prediksi yang deteministis. Sebagian besar ketidakcocokan antara pelaku kronis yang diprediksikan dan yang sebenarnya (18,4 dalam model, dari ketidakcocokan sebenarnya sebesar 22) mencerminkan proses penghentian probabilistis bukannya kesalahan dalam identifikasi.

Durasi (Jangka Waktu)

Terdapat lebih sedikit riset tentang riset karir kriminal, Farrington dan Wikstrom (1993) menemukan bahwa, sampai umur 25, anak-anak kelas pekerja mempunyai panjang karir rata-rata di London (3,9 tahun) dan di Stockholm (3,5 tahun). Seperti yang telah disebutkan, anak-anak pria yang pertama kali dihukum pada umur paling dini (10-13) di Studi Cambridge cenderung menjadi para pelaku kejahatan yang paling bertahan/berlanjut, dengan panjang karir rata-rata mendekati 10 tahun sampai umur 32. Orang-orang yang pertama kali pertama kali dihukum pada umur 10-11 mempunyai panjang karir rata-rata selama 11,5 tahun (Farrington 1992b).  Lebih dari seperempat dari semua pria yang dihukum mempunyai karir kriminal yang bertahan lebih lama dari 10 tahun. Jangka waktu rata-rata karir kriminal berkurang secara mencolok dari umur 16 (7, 9 tahun) ke umur 17 (2,9 tahun), menyimpulkan bahwa para pria yang pertama kali dihukum ketika remaja ini merupakan pelaku kejahatan yang jauh lebih berlanjut daripada orang yang pertama kali dihukum sebagai orang dewasa.

            Barnett dkk (1987) memperkirakan panjang karir di Studi Cambridge dengan menggunakan model matematika mereka. Secara rata-rata, para pelaku yang sering mempunyai jangka waktu (durasi) 8,8 tahun dan pelaku kadang-kadang mempunyai jangka waktu 7,4 tahun (Kedua kelompok mencakup hanya pria denagn dua atau lebih hukuman). Dengan demikian, pelaku yang sering dan kadang-kadang tidak berbeda jauh dalam panjang karir mereka, biarpun mereka cukup besar dalam frekuensi  kejahatan individual mereka. Hanya sedikit yang diketahui tentang prediktor dan korelasi dalam durasi karir kriminal.

            Konsep penting lainnya adalah panjang sisa/residual dari karir kriminal pada waktu tertentu. Blumstein dll (1982) menggunakan metode tabel-hidup (life-table) untukmemperkirakan panjang karir residual (sisa), dan seperti yang telah dijelaskan, menemukan bahwa hal itu memuncak antara umur 30 dan 40. Satu area dimana pengetahuan tentang panjang karir sisa adalah penting adalah dalam memperkirakan pengaruh penahanan yang menghilangkan-kapasitas. Jika  waktu penahanan rata-rata melebihi panjang karir sisa, orang-orang akan dipenjara melebihi titik dimana mereka akan berhenti melakukan kejahatan. Dengan demikian, ruang penjang yang berharga mungkin disia-siakan dengan memenjarakan orang-orang yang telah berhenti melakukan kejahatan.

Kontinuitas

Secara umum. terdapat kontuinas (keberlanjutan) antara melakukan kejatan dalam satu rentang umum dan melakukan kejahatan pada umur yang lain. Dalam Studi Cambridge, hampir tiga perempat (73 persen) dari orang yang dihukum sebagai remaja pada umur 10-16 dihukum lagi paa umur 17-24, dibandingkan dengan hanya 16 persen dari orang yang tidak dihukum sebagai remaja (Farrington 1992b).  Hampir setengah (45 persen) dari orang yang dihukum sebagai remaja dihukum ulang pada umur 25-32, dibandingkan dengan hanya 8 persen dari orang-orang yang tidak dihukum sebagai remaja. Lebih lanjut, kontinuitas dari waktu ke waktu ini tidak sekedar mencerminkan kontinuitas dalam reaksi polisi terhadap kejahatan. Farrington (1989c), memperlihatkan bahwa, untuk 10 kejahatan yang dispesifikasi, kontinuitas yang signifikan antara melakukan kejahatan di satu rentang umur dan melakukan kejahatan rentang umur kemudian berlaku untuk laporan sendiri begitu jgua penghukuman resmi.

            Studi-studi lain (al. McCord 1991) memperlihatkan kontinuitas yang serupa. Sebagai contoh di Swedia, Stattin, dan Magnusson (1991) melaporkan bahwa hampir 70 persen pria yang didaftarkan atas kejahatan sebelum umur 15 didaftarkan kembali antara umur 15 dan 20, dan hampir 60 persen terdaftar antara 21 dan 29. Juga, jumlah kejahatan remaja adalah prediktor yang efektif dari jumlah kejahatan dewasa (Wolfgang dkk, 1987). Farrington dan Wikstrom (1993) memperlihatkan bahwa terdapat kontinuitas yang cukup besar dalam melakukan kejahatan antara umur 10 dan 25 di kota London dan Stickhom.

            Tidak selalu disadari bahwa kontinuitas relatif adalah sangat dapat kompatibel dengan perubahan mutlak. Dengan kata lain, penatan relatif orang-orang pada suatu konsepsi yang mendasar seperti potensi kriminal dapat tetap stabil secara signifikan dari waktu ke waktu, biarpun tingkat potensi kriminal mutlak berkurang secara rata-rata untuk semua orang. Sebagai contoh, Farrington  (1990a) di Studi Cambridge memperlihatkan bahwa prevalensi kejahatan yang dilaporkan sendiri berkurang secara signifikan antara 18 dan 32, tapi bahwa terdapa kecenderungan signifikan untuk antara umur 18 dan 32, tapi bahwa terdapat kecenderungan signifkan untuk pelaku kejahatan terburuk pada umur 18 untuk juga menjadi pelaku kejahatan terburuk pada umur 32.

            Terdapat dua alasan alternatif untuk kelanjutan antara kejahatan masa depan dan masa lalu (Nagin dan Farrington 1992b). Salah satunya adalah bahwa hal itu mencerminkan konsepsi mendasar yang stabil seperti potensi kriminal. Hal ini disebut sebagai penjelasan “heterogenitas persisten”. Yang kedua adalah bahwa  dilakukannya satu kejahatan menimbulkan kenaikan dalam probabilitas dalam dilakukan dari kejahatan masa depan, mungkin karena pengukuhan ulang atau penodaan/stigmatisasi. Hal ini disebut sebagai penjelasan “depedensi keadaan”. Dalam memprediksi penghukuman selama masing-masing rentang umur di Studi Cambridge, model yang terbaik mencakup umur, kecerdasan, kenekadan, orang tua yang dihukum, dan pengasuhan anak yang buruk, tapi tidak mencakup penghukuman sebelumnya. Dengan demikian, penghukuman sebelumnya tidak mempredisi hukuman masa depan secara independen dari faktor-faktor latar belakang dan umur, sehingga bahwa penjelasan heterogenitas yang persisten mendapat dukungan. Dengan kata lain, kontinuitas antara hukuman masa lalu dan depan mencerminkan kontinuitas dalam potensi kriminal yang mendasar.

            Hasil-hasil ini sesuai dengan gagasan bahwa terdapat kecenderungan untuk keberlanjutan dari “kepribadian anti sosial’ yang mendasari dari masa kanak-kanak ke masa remaja dan menuju usia dewasa. Robin (eg, 1986) telah secara konsisten memperlihatkan bagaimana suatu konstelasi indikator perilaku antis-sosial memprediksikan konstelasi indikator-indikator  perilau anti sosial dewasa. Dalam beberapa studi longitudinal, jumlah gejala masa kanak-kanak yang berbeda memprediksikan jumlah gejala dewasa yang berbeda, bukannya ada kaitan antara gejala anak-anak dan dewasa tertentu (Robins dan Wish 1977, Robins dan Ratcliff 1987, 1980). Berbagai studi yang lain juga memperlihatkan bahwa masalah perilaku masa kanak-kanak memprediksi perilaku anti-sosial dan kejahatan kemudian (al Loeber dan LeBlanc, 1990). Sebagai contoh, Spivack dkk (1996) di Philadelphia menemukan bahwa  perilaku bermasalah di taman kanak-kanak (umur 3-4) memprediksikan kontak poliso pada masa kemudian, dan Ensminger dkk (1983) di Chicago dan Tremblay dkk (1988) di Montreal memperlihatkan bahwa pemeringkatan keagresifan oleh guru dan teman di kelas satu (umur  6-7) memprediksikan kejahatan melapor sendiri pada umur 14-15.

            Begitu juga, dalan Studi Cambridge terdapat bukti kontinuitas dalam perilaku sosial dari masa kanak-kanak sampai umur remaja. Skala kepribadian anti-sosial pada umur 10 berkorelasi 0,50 dengan skala yang berhubungan pada umur 14 dan 0,38 dengan skala pada umur 18 (Farrington 1991a). Prediktor terbaik kedua dari skala kecenderungan anti-sosial pada umur  18 adalah masalah masalah suka menganggu pada masa kanak-kanak (membuat gangguan di sekolah, al perilaku buruk atau kemalasan) pada umur 8-10, diperingkatkan oleh teman dan guru (Farrington 1993b), prediktor terbaik kedua adalah mempunyai orang tua yang dihukum pada umur 10. berkaitan dengan tipe khusus perilaku anti-sosial, sifat suka menganggu/bermasalah adalah satu-satunya faktor yang diukur pada umur 8-10 yang secara signifikan memprediksikan pengancaman pada umur 14 dan 18 (Farrington 1993d). Lagi, sifat bermasalah pada umur 8-10 adalah prediktor terbaik dari mangkin dan agresi pada umur 12-14 di SLTP (Farrington 1980, 1989a).

            Juga terdapat kontinuitas dalam perilaku anti sosial dalam usia-usia yang lebih mudah. Sebagai contoh, Rose dkk (1989) di New York City menemukanb ahwa skor ekstenalisasi (minggat) pada Checklist Perilaku Anak Achenbacah (menggambarkan sindrom anti-sosial menyeluruh/broadband. Lihat Achenbach dan Edelbrock 1983) secara signifikan berkorelasi (r karir kriminal 0,57) antara umur 2 dan 5.  Lebih lanjut, pemeringkatan ibu terhadap temparamen sulit anak laki-lakinya pada umur 6 bulan secara signifikan memprediksikan (rkarir kriminal0,31) skor ekstenalisasinya pada umur 8 tahun dalam survei longitudinal Bloomington (Bates dkk, 1991). Bisa diperdebatkan bahwa jenis hubungan ini mencerminkan stabilitas kepribadian orang tua daripada perilaku anak, tapi hasil-hasil yang serupa diperoleh bahkan dengan sumber data yang berbeda (orang tua pada umur yang lebih awal dan guru-guru kemudian). Dalam London luar, Richman dkk. (1985) melaporkan bahwa masalah perilaku cenderung bertahan antara 3 dan 8, dan di Selandia Baru White dkk (1990) memperlihatkan bahwa skor eksternalisasi dan sulit untuk diatur pada umur 3 memprediksi perilaku anti-sosial pada umur 11.

            Juga terdapat kontinuitas dalam perilaku anti-sosial dari remaja sampai dewasa. Dalam Studi Cambridge, suatu ukuran disfungsi sosial dewasa pada umur 32 dikembangkan berdasarkan penghukuman (dalam lima tahun sebelumnya), kejahatan yang dilaporkan sendiri, kondisi rumah yang buruk, sejarah pekerjaan yang buruk, penyalahgunaan zat tertentu, kekerasan, dan kesehatann mental yang buruk (skor yang tinggi pada Kuesioner Kesehatan Umum, lihat Farrington dkk 1988a, b, dan Farrington 1989b). Ukuran disfungsi sosial dewasa pada umur 32 secara signifikan diprediksi oleh ukuran kecenderungan anti-sosial pada umur 18 (Farrington 1993b). Begitu juga, ukuran kepribadian anti-sosial pada umur 32 dikembangkan dan dapat dibandingkan dengan ukuran kepribadian anti-sosial  untuk masa-masa lebih awal. Kepribadian anti-sosial pada 18 berkorelasi 0,33 dengan kepribadian anti-sosial pada umur 32 (Farrington 1991a).

            Dinyatakan dengan cara lain, 60 persen dari sebagian pria anti-sosial pada umur 18 tetap dalam perilaku anti-sosial kemudian pada umur 32. Dengan memperhatikan perubahan lingkungan yang sangat besar antara 18 dan 32, ketika para pria tersebut meninggalakan rumah orang tua mereka, menuju periode pengaturan hidup yang tidak stabil, dan akhirnya menetap dalam rumah tangga, konsistensi dari waktu ke waktu ini tampaknya mencerminkan konsitensi dalam kepribadian individual daripada konsistensi lingkungan. Sering ditemukan bahwa hampir separuh sampel anak-anak anti-sosial berlanjut menjadi orang dewasa yang anti-sosial. Dengan membandingkan korelasi 0,55 antara umru 18 dan 32 dengan  korelasi 0,38 antara umur 10 dan 18, adalah menarik bahwa terdapat stabilisasi yang meningkat dari kepribadian anti-sosial menurut umur.

            Zoccolillo dkk (1992) dalam studi lanjutan terhadap anak-anak yang sedang diasuh, juga memperlihatkan kontinuitas antara gangguan perilaku masa kanak-kanak (pada umur 9-12) dan disfungsi sosial dewasa (pada umur 26) dalam bidang pekerjaan dan hubungan sosial dan seksual. Sebagai contoh, 81 persen orang-orang dengan tiga atau lebih gejala gangguan perilaku memperlihatkan disfungsi dalam dua atau lebih bidang dibandingkan dengan hanya 21 persen orang-orang dengan 0-2 gejala gangguan perilaku. Mendekati separuh (40 persen) dari pria dengan tiga atau lebih gejala gangguan perilaku memperlihatkan perilaku anti sosial yang persisten sesudah 18 dan memenuhi kriteria psikiatrik untuk gangguan kepribadian anti-sosial dewasa.

Kontinuitas dalam perilaku anti-sosial tidak berarti bahwa kita ingin mempelajari pengaruh pada segi-segi karir kriminal seperti awal dan penghentian. Tidak seperti Gottfredson dan Hirschi (1990), saya tidak akan berargumen bahwa semua segi karir krimnal hanya mencerminkan satu konsepsi mendasar potensi kriminal. Juga, persistensi perilaku anti-sosial tidak berarti bahwa tidak ada cakupan untuk perubahan. Korelasi antara tindakan kepribadian anti-sosial pada umur-umur yang berbeda (misalnya korelasi 0,55 antara 18 dan 32), dan fakta bahwa hanya sekitar setengah anak anti-sosial menjadi orang dewasa anti-sosial, memperlihatkan bahwa sejumlah besar perubahan relatif terjadi. Hal ini menjadikan mungkin untuk menyelidiki faktor-faktor yang mungkin mendorong anak-anak anti-sosial untuk menjadi kurang anti-sosial ketika mereka menjadi makin tua, sehingga mungkin mendorong penghentian awal.

            Terdapat kontinuitas spesifik dan umum dalam perilaku anti-sosial dari umur remaja sampai dewasa. Dalam Studi Cambridge, Farrington  (1990a) mengembangkan ukuran perubahan mutlak dan konsistensi relatif antara 18 dan 32. Sebagai contoh, prevalensi penggunaan mariyuana berkurang secara signifikan, dari 29 persen pada umur 18 menjadi 19 persen pada umur 32. namun, terdapat kecenderungan signifikan untuk para pengguna pada umur 18 untuk juga menjadi pengguna pada umur 32 (44 persen pengguna pada umur 18 adalah pengguna pada umru 32, sementara hanya 8 persen dari nonpengguna pada 18 menjadi pengguna pada umur 32). Para periset lain (misalnya Ghodsian dan Power 1987) juga telah melaporkan konsistensi signifikan dalam penyalahgunaan zat antara remaja dan dewasa.

            Sebaliknya, prevalensi minum-minum dan mengendarai sambil mabuk bertambah secara signifikan antara 18 dan 32, tapi terdapat lagi konsistensi yang signifikan dari waktu ke waktu. Prevalensi  merokok berat tidak berubah secara signifikan antara 18 dann 32, tapi terhadap lagi konsistensi signifikan dari waktu ke waktu. Karena itu, konsistensi relatif dapat berdampingan dengan kenaikan mutlak, pengurangan, atau keadaan konstan dalam perilaku anti-sosial dalam Studi Cambridge. Di Belanda, Verhulst dkk (1990) juga melaporkan stabilitas relatif dan perubahan mutlak dalam perilaku anti-sosial masa kanak-kanak.

            Biasanya terdapat kontinuitas spesifik dan umur dalam agresi dan kekerasan dari tahun-tahun remaja sampai dewasa. Pada Studi Cambridge, agresi pada umru 16-18 adalah prediktor terbaik dari berkelahi pada umur 32 (Farrington 1989a). Penyerangan pasangan pada umur 32 secara signifikan diprediks oleh agresi terhadap guru pada umur 12-14, dan oleh kepribadian anti-sosial pada umur 14 dan 18, tapi tidak (secara mengejutkan) oleh agresi pada umur 18 (Farrington 1993a). Mengancam pada umur 32 secara spesifik diprediksikan oleh perilaku mengancam pada umur 14 dan 18 secara independen dari kontinuitas antara ageri pada 14 dan 18 dan agresi pada umru 32 (Farrington 1993d). Lebih lanjut, tindakan mengancam pada umur 14 dan 18 memprediksikan tindakan mengancam oleh anaknya ketika dia berusia 32 tahun, memperlihatkan bahwa terhadap kelanjutan antargenerasi dalam perbuatan mengancam (bullying). Dalam studi mereka di New York, Eron dan Huesmann (1990) juga menemukan bahwa agresi seorang anak laki-laki pada  umru 8 memprediksi tidak hanya agresi dan penyerangan pasangannya pada umur 30 tapi juga keagresifan anaknya.

Spesialisasi dan Peningkatan

Pada Studi Cambridge, Farrington (1991b) menginvestigasi sejauh mana pelanggar tindak kejahatan terspesialisasi. Kurang lebih 1/3 dari pria yang dituduh (50 dari 153) adalah dituduh tindakan kekerasan (penyerangan, perampokan, atau tindak pengancaman). Mereka melakukan tindakan dengan total 85 tindak pelanggaran dengan kekerasan (rata-rata 1,7 per orangnya), tetapi mereka juga terbukti melakukan 263 tindak pelanggaran bukan kekerasan (rata-rata 5,3 per orangnya). Hanya 7 dari 50 pelanggar tindak kejahatan tidak terbukti melakukan tindak pelanggaran bukan kekerasan. Peneliti lain(contoh Hamparian dkk, 1978; Snyder 1988) juga menemukan bahwa mayoritas pelanggar tindak kejahatan adalah bukan tidak kekerasan. Farrington (1991b) menguji sebuah model yang diasumsikan bahwa pelanggaran tindak kejahatan terjadi secara random pada karir kriminal. Karena data tersebut sesuai dengan model ini, dapat disimpulkan bahwa pelanggar tidak memiliki spesialisasi dalam tindak pelanggaran. Selain itu, pelanggar tindak kejahatan dan bukan tidak kejahatan/kekerasan bukan pelanggar yang terus menerus adalah nampaknya mempunyai ciri yang sama pada masa kanak-kanak, remaja dan dewasa. Karena itu, pelanggar tidak kejahatan adalah biasanya pelanggar yang sering melakukan pelanggaran.

            Menggunakan data karir kriminal yang dikumpulan di South East Prison Survey, Stander dkk (1989) meneliti spesialisasi dengan acuan/susunan pada perubahan dari satu tindak pelanggaran ke tindak pelanggaran lain. Biasanya, susunan ini tidak berubah (stabil/konstan) selama karir kriminal. Stander dkk., mempelajari apakah kejadian pelanggaran dapat dilihat sebagai rantai urutaan pertama Markov (contoh apakah kemungkinan dari pelanggaran yang mengikuti pelanggaran lain tidak dipengaruhi oleh catatan pelanggaran sebelumnya), tetapi disimpulkan bahwa mereka tidak dapat. Dimana terdapat sejumlah hal yang umum dalam pelanggaran, terdapat beberapa spesialisasi yang berhubungan dengan hal itu. Mereka menemukan bahwa pelanggar tindak kejahatan seks adalah yang paling terspesialisasi, dan bahwa spesialisasi dalam penipuan adalah terutama dicirikan untuk pelanggar kontinyu. Penelitian karir kriminal lain juga menyatakan bahwa terdapat tingkat kecil dari spesifikitas terdapat pada sejumlah besar keumuman atau fleksibilitas dalam melakukan pelanggaran (lihat Farrington, Snyder dan Finnegan, 1988). Juga terdapat beberapa indikasi dari peningkatan spesialisasi (penurunan diversifikasi) dengan umur.

            Terdapat penelitian yang lebih sedikit tentang peningkatan (eskalasi), sebagian karena asumsi dominan dalam fleksibilitas dan pada fakta bahwa tipe yang berbeda dari pelanggar nampaknya terbukti melakukan pelanggaran hampir secara random selama karir kriminal. Pada studi kelompok Philadelphia, Tracy dkk.., (1990) menemukan bahwa rata-rata keseriusan dari pelanggaran meningkat sejalan dengan pelanggar bertambah usia dan dengan setiap tindak pelanggaran yang berhasil. Informasi lain tentang peningkatan, dan terutama tentang perkiraan dari peningkatan, adalah dibutuhkan..

Pelanggaran pendukung dan Motifnya

Penelitian karir kriminal sebelumnya terutama hanya memfokuskap pada kelaziman, frekuensi, permulaan, penghentian, durasi, dan spesialisasi. Meskipun demikian, terdapat banyak bentuk pelanggaran lain yang dapat dipelajari dalam penelitian karir kriminal. Ini mencakup apakah seseorang melakukan suatu pelanggaran sendiri atau dengan orang lain; lokasi dari pelanggaran, dan jarak yang ditempuh oleh pelanggar untuk melakukan pelanggaran tersebut; motif untuk melakukan pelanggaran; metoda dalam melakukan pelanggaran, termasuk penggunaan kekuatan psikologis atau fisik; kemungkinan pelanggar untuk tertangkap oleh polisi, terbukti bersalah, dan dimasukkan kedalam penjara; dan penggunaan pelanggar akan biaya dan keuntungan dari tindak pelanggaran. Sebelum tulisan LeBlanc dan Frechette (1989), hanya terdapat sedikit penelitian tentang topik ini dalam perspektif karir kriminal, mengabaikan hubungan yang potensial mereka. Banyak bentuk pelanggaran dapat membantu dalam mendeteksi pelanggar, sebagai contoh melalui “melihat riwayat pelanggar” (Contoh Canter 1989), tetapi disini saya akan memfokuskan pada pelanggaraan pendukung dan motifnya.

            Pada Studi Cambridge, Reiss dan Farrington (1991) menemukan bahwa kira-kira setengah dari semua pelanggar yang terbukti bersalah dengan (biasanya satu atau dua orang) lainnya, dan bahwa kejadian dari pelanggaran pendukung adalah paling besar untuk pembongkaran dan perampokan. Pelanggaran pendukung menurun secara konstan sesuai dengan umur dari 10 hingga 32. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ini bukan disebabkan karena pelanggaran pendukung menurun tetapi karena pria berubah dari mendukung pelanggaran pada usia remaja mereka hingga sendiri dalam melakukan pelanggaran di usia 20-an dari pelanggar. Pria yang melakukan tindak pelanggaran pertama mereka dengan orang/pelanggar lain cenderung memiliki karir kriminal yang lebih panjang daripada pelanggar yang melakukan tindak pelanggaran mereka sendiri, tetapi ini terutama karena tindak pelanggaran pertama dengan yang lain telah melakukan pelanggaran pada usia yang lebih muda daripada tindak pelanggaran pertama yang sendiri, dan tentu saja pelanggar yang memiliki usia lebih awal dalam mengawali pelanggaran cenderung untuk lebih konsisten dalam melakukan pelanggaran pendukung atau pelanggaran sendiri antara satu pelanggaran ke pelanggaran lain.

            Pembongkaran, perampokan, dan pencurian dari kendaraan terutama adalah cenderung untuk melibatkan pendukung (partner) pelanggar. Biasanya, pendukung pelanggar adalah sama dalam usia, jenis kelamin dan ras dengan pihak pria pelanggar, dan tinggal berdekatan dengan tempat tinggal pria dan lokasi dari tindak pelanggaran. Meskipun demikian, kesamaan antara pria dan pendukung mereka, dan kedekatan tempat tinggal mereka, menurun sejalan dengan usia. Hubungan pendukung pelanggar cenderung untuk tidak bertahan lama; jarang sekali lebih dari satu tahun. Kira-kira 1/3 dari pelanggar yang paling kontinyu secara terus menerus melakukan pelanggaran dengan pendukung pelanggar yang kurang memiliki pengalaman, dan karena itu nampaknya cenderung untuk terus berulang dalam merekrut orang lain menjadi suatu kehidupan tindak kriminal. Perekrutan adalah sangat umum untuk tindak pelanggaran perampokan. (Untuk suatu review dari penelitian pada pendukung pelanggar, lihat Reiss, 1988.)

            West dan Farrington (1977) menemukan bahwa motif yang paling umum yang ada untuk pelanggaran properti (46% dari pelanggaran yang dilaporkan sendiri, 43% pelanggaran mengarah pada pengakuan) adalah pelanggaran yang efektif, rasional dan ekonomis; pelanggaran dilakukan untuk kebutuhan materi. Motif yang paling umum berikutnya (31% pelanggaran yang dilaporkan sendiri, 22% pelanggaran pengakuan) dapat dimasukkan dalam kategori hanya mencari kesenangan/kepuasan saja; pelanggaran yang dilakukan untuk kepuasan, kesenangan, atau untuk melepaskan kebosanan. Secara umum, motif yang bermanfaat mendominasi hampir semua jenis pelanggaran properti seperti perampokan dan pencurian, kecuali vandalisme dan pencurian motor yang dilakukan terutama untuk alasan kesenangan semata, dan pengutilan adalah sebagian bermotifkan kebutuhan dan sebagian untuk kesenangan. Pelanggaran diusia lebih muda (dibawah 17 tahun) adalah relatif cenderung untuk dilakukan untuk alasan hedonistik (kesenangan semata), sedangkan pelanggaran diusia yang lebih tua (17 tahun atau lebih) adalah relatif cenderunt untuk dilakukan karena alasan kebutuhan.

            Data ini adalah sama dengan yang dilaporkan oleh Petersilia dkk (1978) dalam survey tinjauan ulang tentang kurang lebih 50 perampok bersenjata yang ditahan di penjara California. Motif utama untuk tindak kriminal yang dilakukan mereka diusia muda adalah untuk kesenangan dan pengaruh teman, tetapi motif utama untuk tindak kriminal mereka diusia dewasa adalah untuk mendapatkan uang – untuk obat-obatan atau alkohol atau untuk menghidupi mereka sendiri atau keluarga mereka. Penemuan yang sama dilakukan oleh LeBlanc dan Frechette (1989) di Montreal. (Untuk review dari penelitian motivasii, lihat Farrington 1993c.)

            Pada Studi Cambridge, Farrington dkk (1982) juga mempelajari motif untuk tindak agresif (perkelahian fisik). Mereka menemukan bahwa kunci dimensi (pandangan) adalah apakah pria berkelahi sendiri atau dalam kelompok. Pada perkelahian individu, pria biasanya terprovokasi, menjadi marah, dan memukul dengan tujuan untuk melukai lawannya dan untuk melampiaskan ketegangan internalnya. Dalam perkelahian kelompok, pria seringkali berkata bahwa ia terlibat karena untuk menolong temannya atau karena ia diserang, dan jarang sekali ia berkata bahwa ia marah. Perkelahian kelompok adalah lebih serius, terjadi di bar atau jalanan, dan mengarah kepada keterlibatan polisi. Perkelahian seringkali terjadi ketika kejadian skala kecil meningkat, karena kedua sisi ingin mendemonstrasikan kekuatan dan kemaskulinan mereka dan tidak mau untuk bereaksi dalam cara yang lebih damai. Hal yang sama, Berkowitz (1978) menginterview beberapa pelanggar yang terbukti bersalah dan menemukan bahwa hampir semua kejadian muncul dari argumen (cekcok) dan luapan kemarahan terutama ditujukan untuk melukai korban; kasus yang paling sering kedua adalah kebutuhan seorang teman akan bantuan.

            Di masa mendatang, penelitian karir kriminal harus diperluas untuk mempelajari kisaran yang lebih luas tentang fitur karir. Sebagai contoh, jika motif praktis meningkat dan motif kesenangan berhenti menyerang (dan jika begitu mengapa ?) atau karena orang-orang yang termotivasi demi kesenangan berubah menjadi bermotif praktis (dan jika begitu mengapa ?)? Penelitian yang sejalan/ sejajar (longitudinal) yang prospektif akan dibutuhkan untuk mengatasi hal tentang masalah karir kriminal ini.

PENGARUH PADA KARIR KRIMINAL

Faktor Resiko

Faktor resiko adalah merupakan faktor awal yang meningkatkan resiko munculnya kejadian seperti awal, sering/frekuensi, terus menerus, atau durasi dari tingkah laku anti-sosial. Untuk mendirikan penentuan faktor resiko dan fitur karir kriminal, data longitudinal dibutuhkan. Fokus dalam bab ini adalah pada faktor resiko untuk awal atau kemerataan/kelaziman dari penyerangan dan tingkah laku anti-sosial. Beberapa studi telah mengamati faktor resiko untuk terus menerus atau durasi. Meskipun demikian, di Cambridge Study, Farrington dan Hawkins (1991) menginvesitigasi faktor yang memprediksi faktor yang diperkirakan apakah pelanggar yang terbukti berusia dibawah 21 terus atau berhenti antara usia 21 dan 32 tahun. Prediktor yang paling independen dari persistensi mencakupkan anak itu jarang menghabiskan waktu luang mereka dengan ayah mereka di usia 11-12 tahun, intelejensia yang rendah di usia 8-10 tahun, bekerja tidak tetap di usia 16 tahun, dan peminum berat di usia 18 tahun. Memang, hampir 90% dari pria tertuduh yang secara sering menganggur dan peminum berat ketika remaja berlanjut kembali menjadi tertuduh setelah usia 21 tahun.

            Juga sulit untuk menentukan apakah setiap faktor resiko yang ada adalah suatu indikator (gejala) atau suatu penyebab yang mungkin dari tingkah laku anti-sosial. Masalah yang diangkat oleh dorongan tiba-tiba telah disebutkan sebelumnya. Pada contoh lain, apakah mabuk-mabukan, membolos, menganggur, dan perceraian merupakan kecenderungan menuju anti-sosial, atau apakah mereka yang menyebabkan (suatu peningkatan) dari hal itu ? Adalah penting untuk tidak memasukkan suatu ukuran dari variable dependen sebagai variable independen dalam analisis kausal, karena ini akan mengarah kepada kesimpulan yang salah (berulang) dan kesalahan interpretasi dari kekuatan penjelasan atau perkiraan (lihat contoh Amdur 1989).

            Adalah tidak masuk akal untuk membantah bahwa beberapa faktor adalah merupakan indikasi juga penyebab. Sebagai contoh, variasi jangka pendek antara individu dalam kecenderungan anti-sosial dapat direfleksikan dalam variasi dalam konsumsi alkohol, pada saat variasi jangka pendek dalam individu konsumsi alkohol dapat menyebabkan tingkah laku anti-sosial selama periode jumlah minum yang makin banyak. Interpretasi dari faktor lain mungkin lebih jelas. Sebagai contoh, diekspos sebagai teknik anak hingga orang tua yang memiliki latar belakang miskin dapat menyebabkan kecenderugnan anti-sosial tetapi bukan merupakan suatu indikator dari hal itu; dan merampok sebuah rumah merupakan suatu indikator dari kecenderungan anti-sosial tetapi cenderung untuk menjadi penyebab dari hal itu (meskipun itu dapat dibantah bahwa, ketika seuatu tindakan anti-sosial adalah berhasil dalam mendasari kecenderungan anti-sosial)..

Studi lintas-bagian menjadikan tidak mungkin untuk membedakan antara indikator dan penyebab, karena keduanya dapat hanya memperlihatkan korelasi antara level yang tinggi pada satu faktor (misalnya pengangguran) dan selama beberapa periode (msalanya pekerjaan). Karena studi-studi dalam individu mempunyai korntrol yang lebih besar dibandingkan pengaruh dari luar daripada studi antara individual, studi longitudinal dapat memperlihatkan bahwa perubahan-perubahan dalam individual menyebabkan dengan validitas internal yang tinggi dalam analisi percobaan-semu (quasi-experimental) (Farrington, 1988b; Farrington, Gallagher, Morley, dkk, 1986). Studi-studi longitudinal juga dapat menentukan apakah faktor-faktor seperti pengangguran mempunyai efek yang sama atau berbeda terhadap kejahatan ketika faktor-faktor tersebut bervariasi dalam antara indvidual. Implikasi untuk pencegahan dan perlakuan, yang membutuhkan perubahan dalam individual, tidak dapat harus selalu ditarik dari efek-efek yang hanya diperlihatkan hanya antara riset antara-individual (lintas bagian).

            Sayangnya,  model statis hubungan antara variabel independen dan dependen telah mendominasi riset dan teori kejahatan dan perilaku anti-sosial. Model ini mungkin masuk akal dalam studi lintas-bagian, setidaknya jima masalah-masalah tatanan sebab akibat diabaikan. Namun, hal itu tidak mudah diterapkan dalam karir longitudinal atau kriminal, dimana semua konsepsi penjelas yang diduga dan semua tindakan perilaku anti-sosial dan segi-segi karir kriminal berubah secara kontinyu dalam individual pada umur-umur yang berbeda. Hubungan antara faktor penjelasan dalam satu rentang umut dan suatu tindakan perilaku anti-sosial dalam rentang umur yang lain mungkin sangat bervariasi menurut rentang umur tertentu, dan hal ini  perlu secara sistematis diselidiki oleh para periste.

            Faktor resiko utama untuk kejahatan dan perilaku anti-sosial yang ditinjau dalam bab ini adalah faktor yang berbeda secara individual dalam impulsifitas dan kecerdasarn, dan faktor keluarga, sosio-ekonomi, teman, sekolah,  komunitas, dan situasi. Faktor-faktor ini sering mempunyai efek ketagihan, interaktif, atau berangkai dan akan diperhatikan satu per satu.

Impulsifitas.

Dalam Studi Cambridge, para anak pria yang dinominasikan oleh guru sebagai kurang konsentrasi atau gelisah, yang dinominasikan oleh orangtua, tema, atau guru, sebagai paling nekad dan orang-orang yang paling impulsif pada tes psikomotor semuanya cenderung merupakan pelaku kejahatan (pelanggaran) remaja dan bukan orang dewasa (Farrington 1992c). Ukuran kuesioner melapor-sendiri kemudia tentang impulsifitas (termasuk item-item seperti “saya biasanya melakukan dan mengatakan hal-hal secara cepat tanpa berhenti untuk berpikir) dikaitkan dengan kejahatan remaja dan orang dewasa. Nekat, konsentrasi yang birik, dan kegelisahan semuanya berkaitan dengn kejahatan resmi dan yang dilaporkan sendiri (Farrington 1992d). Nekad pada umur  8-10 adalah prediktor independen yang penting terhadap kecenderungan anti-sosial pada umur 18 (Farrington 1993b) dan terhadap kekerangan dan penyerangan pasangan pada umur 32 (Farrington 1989a, 1993a). Konsentrasi yang jelek atau kegelisahan pada umur 8-10 adalah prediktor independen yang penting terhadap disfungsi sosial dewasa pada umur 32 (Farrington 1993b).

            Banyak periset yang telah melaporkan suatu hubungan antara konstelasi faktor-faktor kepribadian yang diistilahkan sebagai “defisit hiperaktifitas-impulsifitas-perhatian” atau HIA (Loeber 1987) dan kejahatan. Sebagai contoh, Satterfield (1987) menelusuri HIA dan mencocokkan anak-anak kontrol di Los Angeles antara 9 dan 17, dan memperlihatkan bahwa 6 kali dari jumlah anak-anak HIA ditahan karena kejahatan serius. Hasil-hasil yang serupa dilaporkan oleh Gittelman dkk (1985) di new York. Studi-studi lain telah memperlihatkan bahwa hiperaktifitas  masa kanak-kanak memprediksikan perilaku antitsosial remaja dan dewasa dan penggunaan zat tertentu (misalnya Barkley dkk 1990).

            Suatu persoalan kunci adalah seberapa jauh HIA  adalah penyebab atau indikator dari perilaku anti-sosial, dan secara lebih spesifik apakah HIA dan gangguan perilaku  mencerminkan konsepnsi mendasar yang sama atau berbeda (Taylor 1986). Farrington, Lober, dan Van Kammen (1990) dalam Studi Cambridge mengembangkan ukuran kombinasi HIA pada umur 8-10 dan memperlihatkan bahwa hal itu secara signifikan memprediksikan  penghukuman remaja secara independen atas masalah-masalah perilaku pada  umur 8-10. Dengan demikian,  bisa disimpulkan bahwa HIA tidak hanya sekedar ukuran kepribadian anti-sosial lain, tapi hal  itu adalah penyebab yang mungkin atau tahap awal dalam rangkaian perkembangan. Richman dkk (1985) menemukan bahwa kegelisahan pada umur 3 tahun memprediksikan gangguan perilaku pada umur  8, sementara McGee dkk (1991) memperlihatkan bahwa hiperaktifitas pada umur 3 tahun memprediksikan  berbagai perilaku kacau anak pada umur 15. Studi-studi lain juga telah menyimpulkan bahwa hiperaktifitas dan gangguan perilaku pada konsepsi yang berbeda (misalnya McGee dkk, 1985). Beberapa konsepsi yang serupa dengan HIA, seperti mencari sensasi, juga merupakan faktor resiko untuk kejahatan (misalnya White, dkk, 1985), dan  Gottfredson dan Hirschi (1990) berargumen bahwa kecenderungan individual untuk melakukan kejahatan dan tindakan anti-sosial lainnya berasal dari konsepsi yang serupa atau kontrol-diri yang kurang.

            Telah disimpulkan bahwa HIA mungkin merupakan konsekuensi perilaku dari rangsangan psikologis level rendah. Para pelaku kejahatan mempunyai rangsangan tingkat rendah menurut gelombang alfa rendah (otak) pada EEG, atau menurut indikator sistem syarat otonomi seperti detak jantung, tekanan darah, atau kondisi kulit, atau mereka memperlihatkan reaktifitas otonomi yang rendah (misalnya Venables dan Raine 1987). Dalam survei longitudinalnya di Swedia, Magnusson (1988) memperlihatkan bahwa level adrenalin rendah pada umur 13, yang mencerminkan reaktifitas otonomi yang rendah, berkaitan dengan agresifitas dan kegelisihan pada umur tersebut dan kepada kejahatan (pelanggaran) dewasa kemudian. Olweus (1987) juga menemukan bahwa remaja yang agresif di Swedia cenderung mempunyai level adrenalin yang rendah. Hubungan sebab akibat antara rangsangan otonom, pencarian sensasi lanjutannya, dan kejahatan ditampilkan secara jelas  dalam teori Mawson (1987) tentang kriminalitas sementara.

            Taraf detak jantung yang diukur di Studi Cambridge pada umur 18. Sementara taraf detak jantung yang rendah berkorelasi secara signifikan dengan penghukuman atas tindak kekerasan, (Farrington 1987a), hal itu tidak secara signifikan berkorelasi dengan kejahatan pada umumnya. Sebagai tambahan, ditato sangat berkaitan dengan kejahatan yang dilaporkan-sendiri dan resmi di Studi Cambridge (Farrington 1992d). Biarpun arti dari hasil ini tidak jelas secara keseluruhan, pentatoan mungkin mencerminkan faktor resiko, nekad, dan mencari kesenangan.

Kecerdasan

Loeber dan Dishion (1983) dan Loeber dan Stouthamer-Lober (1987) secara ekstensif meninjau prediktor kejahatan pria. Mereka menyimpulkan bahwa teknik pengurusan anak oleh orang tua yang buruk,  pelanggaran oleh orang tua dan saudara kandung, kecerdasan yang rendah dan pencapaian pendidikan, dan pemisahan dari orang tua semuanya adalah prediktor yang penting. Survei longitudinal (dan lintas-bagian) telah secara konsisten memperlihatkan bahwa anak-anak dengan kecerdasan yang rendah secara tidak proporsional mungkin menjadi para pelaku kejahatan. Kecerdasan yang rendah dan pencapaian yang rendah juga berkaitan dengan perilaku anti-sosial masa kanak-kanak (misalnya Rutter dkk, 1970).

            Dalam Studi Cambridge, satu pertiga anak-anak yang mencetak 90 atau kurang pada tes kecerdasan non-verbal (Matriks-matriks Progresif Raven) pada 8-10 tahun dihukum ketika remaja. Dua kali lebih banyak dibandingkan sisanya (Farrington 1992d).  Kecerdasan non-verbal yang rendah sangat berkaitan dengan kecerdasan verbal yang rendah (perbendaharaan kata, pemahaman kata, penalaran verbal) dan dengan pencapaian sekolah yang rendah pada umur 11, dan semua ukuran ini memprediksikan penghukuman remaja pada tingkat yang sangat sama. Sebagai tambahan dari kinerja sekolah mereka yang buruk, para pelaku pelanggaran cenderung menjadi pembolos yang sering, meninggalkan sekolahpada usia paling muda yang mungkin (yang kemudian adalah 15) dan tidak mengikuti ujian sekolah.

            Kecerdasan non-verbal yang rendah terutama merupakan karakteristik residivis remaja (yang mempunyai IQ rata-rata 89) dan orang-orang yang pertama kali dihukum pada umur yang termuda (10-13). Lebih lanjut, kecerdasan yang rendah dan pencapaian yang rendah memprediksikan kejahatan yang dilaporkan sendiri begitu juga penghukuman (Farrington,  1992d), sehingga disimpulkan bahwa hubungan antara kecerdasan yang rendah dan kejahatan tidak disebabkan oleh anak-anak kurang cerdas mempunyai probabilitas yang lebih besar untuk tertangkap.  Hasil-hasil yang serupa telah diperoleh dalam proyek-proyek yang lain (misalnya Moffitt dan Silva 1988a; Wilson dan Herrnstein 1985).  Kecerdasan yang rendah dan pencapaian yang rendah memprediksikan agresi dan pengancaman pada umur 14, dan kemampuan membaca yang rendah pada umur 18 adalah prediktor terbaik dalam menjadikan seorang anak kelak melakukan pengancaman pada umur 32 (Farrington 1989a, 1993d).

            Faktor penjelas kunci yang mendasari hubungan antara kecerdasan dan kejahatan mungkin merupakan kemampuan untuk memanipulasi (mengolah) konsep-konsep abstrak. Orang-orang yang buruk dalam hal ini cenderung berkinerja buruk dalam tes kecerdasan seperti Matriks-matriks tersebut dan dalam pencapaian sekolah, dan mereka cenderung untuk melakukan kejahatan, mungkin karena kemampuan mereka yang buruk untuk memperkirakan akibat kejahatan mereka dan untuk menghargai perasaan korban (empati mereka yang rendah). Latar belakang keluarga yang tertentu kurang mendukung daripada latar yang lain terhadap perkembangan penalaran abstrak. Sebagai contoh,  para orang tua dari kelas yang rendah dan lebih miskin cenderung berbicara dalam hal yang konkret daripada yang abstrak dan cenderung hidup untuk masa sekarang, dengan sedikit pemikiran untuk masa depan, seperti yang dinyatakan oleh Cohen (1995:96) beberapa tahun yang lalu. Kurangnya  kepedulian terhadap konsekuensi masa depan, yang merupakan segi sentral dalam teori Wilson dan Herrnstein juga dikaitkan dengan konsep impulsifitas.

            Riset modern dalam mempelajari tidak hanya kecerdasan tapi juga pola mendetail defisit kognitif dan psikologisyaraf (neurophyschological). Sebagai contoh, dalam studi longitudinal di New Zealand terhadap lebih dari 1.00 anak sejak lahir sampai umur 15, Moffitt dan Silva (1986b) menemukan bahwa kejahatan yang dilaporkan sendiri berkaitan dengan penderitaan keluarga dan kelas sosial yang rendah. Riset psikologi syaraf mungkin mengarah ke kemajuan yang penting dalam pengetahuan tentang hubungan antara fungsi otak dan kejahatan (pelanggaran). Sebagai contoh, “fungsi eksekutif otak” yang terletak di cuping depan, mencakup perhatian dan konsentrasi yang bertahan, penalaran abstrak, dan pembentukan konsep, antisipasi dan perencanaan, memonitor sendiri perilaku, dan pencegahan perilaku yang tidak tepat atau impulsif (Moffitt, 1990). Defisit dalam fungsi-fungsi eksekutif ini mendukung kecerdasan yang terukru rendah dan kejahatan. Moffitt dan Henry (1989) menemukan defisit dalam fungsi-fungsi eksekutif terutama bagi pelaku kejahatan yang anti-sosial dan hiperaktif.

Faktor-faktor keluarga

Loeber dan Stouthamer-Lober (1986)  menyelesaikan suatu tinjauan mendalam terhadap faktor-faktor keluarga sebagai korelasi dan prediktor terhadap masalah perilaku remaja dan pelanggaran. Mereka menemukan bahwa pengawasan atau pemantauan orangtua yang buruk, disiplin orang tua yang keras atau tidak menentu, ketidakharmonisan orang tua, penolakan orang tua terhadap sang anak, dan keterlibatan orang tua yang rendah dengan anak tersebut (begitu juga orang tua yang anti-sosial dan ukuran keluarga yang besar) semuanya adalah prediktor yang penting.

            Dalam studi Cambridge-Somerville di Boston, McCord (1979) melaporkan bahwa pengawasan orangtua yang buruk adalah prediktor yang baik dari para pelaku kejahatan properti. Keagresifan orang tua (yang mencakup disiplin yang keras sampai kekerasan terhadap anak pada tingkat ekstrim) dan konflik orangtua adalah tanda yang signifikan dari  pelaku kejahatan kekerasan, sementara sikap ibu (pasif atau menolak)  adalah tanda  signifikan para pelaku kejahatab properti. Robins (1979), dalam studi penelusuran (follow-up) jangka panjangg di St Louis, juga menemukan bahwa pengawasan dan disiplin yang buruk secara konsisten berkaitan dengan kejahatan pada waktu kemudian, dan Shedler dan Block (1990) di San Francisco melaporkan bahwa ibu yang bermusuhan dan menolak ketika anak-anak berumur 5 memprediksikan  penyalahgunaan obat-obatan yang sering pada umur 18.

            Studi-studi lain juga memperlihatkan kaitan antara faktor keluarga dan kejahatan. Dalam survei di Birmingham. Wilson (1980) menyimpulkan bahwa pengawasan orang tua yang buruk adalah korelasi yang paling penting terhadap penghukuman, peringatan, dan kejahatan yang dilaporkan sendiri. Dalam survai nasional terhadap remaja di Inggris berusia 14-15 dan para ibu mereka, Riley dan Shaw (1985) menemukan bahwa pengawasan orang tua yang buruk adalah korelasi yang paling penting dari kejahatan yang dilaporkan-sendiri untuk para gadis, dan  kedua paling penting bagi remaja pria (sesudah teman yang jahat). Begitu juga, disfungsi keluarga berkaitan dengan gangguan perilaku (misalnya, Offord dkk, 1989).

            Di Studi Cambridge, West dan Farrington (1973) menemukan bahwa disiplin  orang tua yang keras atau tidak karuan, perilaku orang tua yang kejam, pasif, atau mengabaikan, pengawasan yang buruk, dan konflik orang tua, semua yang diukur pada umur 8, semua memprediksikan penghukuman pada waktu remaja kemudian. Farrington (1992d) melaporkan bahwa perilaku pengawasan anak yang buruk (kombinasi disiplin, sikap, dan konflik), pengawasan orang tua yang buruk, dan minat orang tua  yang rendah terhadap pendidikan semua memprediksikan penghukuman dan kejahatan yang dilaporkan-sendiri. Perilaku pengasuhan anak yang buruk oleh orangtua berkaitan dengan kejahatan awal daripada kejahatan akhir (Farrington 1986b), dan bukan merupakan karakteristik dari orang-orang yang pertama kali dihukum sebagai orang dewasa. (West dan Farrington, 1977). Dengan demikian, perilaku pengawasan anak yang buruk oleh orangtua mungkin berkaitan dengan permulaan tapi bukan persistensi (keberlangsungan).  Pengawasan orang tua yang birik berkaitan dengan penghukuman pada masa dewasa dan anak-anak (Farrington 1992c), dan merupakan korelasi terkuat dari kepribadian antissosial pada umur 10 (Farrington 1992e).

            Para pelaku kejahatan cenderung mempunyai kesulitan dalam hubungan personal mereka. Para pria Studi Cambridge yang berkonflik dengan orang tua mereka pada umur 18 cenderung menjadi pelaku kejahatan remaja. Baik pelaku kejahatan remaja dan dewasa cenderung mempunyai hubungan yang buruk dengan istri atau sesama penghuni tempat tinggal mereka pada umur 32, atau menyerang mereka, dan mereka cenderung untuk cerai dan terpisah dari anak-anak mereka  (Farrington 1992c).

            Sesuai dengan hipotesis bahwa secara fisik diperlakukan secara kekerasan sebagai anak mendahului kejahatan kekerasan kemudian (Widom 1989), disiplin orang tua yang kasar dan sikap pada umur 8 tahun secara signifikan memprediksikan kekerasan kemuidan berbeda dengan pada para pelaku non-kekerasan di Studi Cambridge (Farrington, 1978). Namun, riset yang lebih baru memperlihatkan bahwa hal itu sama-sama prediktif terhadap kejahatan kekerasan dan yang sering (Farrington 1991b).

            Keluarga yang berantakan dan pemisahan dini juga merupakan faktor resiko untuk kejahatan. Dalam Studi 1000 Keluarga Newcastle, Kolvin dkk (1990) melaporkan bahwa perceraian orang tua atau perpisahan sampai umur 5 memprediksikan penghukuman kemudian sampai umur 33. McCord (1982) melaksanakan studi yang menarik tentang hubungan antara keluarga berantakan karena kehilangan bapak dan kejahatan serius kemudian. Dia menemukan bahwa prevalensi (kelaziman) odx adalah tinggi untuk anak-anak yang diasuh dalam keluarga berantakan tanpa ibu yang menyayangi (62 persen) dan untuk yang diasuh dalam rumah yang bersatu yang ditandai oleh orang tua yang berkonflik (52 persen) terlepas dari apakah mereka mempunyai ibu yang menyayangi. Prevalensi kejahatan adalah rendah untuk yang dibesarka dalam rumah yang bersatu tanpa konflik  (26 persen) atau dalam keluarga berantakan dengan ibu yang menyayangi (22 persen).

            Hasil-hasil ini menyimpulkan bahwa rumah tangga berantakan (atau rumah tangga yang dikepalai orang tua wanita tunggal) tidak begitu menjadi faktor penyebab kejahatan seperti konflik orang tua yang menyebabkannya. Begitu juga, Fergusson dkk (1992) dalam Studi Perkembangan Anak di Christchurch (Selandia Baru), menemukan bahwa perpisahan orang tua sebelum anak berumur 10 tahun tidak memprediksikan kejahatan yang dilaporkan-sendiri terlepas dari konflik orang tua, yang merupakan faktor yang lebih penting. Namun, memiliki anak pada usia remaja dikombinasikan dengan  rumah tangga yang dikepalai orang tua wanita tunggal tampaknya mendukung/kondusif terhadap perkembangan kejahatan pada anak-anak (Morash dan Rucker, 1989).  Keluarga orang-tua tunggal cenderung mempunyai anak-anak yang bergangguan perilaku dan menyalahgunakan zat tertentu di Studi Kesehatan Anak Ontario, biarpun keluarga demikian cenderung bertumpang tindih dan sulit untuk dilepaskan dari keluarga dengan pendapatan yang rendah (Blum dkk, 1988; Boyle dan Offord 1096).

            Pentingnya penyebab rumah tangga berantakan juga tampak dalam survei longitudinal nasional Inggris terhadap 5.000 anak yang lahir dalam satu minggu pada tahun 1946 (Wadsworth, 1979). Anak-anak dari keluarga berantakan karena perceraian atau perpisahan menaikkan kemungkinan dihukum atau diperingatkan secara resmi sampai umur 21 dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga berantakan (broken home)   karena kematian atau dari keluarga bukan broken home. Pernikahan ulang (yang lebih sering terjadi daripada perceraian dan perpusahan daripada sesudah kematian) juga dikaitkan dengan meningkatkan resiko kejahatan.

            Di Studi Cambridge, perpisahan permanen atau sementara (lebih dari satu bulan) sebelum umur 10 memprediksikan penghukuman dan kejahatan yang dilaporkan sendiri, asal keduanya tidak disebabkan oleh kematian dan masuk rumah sakit (Farrington 1992d). Namun, keluarga berantakan, pada usia awal (dibawah umur 5) merupakan penyebab kriminalitas yang tidak biasa (West dan Farrington, 1973). Perpisahan dari orang tua sebelum umur 10 memprediksikan penghukuman waktu remaja dan dewasa (Farrington 1992d), dan merupakan prediktor independen yang penting terhadap disfungsi sosial dewasa dan penyerangan pasangan pada umur 32 (Farrington 1993a,b). Sesudah kepribadian anti-sosial pada umur 10, hal itu merupakan prediktor dari kepribadian anti sosial pada umur 14 (Farrington 1992e).

            Orang tua yang kriminal, anti-sosial dan alkoholik juga cenderung mempunyai anak yang melakukan pelanggaran, seperti yang ditemukan Robins (1979). Sebagai contoh, dalam studi penelusurannya terhadap 200 pria berkulit hitam di St Louis (Robins dkk, 1975), orang tua yang ditahan cenderung mempunyai anak yang ditahan, dan catatan remaja orang tua dan anak-anak memperlihatkan taraf dan jenis kejahatan. McCord (1977) pada studi follow-up (penelusuran) 30 tahun terhadap 250 anak dalam kelompok perlakuan pada studi Cambridge-Somerville, melaporkan bahwa bapak yang ditahan cenderung mempunyai putra yang ditahan. Apakah terdapat hubungan spesifik dalam studinya antara jenis-jenis penghukuman terhadap orang tua dan anak adalah tidak jelas. McCord menemukan bahwa 29 persen bapak yang dihukum atas kekerasan mempunyai anak yang dihukum atas kekerasan, dibandingkan dengan 12 persen bapak yang lain, tapi hal ini mungkin mencerminkan kecenderungan umum untuk para bapak yang dihukum untuk mempunyai anak yang dihukum daripada kecenderungan tertentu untuk para bapak yang melakukan kekerasan untuk mempunyai anak yang melakukan kekerasan. Craig dan Glick (1968) di New York City juga memperlihatkan bahwa mayoritas remaja putra  menjadi pelaku kejahatan serius atau berkelanjutan (84 persen) mempunyai orang tua atau saudara kandung yang kriminal, dibandingkan  24 persen sisanya. Orang tua kriminal cenderung mempunyai anak yang bergangguan perilaku di Studi Kesehatan Anak Ontario (Offord dkk, 1989) dan penggunaan zat terlarang oleh orang tua memprediksikan penggunaan zat terlarang oleh anak-anak dalam proyek Perkembangan Manusia dan Kesehatan Rutgers (antara lain Johnson dan Pandina, 1991) dan studi longitudinal sebelah barat Skotlandia (Green dkk, 1991).

            Di Studi Cambridge, konsentrasi kejahatan dalam sejumlah kecil keluarga adalah nyata. Seperti yang diumumkan, West dan Farrington (1977) menemukan bahwa kurang dari 5 persen keluarga bertanggung jawab atas separuh penghukuman kriminak dari semua anggota keluarga (bapak, ibu, putra, dan putri). West dan Farrington (1973) memperlihatkan bahwa mempunyai ibu, bapak, atau saudara pria  yang dihukum pada ulang tahun ke 10 seorang anak pria  secara signifikian memprediksikan hukuman atas dirinya kemudian. Lebih lanjut,  orang tua yang dihukum dan saudara kandung yang melakukan kejahatan memprediksikan kejahatan yang dilaporkan sendiri dan yang resmi (Farrington 1992e). Karena itu, terdapat kontinuitas antargenerasi dalam kejahatan.

            Tidak seperti sebagian besar tanda/pendahulu yang paling awal, orang tua yang dihukum kurang berkaitan dengan kejahatan pada permulaan dini (umur 10-13) daripada kejahatan kemudian (Farrington 1986b). mempunyai orang tua yang dihukum memprediksikan para pelaku kejahatan remaja yang kemudian menjadi pelaku kriminal dewasa dan para residivis pada umur 19 yang meneruskan kejahatan (Wst dan Farrington 1977). Dengan demikian, seorang orang tua yang dihukum tampaknya merupakan faktor resiko untuk keberlanjutan bukan permulaan. Mempunyai orang tua yang dihukum adalah prediktor terbaik dari kecenderungan antissosial pada umur 18 dan penyerangan pasangan pada umur 32, dan juga merupakan prediktor independen penting  dari perilaku mengancam pada umur 14 dan disfungsi sosial dewasa pada umur 32 (Farrington 1993a, b, d). Sesudah ukuran-ukuran yang lebih awal  terhadap perilaku anti-sosial, seorang orang tua yang terhukum adalah prediktor terbaik perilaku anti-sosial pada umur 18 dan 32 (Farrington 1992e). hasil-hasil ini sesuai dengan teori psikologi (misalnya Trasler 1962) bahwa perilaku antisosial berkembang ketika proses belajar sosial yang normal, berdasarkan imbalan dan hukuman dari orang tua, diganggu oleh disiplin yang tidak menentu, pengawasan yang buruk, ketidakharmonisan orang tua, dan model orang tua yang tidak sesuai (anti-sosial atau kriminal). Namun, beberapa bagian dari kaitan antara orang tua anti-sosial dan anak-anak anti-sosial muntkin mencerminkan transmisi genetik (lihat misalnya Wilson dan Herrntein 1985; Eysenck dan Gudjonsson 1989).

            Seperti halnya faktor keluarga memprediksi  permulaan dini atau prevalensi kejahatan, faktor-faktor keluarga kemudian memprediksi penghentian kemudian. Sebagai contoh, sering diyakini bahwa kejahatan pria berkurang sesudah menikah, dan terdapat suatu bukti yang mendukung hal ini (misalnya  Bachman dkk, 1978). Dalam Studi Cambridge, terdapat kecenderungan yang jelas untuk para pria yang terhukum yang menikah pada umur 22 atau lebih dini untuk dihukum lebih sedikit dalam dua tahun berikutnya daripada pria terhukum yang dibandingkan yang belum menikah (West, 1982). Namun, dalam kasus pria dan bapak mereka, pria yang pernah dihukum cenderung untuk menikah dengan wanita yang dihukum, dan  pria yang pernah dihukum yang menikah wanita yang pernah dihukum cenderung untuk melakukan kejahatan pada taraf yang sama sesudah pernikahan seperti pria yang belum menikah yang diperbandingkan. Para pelaku kejahatan yang menikahi wanita yang pernah dihukum menjalani lebih banyak hukuman daripada yang menikahi wanita yang tidak dihukum, terlepas dari catatan hukuman mereka sebelum menikah. Dengan demikian, disimpulkan bahwa  efek reformatif pernikahan dikurangi oleh kencenderungan  para pelaku kejahatan pria untuk menikahi wanita  yang juga pelaku kejahatan. Rutter (1989) telah menarik perhatian ke arah pentingnya mempelajari titik-titik balik, seperti pernikahan, dalam kehidupan seseorang.

Kekurangan (Deprivasi) Sosial Ekonomi.

Sebagian besar teori kejahatan mengasumsikan bahwa para pelaku kejahatan berasal secara tidak proporsional dari latar belakang sosial kelas rendah, dan bertujuan untuk menjelaskan kenapa hal ini demikian. Sebagai contoh, Cohen (1995) mengajukan bahwa anak-anak kelas bawah merasa sulit untuk sukes menurut sekolah-sekolah dengan standar kelas-menengah, sebagian karena para orang tua kelas rendah cenderung tidak mengajar anak-anak meerka untuk menunda  kesenangan segera dalam mendukung sasasaran jangka panjang. Sebagai akibatnya, anak-anak kelas bawah bergabung subkultur kejahatan/pelanggaran yang lewat standar-standarnya mereka bisa sukses. Cloward dan Ohlin (1960) berargumen bahwa anak-anak kelas bawah tidak dapat mencapai sasaran universal status dan kemakmuran material dengan  cara-cara yang sah dan sebagai akibatnya terpaksa melakukan cara yang tidak sah.

            Secara umum, kelas sosial atau atau sosial ekonomi  (SES) dari suatu keluarga telah diukur terutama menurut peringkat  prestise pekerjaan dari pencari nafkah keluarga.  Orang-orang  dengan peringkat profesional atau manajerial diperingkatkan dengan kelas tertinggi, sementara orang-orang dengan  pekerjaan manual yang tidak membutuhkan kecakapan diperingkatkan paling rendah. Namun,  skala prestise pekerjaan ini mungkin tidak sangat berkorelasi sangat tinggi dengan  perbedaan yang sebenarnya antara keluarga-keluarga dalam berbagai keadaan sosio-ekonomi. Skala ini sering berasal bertahun-tahun yang lalu, ketika adalah umum bagi bapak untuk menjadi pencari nafkah keluarga dan untuk ibu untuk menjadi ibu rumah tangga. Karena hal ini, mungkin adalah sulit untuk mendapatkan ukuran yang realistis tentang SES untuk suatu keluarga dengan orang tua tunggal atau dua orang tua yang bekerja (Mueller dan Parcel, 1981).

            Selama bertahun-tahun, banyak ukuran kelas sosial lain telah menjadi populer, termasuk pendapatan keluarga, tingkat pendidikan orang tua, jenis perumahan, kebanyakan penghuni dalam rumah, harta, ketergantungan  pada tunjangan kesejahteraan, dan ukuran keluarga, semua ini mungkin mencerminkan perbedaan yang lebih bermakna antara keluarga-keluarga dalam kehilangan/kekurangan sosial ekonomi daripada prestis pekerjaan. Sebagai contoh, dalam, surveinya tentang laporan-sendiri di California terhadap lebih dari 4.000 anak, Hirschi (1969) menyimpulkan bahwa kejahatan berkaitan dengan keluarga dalam hal kesejahteraan dan sang bapak yang menganggur, tapi tidak terhadap starus pekerjaan atau pendidikan sanga bapak. Ukuran keluarga, sangat berkorelasi dengan indeks-indeks lain kekurangan sosial-eknonomi, biarpun hubungannya dengan kejahatan mungkin  mencerminkan  faktor-faktor pengasuhan anak (misalnya kurangnya perhatian yang diberikan kepada masing-masing anak) bukannya pengaruh sosio-ekonomi.

            Dalam banyak proyek riset kriminologi, pelaku kejahatan dan nonpelaku kejahatan dicocokkan berdasarkaan SES atau SES dikontrol pertama kali dalam analisis regresi. Hal ini mencerminkan keyakinan yang menyebar luas dalam pentingnya SES, tapi tentu hal itu sering mencegah pengujian kepercayaan ini. Sayangnya, seperti yang dinyatakan oleh Thornberru dan Farnworth (1982), banyak literatur  hubungan antara SES dan kejahatan ditandai oleh ketidakkonsistenan dan kontradiksi, dan beberapa peninjau  (misalnya Hindelang dkk, 1981) telah menyimpulkan bahwa tidak terdapat antara SER dan kejahatan yang dilaporkan-sendiri dan yang resmi.

            Mulai dengan riset laporan-sendiri perintis oleh Short dan Nye (1957), adalah umum di AS untuk berargumen bahwa kelas sosial yang rendah berkaitan dengan  kejahatan resmi tapi tidak kejahatan yang dilaporkan sendiri, dan dengan demikian bahwa pengolahan resmi para pelaku kejahatan dilakukan dengan kecenderungan prasangka  terhadap pemuda kelas-bawah. Namun, studi-studi di Inggris telah melaporkan  hubungan yang lebih konsisten  antara kelas sosial yang rendah dan kejahatan. Dalam suatu survei nasional Inggris, Douglas dkk (1966) memperlihatkan bahwa prevalensi/kelazoman kejahatan remaja resmi pada pria bervariasi cukup besar menurut prestis pekerjaan dan latar belakang pendidikan orang tua mereka, dari 3 persen pada kategori tertinggi menjadi 19 persen pada yang terendah.  Juga, Wadsworth (1979) melaporkan bahwa kejahatan meningkat secara signifikan dengan ukuran keluarga dalam survei ini. Hubungan yang serupa antara ukuran keluarga dan perilaku anti-sosial dilaporkan oleh Kolvin dkk (1988( dalam studi follow-up mereka terhadap  anak-anak Newcastle sejak lahir dan  sampai umur 33, oleh Rutter dan kawan-kawan (1970) dalam suatu survei di Isle of Wight, dan oleh Ouston (1984) dalam survei di London dalam.

            Berbagai indikator SES diukur di Studi Cambridge, baik untuk keluarga asal sang pria dan untuk pria itu sendiri sebagai orang dewasa, termasuk prestise pekerjaan, pendapatan keluarga, perumahan, instabilitas pekerjaan, dan ukuran keluarga. Sebagian besar ukuran prestise pekerjaan (berdasarkan skala Registrat-General) tidak secara signifikan berhubungan dengan kejahatan. Namun, dalam hasil di Amerika yang sebaliknya, SES yang rendah pada keluarga ketika sang pria berumur 8-10 secara signifikan memprediksikan melapor-sendiri-nya, tapi tidak kejahatan resminya.  Apakah karena itu kita hendaknya menyimpulkan bahwa pengolahan resmi  berprasangka pada pemuda kelas-bawah?

            Secara lebih konsisten, pendapat keluarga yang rendah, perumahan yang buruk, dan ukuran keluarga yang lebih besar memprediksikan  kejahatan resmi dan yang dilaporkan sendiri, remaja dan dewasa (Farrington  1992c, d). Ukuran keluarga besar pada umur 10 adalah  prediktor independen penting dari kecenderungan anti-sosial pada umur 18 dan kekerasan remaja, sementara pendapatan keluarga yang rendah pada umur 8 adalah prediktor independen terbaik dari disfungsi sosial dewasa  (Farrington 1989a, 1993b). Keluarga dengan penghasilan rendah juga cenderung mempunyai anak-anak dengan gangguan perilaku pada Studi Kesehatan Anak Ontario (Offord dkk, 1989).

            Kekurangan sosial-ekonomi keluarga biaanya dibandingkan dengan kejahatan oleh anak. Namun, ketika anak-anak tersebut menjadi dewasa, kekurangan sosial-ekonomi mereka sendiri dapat dihubungkan dengan kejahatan mereka sendiri. Pada Studi Cambridge, pelaku kejahatan resmi dan yang melapor-sendiri  cenderung mempunyai pekerjaan manual yang tidak perlu ketrampilan dan catatan pekerjaan yang tidak stabil pada umur 18.  Seperti halnya pekerjaan ayah yang tidak menentu memprediksikan kejahatan kemudian pada pria dalam studi tersebut, catatan pekerjaan yang tidak stabil pada pria pada umur 18 merupakan salah satu dari prediktor independen terbaik dari penghukumannya antara umur 21 dan 25 (Farrington 1986b). Juga, mempunyai pekerjaan manual tanpa ketrampilan pada umur 18 adalah prediktor independen penting  dari disfungsi sosial dewasa dan kepribadian anti-sosial pada umur 32 (Farrington 1992e, 1993b). Juga seperti yang telah disebut, pria dalam studi tersebut dihukum pada taraf yang lebih tinggi ketika mereka tidak bekerja daripada ketika mereka bekerja (Farrington dkk, 1986b), sehingga disimpulkan bahwa penggangguran dalam suatu cara menyebabkan kejahatan, dan sebaliknya pekerjaan dapat menimbulkan penghentian dari kejahatan.

            Tampaknya jelas bahwa kehilangan sosio-ekonomi adalah faktor resiko yang penting untuk kejahatan dan perilaku antisosial. Namun, pendapatan kelaurga yang rendah, perumahan yang  buruk, dan ukuran keluarga yang besar merupakan ukuran yang lebih baik dan memberikan hasil yang lebih terpercaya daripada prestis pekerjaan yang rendah.

Pengaruh Teman

Tinjauan oleh Zimring (1981) dan Reiss (1988) memperlihatkan bahwa tindakan kejahatan cenderung dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil (biasanya dua atau tiga orang) bukannya sendiri. Pada Studi Cambridge, seperti yang sudah disebutkan,  sebagian besar kejahatan remaja yang dilaporkan secara resmi berkurang secara mantap menurut umur dari 10 tahun dan seterusnya (Reiss dan Farrington 1991). Jika para pria pada studi tersebut mempunyai saudara dengan umur yang serupa, mereka cenderung melakukan kejahatan dengan saudara mereka. Di Ontario, Jones dan kawan-kawan (1980) menemukan bahwa  pelaku kejahatan pria cenderung untuk mempunyai banyak saudara laki-laki, dan mengajukan bahwa terdapat potensi pria terhadap perilaku anti-sosial.

            Persoalan pokok terhadap penafsiran adlaah apakah orang-orang muda lebih mungkin melakukan kejahatan ketika mereka dalam kelompok-kelompok daripada ketika mereka sendiri, atau apakah prevalensi kejahatan/pelanggaran bersama hanya mencerminkan fakta bahwa, kapanpun para pemuda keluar, mereka cenderung  untuk keluar dalam kelompok. Apakah teman cenderung mendorong  dan mendukung pelanggaran, atau apakah hal itu hanya tanda bahwa sebagian besar kegiatan diluar rumah (baik kejahatan atau bukan) cenderung dilakukan dalam kelompok? Kemungkinan lain adalah perbuatan kejahatan mendorong keterkaitan dengan para penjahat lain, mungkin karena “burung dengan jenis bulu yang sama berkumpul bersama” atau karena efek pencelaan/stigmatisasi dan isolasi dari kemunculan di depan pengadilan dan “pelembagaan”. . Sangat sulit untuk menentukan salah satu di antara berbagai kemungkinan ini, biarpun sebagian besar periset berargumen bahwa pengaruh teman adalah faktor yang penting. Sebagai contoh, konsepsi kunci dalam teori Sutherlan dan Cressey (1974) adalah jumlah orang dalam lingkungan sosial seorang anak dengan norma dan sikap yang mendukung kejahatan.

            Jelas terdapat hubungan yang jelas antara kegiatan kejahatan seorang pemuda dan kegiatan kejahatan teman-temannya. Baik di AS (Hirschi, 1969) dan di Inggris (West dan Farrington, 1973), telah ditemukan bahwa laporang seorang pemuda tentang kejahatannya sendiri  secara siginifikan berkorelasi dengan laporan kejahatan teman-temannya. Dalam Survei Pemuda Nasional Amerika oleh Elliot  dkk (1985), mempunyai teman-teman penjahat adalah prediktor paling independen  dari kejahatan yang dilaporkan sendirid dalam suatu analisis multivariabel.  Dalam studi  yang sama, Agnew (1991) memperlihatkan bahwa hubungan ini paling besar di antara para remaja yang paling kuat terkait dengan teman-teman mereka dan merasakan tekanan teman yang paling besar.

            Sayangnya, jika kejahatan adalah kegiatan kelompok, orang jahat sebagian besar akan secara tidak terhindarkan mempunyai teman-teman yang jahat, dan hasil ini tidak  selalu harus memperlihatkan bahwa teman-teman yang jahat menyebabkan kejahatan. Dengan kata lain, teman-teman yang jahat bisa merupakan indikator daripada suatu sebab. Riset longitudinal diperlukan untuk  membentuk tatanan (order) sebab  akibat antara teman yang jahat dan kejahatan. Pada Survei Pemuda Nasional Amerika, Elliot dan Menard (1988) menyimpulkan bahwa mempunyai teman yang jahat meningkatkan kejahtan seseorang itu sendiri dan bahwa kejahatan seseorang juga meningkatkan kemungkinannya untuk mempunyai teman-teman yang jahat. Dengan demikian,  kedua efek tampaknya beroperasi.

            Dalam Studi Cambridge, asosiasi dengan teman-teman yang jahat tidak diukur sampai umur 14, dan dengan demikian hal ini tidak diselidiki sebagai tanda/pendahulu  kejahatan (yang dimulai pada umur 10). Namun, hal itu adalah prediktor independen yang signifikan terhadap hukuman pada umir dewasa muda (Farrington, 1986b) dan terhadap  kekerasan remaja pada umur 16-18 (Farrington 1989a).  Seperti yang sudah disebutkan, para residivis pada umur 19 yang menghentikan kejahatan berbeda dari yang bertahan, dalam hal bahwa mereka yang berhenti lebih mungkin untuk berhenti untuk berkeluyuran dalam suatu kelompok teman laki-laki. Lebih lanjut, komentar spontan oleh para pemuda tersebut mengindikasikan bahwa penarikan dari kelompok teman penjahat dilihat sebagai pengaruh pentin untuk berhentik melakukan pelanggaran (West dan Farrington 1977). Karena itu, terus bergaul dengan teman-teman yang jahat mungkin menjadi faktor yang penting dalam menentukan apakah para penjahat remaja terus melanjutkan kejahatannya sebagai pemuda dewasa atau berhenti.

            Teman-teman yang jahat mungkin paling berpengaruh dimana mereka mempunyai status tinggi dalam kelompok remaja atau populer. Namun, studi-studi di AS (Rof dan Wirt 1094) dan di Inggris (West dan Farrington 1973) memperlihatkan bahwa para penjahat biasanya tidak populer dengan teman-teman mereka. Tampaknya adalah paradoks bagi kejahatan sebagai suatu gejala kelompok yang didukung oleh pengaruh teman, tetapi para pelaku kejahatan dan terutama pemuda agresif pada umumnya ditolak oleh remaja-remaja yang lain (Parker dan Asher 1987). Namun, mungkin para pelanggar populer dalam kelompok anti-sosial dan tidak populer dalam kelompok-kelompok pro-sosial, atau bahwa para anak yang ditolak berkumpul bersama untuk membentuk kelompok penjahat remaja (Hartup 1983).

Faktor-faktor Sekolah

Adalah jelas bahwa prevalensi kejahatan bervariasi secara dramatis di antara sekolah-sekolah lanjutan yang berbeda, seperti Power dkk (1967) memperlihatkan lebih dari 20 tahun lalu di London. Namun, apa yang jauh kurang jelas adalah berapa banyak variasi yang hendaknya diterapkan kepada perbedaan-perbedaan dalam iklim dan praktek sekolah, dan berapa banyak terhadap perbedaaan dalam komposisi siswa.

            Dalam Studi Cambridge, Farrington (1972) menyelidiki pengaruh sekolah lanjutan pada kejahatann dengan mengikuti anak-anak dari sekolah dasar mereka sampai sekolah lanjutan. Prediktor sekolah dasar terbaik dari kejahatan adalah peringkat membuat-masalah pada umur 8-10 oleh teman dan guru. Sekolah lanjutan berbeda secara dramatis dalam taraf kejahatan resmi mereka, dari satu sekolah dengan 20,9 pemunculan di depan pengadilan per 100 per tahun sampai sekolah lain dengan angka berkaitan hanya 0,3. Namun, sangat mencolok bahwa sebagian besar anak yang  suka mengganggu cenderung untuk masuk ke sekolah dengan kejahatan yang tinggi, sementara anak-anak dengan sifat suka mengganggu yang rendah cenderung memasuki sekolah dengan pelanggaran yang terkecil.

            Semua sekolah mempunyai area penampungan yang berbeda. Sekolah lanjutan dengan pelanggaran yang rendah menampung sangat benayak, karena para orang tua yang sangat tertarik pada pendidikan anak-anak mereka, yang cenderung merupaka anak-anak berperilaku baik dengan pencapaian tinggi,   sangat peduli bahwa anak-anak mereka harus masuk sekolah ini. Dengan memperhatikan laporang dari sekolah dasar, para  guru kepala dari sekolah lanjutan dapat mengambil dan memilih anak yang terbaik dari semua pelamat, dan meninggalkan sekolah dengan angka kejahatan yang tinggi dengan anak yang berpencapaian yang rendah dan berperilaku buruk. Dengan demikian, adalah jelas bahwa sebagian besar variasi dalam taraf kejahatan di antara sekolah dapat dijelaskan oleh perbedaan dalam pengambilan anak-anak yang bermasalah. Sekolah lanjutan itu sendiri hanya mempunyai pengaruh yang sangat kecil terhadap kejahatan anak-anak tersebut.

            Studi yang paling dikenal tentang pengaruh sekolah terhadap kejahatan dilangsungkan, juga di London, oleh Rutter dkk (1979). Mereka mempelajari 12 sekolah komprehensifm dan kembali menemukan perbedaan-perbedaan besar dalam taraf kejahatan resmi di antara sekolah-sekolah itu. Sekolah dengan taraf kejahatan tinggi cenderung mempunyai taraf bolos yang tinggi, murid dengan kemampuan yang rendah, dan orang-tua dengan kelas-sosial yang rendah. Namun, perbedaan dalam taraf kejahatan di antara sekolah tidak dapat secara keseluruhan dijelaskan oleh perbedaab dalam kelas sosial dan skor penalaran verbal dari para siswa ketika masuk (umur 11). Karena itu, Rutter dkk berargumen, perbedaan taraf kejahatan tersebut disebabkan oleh suatu aspek dalam sekolah itu sendiri atau oleh faktor-faktor lain yang tidak terukur.

            Dalam berusaha menemukan aspek sekolah yang mana yang mungkin mendorong atau menghamabt kejahatan, Rutter dkk (1979) mengembangkan ukuran ‘proses sekolah’ berdasarkan struktur sekolah, organisasi, dan fugnsi. Hal ini berkaitan dengan perilaku salah sekolah, pencapaian akademis, dan kemangkiran terlepas dalam faktor-faktor ketika masuk (pemasukan). Namun, hal itu tidak secara signifikan berkaitan dengan kejahatan yang terlepas dari faktor-faktor pemasukan (intake). Banyak aspek sekolah tidak berkaitan dengan taraf kejahatannya: umur bangunan, jumlah siswa,  banyak ruang per siswa, rasio staf/siswa, tekanan akademis (misalnya jumlah pekerjaan rumah atau penggunaan sekolah), taraf pergantian guru, jumlah piknik sekolah, perawatan bangunan sekolah, dan seterusnya. Faktor-faktor sekolah utama yang berkaitan dengan kejahatan adalah jumlah hukuman yang tinggi dan rendahnya jumlah pujian yang diberikan oleh guru di kelas. Namun, adalah sulit untuk mengetahui apakan banyak hukuman dan sedikit pujian adalah penyebab atau akibat dari perilaku sekolah anti-sosial, yang pada gilirannya mungkin berkaitan dengan melakukan pelanggaran di luar sekolah.

            Riset Rutter dkk. (1979) tidak memperlihatkan secara tidak mendua bahwa faktor-faktor sekolah mempengaruhi kejahatan. Hal ini sebagian karena sedikitnya jumlah sekolah yang terlinat dalam studi tersebut (hanya 9 yang berisi siswa pria), dan sebagian karena jauh lebih banyak yang diketahui tentang faktor resiko level-individual untuk kejahatan daripada tenang faktor resiko level-sekolah. Karena hal ini adalah studi perintis, faktor-faktor resiko level sekolah mungkin belum diukur. Untuk memajukan pengetahuan tentang pengaruh sekolah yang mungkin terhadap kejahatan, riset longitudinal diperlukan dimana banyak faktor diukur untuk anak-anak sekolah dasar, yang kemudian disusul (di-follow-up) ke sejumlah besar sekolah lanjutan. Hal ini menjadikan mungkin secara meyakinkan untuk mengidentifikasikan faktor-faktor sekolah yang menjelaskan perbedaan-perbedaan dalam taraf kejahatan terlepas dari faktor-faktor level individual yang ada ketika masuk sekolah

Pengaruh Komunitas

Taraf kejahatan bervariasi secara sistematis dengan wilayah tempah tinggal. Sebagai contoh,  Clark dan Wenninger (1962) membandingkan empat wilayah di Illinois dan menyimpulkan bahwa taraf kejahatan yang dilaporkan-sendiri adalah paling tinggi di kota dalam, lebih rendah di wilayah perkotaaan kelas-rendah, lebih rendah lagi di area perkotaan menengah ke-atas, dan yang  paling rendah dari semuanya dalam area peternakan pedesaan, dalam survei nasional mereka terhadap remaja-remaja Ameriks, Gold dan Reimer (1975) juga menemukan bahwa kejahatan yang dilaporkan sendiri adalah paling tinggi untuk pria yang tinggal di pusat kota dan paling rendah untuk yang tinggal di area pedesaan. Kemudian, Shannon (1988) mendokumentasikan bagaimana taraf kontak dengan polisi selama periode yang panjang adalah paling tinggi dalam kota dalam (di Racine, Wisconsin) dan paling rendah dalam area yang lebih pinggiran.

            Studi-studi klasik oleh Shaw dan McKay (1942, 1969)  di Chicago dan kota-kota Amerika yang lain juga memperlihatkan bahwa taraf kejahatan remaja (berdasarkan dimana para pelanggar tinggal) adalah paling tinggi di area kota-dalam yang ditandai oleh kemerosotan fisik, disorganisasi lingkungan tempat tinggal, dan mobilitas tempat tinggal yang tinggi. Suatu proporsi besar dari semua pelanggar berasal dari proporsi kecil wilayah, yang cenderung paling kekurangan. Lebih lanjut, taraf kejahatan yang relatif tinggi ini bertahan dari waktu ke waktu, biarpun terdapat efek gelombang berturut-turut imigrasi dan emigrasi dari kelompok etnis dan negara dalam wilayah-wilayah yang berbeda. Shaw dan McKay menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang memproduksi kejahatan melekat (inheren) dalam komunitas: wilayah- yang mempunyai taraf kejahatan tinggi yang bertahan sebagian karena transmisi budaya nilai dan norma anti-sosial dari satu generasi ke generasi berikutnya dan sebagian karena proses sosialisasi tidak efektif terhadap mana anak-anak terpapar dalam area-area yang kekurangan. Kedua faktor inti merupakan konsekuensi dari disorganisasi sosial dari suatu area, atau kemampuan buruk lembaga lokal untuk mengontrol perilaku penduduk lokal (Bursik, 1988).

            Jonassen (1949) mengkritik kesimpulan Shaw dan McKay tentang tidak pentingnya asal enis dan negara. Dia menyatakan bahwa diharapkan untuk tidak hanya membandingkan taraf kejahatan pada kelompok etnis yang sama dalam wilayah-wilayah yang berbeda (seperti yang dilakukan oleh Shaw dan McKay) tapi juga membandingkan wilayah-wilayah dengan kelompok etnis yang berlainan  dalam area yang sama. Jonassen berargumen bahwa data publikasi Shaw dan McKay memperlihatkan bahwa warga Eropa utara dan barat mempunyai taraf kejahatan yang lebih rendah daripada warga Eropa selatan dan timur yang tinggal di area-area Chicago yang sama. Jonassen juga memperhatikan bahwa Shaw dan McKay telah menemukan bahwa orang-orang timur mempunyai taraf kejahatan yang rendah bahkan ketika mereka tinggal dalam area kota yang paling buruk, sementara orang-orang kulit hitam mempunyai taraf kejahatan yang tinggi di semua area dimana mereka tinggal (lihat juga Gold 1987).

            Karya ilmiah kemudian cenderung  untuk menangani keraguan tentang konsistensi taraf kejahatan dari waktu ke waktu. Bursik dan Webb (1988) menguji hipotesis transmisi budaya Shaw dan McKay menggunakan data yang lebih baru di Chicago dan metode kuantitatif yang lebih canggih. Mereka menyimpulkan bahwa tatanan taraf kejahatan area tidak stabil sesudah 1950, tapi mencerminkan perubahan demografis. Variasi dalam taraf kejahatan dalam wilayah yang berlainan secara signifikan berkorelasi dengan variasi dalam persentase orang non-kulit putih, orang kulit putih yang dilahirkan di negara lain, dan rumah tangga yang terlalu padat. Kenaikan terbesar dalam kejahatan dalam suatu area terjadi ketika orang kulit hitam pindah dari minoritas menjadi mayoritas, seperti yang memang diperhatikan oleh Jonassen (1949) dan Short (1969). Hasil-hasil ini menyimpulkan bahwa gagasan-gagasan Shaw dan McKay, tentang nilai-nilai komunitas yang bertahan terlepas dari gelembang imigrasi dan emigrasi yang berturut-turut, adalah tidak benar. Adalah perlu untuk memperhatikan jenis wilayah dan jenis individu yang tinggal dalam area itu (al. Simcha-Fagan dan Schwartz, 1986).

            Stud-studi ekologi yang serupa telah dilaksanakan di Inggris (untuk tinjauan, lihat Baldwin 1979). Sebagai contoh, Wallis dan Maliphant (1967) memperlihatkan bahwa di London taraf pelaku kejahatan resmi berkorelasi dengan taraf renting (penyewaan) otoritas lokal,  kepadatan penduduk, rumah tangga yang berdesakan, proporsi imigran yang tidak berkulit putih, dan proporsi penduduk di bawah 21 tahun. Namun, taraf pelaku kejahatan secara negatif berkaitan dengan bunuh diri dan taraf pekerjaan dan tidak berkaitan dengan taraf pelanggaran hukum atau sakit jiwa. Power dkk (1972) melaksanakakan studi yang serupa dalam wilayah London kelas-rendah dan menemukan bahwa taraf kejahatan resmi bervariasi menurut taraf kebanyakan penduduk dan kesuburuan dan dengan kelas sosial dan jenis perumahan suatu area.

            Dalam proyek Wallis dan Maliphant, biasanya adalah benar bahwa taraf kejahatan adalah lebih tinggi di kota dalam, dan adalah penting untuk menyelidiki kenapa demikian. Salah satu studi yang paling signifikan tentang kota-dalam dan wilayah pedesaan adalah perbandingan oleh Rutter dan rekan-rekan (Rutter, Cox, dkk, 1975) terhadap anak-anak berumur 10 tahun dalam London dalam dan Isle of Wight. Mereka menemukan insiden gangguan perilaku yang jauh lebih tinggi dalam sampel London mereka. Namun, mereka juga memperlihatkanbahwa perbedaan antara  kota-dalam dan area pedesaan mereka menghilang setelah mereka mengatur/membatasi  dalam hal kesengsaraan keluarga (berdasarkan konflik orang tua, perpecahan keluarga, orang tua kriminal, dan ukuran keluarga yang besar). Rutter (1981) menyimpulkan bahwa taraf gangguan perilaku adalah lebih tinggi pada London dalam murni karena kesengsaraan/masalah keluarga lebih umum di sana. Setiap pengaruh masalah tempat tinggal kota-dalam terhadap perilaku anti-sosial anak bersifat tidak langsung dan bersifat rangkaian: komunitas mempengaruhi keluarga, yang pada gilirannya mempengaruhi anak-anak.

            Tidak selalu benar bahwa taraf pelanggaran hukum adalah paling tinggi di area kota-dalam. Baldwin dan Bottoms (1976) menemukan bahwa di Sheffield faktor kunci yang mempengaruhi dimana para pelaku kejahatan tinggal adalah jenis perumahan. Taraf pelaku kejahatan adalah paling rendah dalam area yang dihuni pemiliknya dan paling tinggi dalam area perumahan pemerintah dan penyewaan swasta, dan wilayah-wilayah berkejahatan tinggi tidak semuanya di dekat pusat kota. Mereka menyimpulkan bahwa kebijakan alokasi perumahan pemerintah memainkan peran dalam menciptakan area dengan taraf pelaku kejahatan yang tinggi. Hal ini kembali memunculkan persoalan tentang seberapa jauh taraf pelaku kejahatan mencerminkan pengaruh wilayah tersebut atau jenis individual yang kebetulan tinggal di sana.

            Reiss (1986) menyatakan bahwa suatu pertanyaan kunci adalah kenapa taraf kejahatan pada komunitas-komunitas berubah dari waktu ke waktu, dan pada tingkat apa hal ini merupakan fungsi dari perubahan dalam komunitas atau dalam individu-individu yang tinggal di dalamnya. Menjawab pertanyaan ini memerlukan riset longitudinal dimana komunitas dan individual di-follow-up (ditelusuri). Cara terbaik untuk menetapkan dampat lingkungan adalah menelusuri orang-orang yang pindah wilayah, dengan demikian menggunakan setiap orang sebagai kontrolnya sendiri. Sebagai contoh, Osborn (1980) di Cambridge Study menemukan bahwa pindah keluar London menimbulkan pengurangan yang signifikan dalam penghukuman dan kejahatan yang dilaporkan sendiri. Pengurangan ini mungkin terjadi karena pindah memecahkan kelompok pelaku kejahatan bersama, atau karena terhadap kesempatan yang lebih sedikit untuk kejahatan di luar London. Rutter (1981) juga memperlihatkan bahwa perbedaan antara London dalam dan Isle of Wight berlaku bahkan ketika analisisnya dibatasi pada anak-anak yang diasuh dalam wilayah yang asma oleh orang tua dalam area yang sama. Hasil ini menyimpulkan bahwa perpindahan dari keluarga masalah menjadi wilayah masalah tidak dapat menjadi penjelasan penuh terhadap perbedaan wilayah dalam kejahatan.

            Jelas, terdapat interaksi antara individual dan komunitas dimana mereka tinggal. Beberapa aspel lingkungan tempat tinggi kota-dalam mungkin mendukung (kondusif) terhadap kejahatan, mungkin karena kota-dalam menimbulkan putusnya ikatan komunitas atau pola lingkungan tempat tinggal yang berbentuk saling mendukung secara menguntungkan, atau mungkin karena kepadatan penduduk yang tinggi menghasilkan tegangan, frustasi, atau ketidakdikenalan (anonimitas). Mungkin ada banyak faktor yang saling berkaitan. Seperti yang diargumenkan oleh Reiss (1986), wilayah-wilayah kejahatan tinggi sering mempunyai konsentrasi tinggi rumah tangga yang dikepalai orang tua tunggal wanita dengan penghasilan yang rendah, tinggal dalam perumahan yang murah dan buruk. Kontrol orang tua yang melemah dalam keluarga-keluarga ini, sebagian karena fakta bahwa sang ibu harus bekerja dan meninggalkan anak-anaknya tidak terawasi – berarti bahwa anak-anak itu cenderung untuk berkeluyuran di jalanan. Akibatnya, mereka dipengaruhi oleh subbudaya teman yang sering mendorong dan mengukuhkan tindak kejahatan. Interaksi antara faktor individu, keluarga, teman, dan lingkungan tempat tinggal mungkin merupakan aturannya bukan perkecualiannya.

Faktor-faktor Situasional

Adalah masuk akal untuk menyimpulkan bahwa kejahatan dan perilaku anti-sosial dihasilkan oleh interaksi seorang individu (dengan tingkat tertentu kecenderungan anti-sosial) dan lingkungan (yang menghasilkan kesempatan kriminal). Dengan lingkungan yang sama, beberapa individual mungkin lebih mungkin melakukan kejahatan daripda yang lainnya, dan sebaliknya individual yang sama lebih mungkin melakukan kejahatan dalam beberapa lingkungan daripada lingkungan yang lainnya. Riset kriminologi secara khusus berkonsentrasi pada perkembangan individu kriminal atau kejadian kriminal, tapi jarang pada keduanya.

            Seperti yang sudah disebut, pelaku kejahatan  umumnya serba bisa bukannya terspesialisasi. Dengan demikian, dalam mempelajari pelaku kejahatan tampak tidak perlu mengembangkan teori yang berbeda untuk jenis pelaku kejahatan yang berbeda. Sebaliknya, dalam usaha menjelaskan kenapa kejahatan terjadi, situasinya begitu beragam dan spesifik terhadap kejahatan tertentu sehingga mungkin sekali perlu untuk membentuk penjelasan yang berbeda untuk jenis kejahatan yang berbeda.

            Teori paling populer dalam peristiwa kejahatan menyimpulkan bahwa kejahatan  terjadi dalam menanggapi kesempatan spesifik, ketika keuntungan yang diharapkan (misalnya barang yang dicuri, persetujuan rekan) melebihi biaya yang diduga (misalnya hukuman legal, ketidaksetujuan orang tua). Sebagai contoh, Clark dan Cornish (1985) menguraikan teori pencurian pada tempat tinggal yang mencakup faktor-faktor pengaruh seperti apakah suatu rumah dihuni, apakah rumah itu tampak makmur, apakah ada semak untuk bersembunyi, apakah ada tetangga yang mencampuri, apakah rumah itu punya alarm maling, dan apakah rumah itu berisi anjing. Beberapa periset yang lain juga telah mengajukan bahwa kejahatan melibatkan keputusan rasional dimana keuntungan yang diharapkan lebih besar daripada biaya yang diduga (misalnya Farrington dan Kidd 1977).

            Biarpun jelas bahwa kejahatan memerlukan kesempatan, juga mungkin sekali bahwa beberapa individu lebih mungkin daripada yang lain untuk mencari dan menciptakan kesempatan untuk melakukan kejahatan dan memilih korban yang cocok. Teori “kegiatan” rutin milik Cohen dan Feison (1979) berusaha untuk menjelaskan  bagaimana kesempatan untuk kejahatan muncul dan berubah dari waktu ke waktu. Mereka berargumen bahwa kesempatan kriminal bervariasi menurut kegiatan rutin yang menghasilkan kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat tinggal. Sebagai contoh,  kenaikan dalam jumlah pekerja wanita, berpasangan dengan kenaikan rumah-tangga yang dikepalai orang tua tunggal wanita, telah menciptakan jumlah rumah yang ditinggalkan tanpa dihuni selama siang hari, sehingga menghasilkan lebih banyak kesempatan untuk aksi maling.

            Dalam Studi Cambridge, seperti yang sudah disebut, motif paling umum untuk kejahatan adalah bersifat rasional atau kegunaan, sehingga disimpulkan bahwa  sebagian besar kejahatan properti dilakukan karena para pelaku kejahatan menginginkan barang-barang curian itu (West dan Farrington 1977). Selain itu, sejumlah survei  lintas-bagian telah memperlihatkan bahwa perkiraan yang rendah terhadap resiko ditangkap berkorelasi dengan taraf kejahatan yang dilaporkan sendiri yang tinggi (al. Erickson dkk, 1977). Sayangnya, arah pengaruh sebab akibat tidak jelas dalam riset lintas-bagian, karena melakukan tindakan kejahatan dapat menyebabkan perkiraan yang rendah terhadap kemungkinan deteksi dan begitu juga sebaliknya. Sejumlah studi yang dilaksanakan oleh Farrington dan Knight (1980), menggunakan metode percobaan, survei, dan pengamatan, menyimpulkan bahwa mencuri menyangkut pembuatan keputusan yang beresiko. Dengan demikian, masuk akal untuk menyimpulkan bahwa kesempatan untuk kejahatan, biaya dan keuntungan langsung kejahatan, dan kemungkinan hasilnya, semua mempengaruhi apakan orang-orang melakukan kejahatan dalam situasi apapun.

PERSOALAN KEBIJAKAN DAN TEORITIS

Menjelaskan Perkembangan Kejahatan

Dalam menjelaskan perkembangan perbuatan kejahatan, masalah utama adalah bahwa sebagian besar faktor resiko cenderung berimpitan dan cenderung saling berkaitan. Sebagai contoh, remaja yang tinggal dalam lingkungan yang buruk secara fisik dan kacau secara sosial cenderung secara tidak proporsional untuk juga berasal dari keluarga dengan pengawasan orang tua yang buruk dan disiplin orang tua yang tidak menentu dan juga cenderung  untuk mempunyai impulsifitas yang tinggi dan kecerdasan yang rendah. Konsentrasi dan kejadian-bersama kemalangan-kemalangan ini menjadikan sulit untuk membentuk pengaruh independen, interaktif, dan berangkai dari hal-hal ini terhadap tindak kejahatan dan perilaku anti-sosial. Dengan demikian, setiap teori perkembangan tindak kejahatan dalam kondisi pengetahuan yang sekarang adalah spekulatif.

            Langkah pertama adalah menetapkan faktor apa yang memprediksi tindak kejahatan terlepas (independen) dari faktor-faktor lain. Dalam Studi Cambridge, biasanya adalah benar bahwa ukuran dalam masing-masing kategori variabel (impulsifitas, kecerdasan, pengasuhan orang tua, keluarga anti-sosial, kekurangan sosio-ekonomi, perilaku anti-sosial anak) memprediksikan tindak kejahatan terlepas dari ukuran-ukuran satu sama lain (Farrington 1990b). sebagai contoh, Farrington dan Hawkins (1991) melaporkan bahwa prediktor independen hukuman antara umru 10 dan 20 mencakup kenekatan yang tinggi, prestasi sekolah yang tinggi, pengasuhan anak oleh orang tua yang buruk, orang tua yang pernah dihukum, perumahan yang buruk,  dan sifat suka membuat masalah. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa impulsifitas,  kecerdasan rendah, pengasuhan buruk oleh orang tua, keluarga anti-sosial, dan kekurangan sosio-ekonomi, terlepas dari kesalingterkaitannya, semuanya berkontribusi secara independen terhadap perkembangan kejahatan. Setiap teori perlu memberikan prioritas untuk menjelaskan hasil-hasil ini.

            Sebagian dari teori kejahatan yang paling penting telah dijelaskan dalam bab ini. Hal ini termasuk teori subkultur frustasi status-kejahatan dari Cohen (1955), teori kesempatan-keturunan Cloward dan Ohlin, teori pembelajaran sosial Trasler (1962), teori kontrol-ikatan sosial Hirschi (1969), teori asosiasi diferensial Sutherland dan Cressey, teori mengabaikan konsekuensi masa depan Wilson dan Herrnstein, teori pembuatan keputusan situasional Clarke dan Cornish (1985), dan teori kontrol-diri Gottfredson dan Hirschi. Kecenderungan  modern adalah mencoba untuk mencapai daya penjelasan yang bertambah dengan mengintegrasikan dalil yang berasal dari beberapa teori sebelumnya (misalnya Elliot dkk, 1985; Hawkins dan Weis 1985; Pearson dan Weiner 1985). Teori kejahatan dan perilaku anti-sosial penulis sendiri (Farrington, 1986b, 1992c, 1993c) juga integratif, dan teori itu membedakan secara jelas antara perkembangan anti-sosial dan kejadian tindakan anti-sosial. Teori ini menyimpulkan bahwa tindak kejahatan adalah hasil akhir dari suatu proses empat-tahap: pengenergian, pengarahan, penghambatan, dan pembuatan keputusan.

            Faktor-faktor pengenergian jangka panjang utama yang akhirnya menimbulkan  berbagai kecenderungan anti-sosial adalah hasrat terhadap barang material, status di antara teman intim, dan kesenangan. Faktor penergian jangka pendek utama  yang menimbulkan berbagai kecenderungan anti-sosial adalah kebosanan, frustasi, kemarahan, dan konsumsi alkohol. Hasrat terhadap kesenangan mungkin lebih besar di antara anak-anak dari keluarga yang lebih miskin – mungkin karena kesenangan lebih tinggi dinilai oleh orang-orang kelas bawah daripada kelas menengah, yang pada gilirannya menyebabkan anak-anak miskin berpikir mereka menjalani hidup yang membosankan, atau karena  anak-anak miskin kurang mampu untuk menunda kegembiraan segera untuk mendukung sasaran jangka panjang (yang dapat dikaitkan dengan penekanan dalam budaya kelas bawah terhadap hal konkret dan masa kini bukan hal abstrak dan masa depan).

            Dalam tahap pengarahan, motifasi-motifasi ini menghasilkan kecenderungan antisosial jika metode yang tidak disetujui secara sosial untuk memuaskannya dipilih karena kebiasaan. Metode yang dipilih tergantung kepada kecakapan perilaku dan kematangan. Sebagai contoh, anak 5 tahun akan sulit mencuri mobil. Beberapa orang  (misalnya anak keluarga miskin) kurang mampu memuaskan hasrat mereka untuk barang material, kesenangan, dan status sosial lewat metode yang disetujui secara sosial atau hukum, dan dengan demikian cenderung memilih metode yang ilegal atau tidak disetujui secara sosial. Ketidakmampuan relatif bagi anak-anak miskin untuk mencapai sasaran lewat metode yang absah dapat disebabkan oleh kecenderungan mereka untuk gagal di sekolah dan mempunyai sejarah pekerjaan berstatus rendah dan tidak menentu. Kegagalan sekolah pada gilirannya sering merupakan akibat lingkungan intelektual yang tidak mendukung yang cenderung dihasilkan orang tua kelas rendah untuk anak mereka, dan kurangnya penekanan mereka pada konsep abstrak.

            Dalam tahap penghambatan, tendensi anti-sosial dapat dihambat oleh keyakinan dan sikap yang ditanamkan yang telah terbentuk dalam proses pembelajaran sosial sebagai akibat dari sejarah hukuman dan imbalan. Keyakinan bahwa kejahatan salah, atau akal sehat yang kuat, cenderung untuk dibentuk jika orang tua mendukung norma hukum, jika mereka menerapkan pengawasan yang cermat kepada anak mereka, dan jika mereka menghukum perilaku yang tidak disetujui secara sosial dengan menggunakan disiplin berorientasi cinta. Tendensi anti-sosial juga dapat dihambat lewat empati, yang bisa berkembang sebagai hasil hubungan cinta dan kehangatan orang tua. Kepercayaan  bahwa kejahatan adalah absah, dan perilaku anti-otoritas secara umum, cenderung untuk dibangun jika anak-anak telah terpapar terhadap sikap dan perilaku yang mendukung kejahatan (misalnya dalam proses peniruan), khususnya lewat anggota keluarga mereka, lewat teman mereka, dan dalam kelompok mereka.

            Dalam tahap pembuatan keputusan, yang merinci interaksi antara individu dan lingkungan, apakah seseorang dengan tingkat tendensi anti-sosial tertentu melakukan tindakan anti-sosial dalam situasi tertentu  tergantung pada kesempatan, biaya, dan keuntungan, dan pada kemungkinan subyektif terhadap hasil yang berlainan. Biaya dan keuntungan mencakup faktor situasional yang segera seperti barang material yang dapat dicuri dan kemungkinan dan konsekuensi ditangkap oleh polisi, ketidaksetujuan yang mungkin dari orang tua atau pasangan, dan dorongan atau pengukuhan dari teman. Pada umumnya, orang-orang cenderung membuat keputusan rasional. Namun, orang-orang yang lebih impulsif  kurang mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin dari tindakan mereka, khususnya konsekuensi yang mungkin tertunda lama.

            Dengan menerapkan teori ini untuk menjelaskan beberapa hasil yang ditinjau di sini, anak-anak dari keluarga miskin untuk melakukan kejahatan karena mereka kurang mampu untuk mencapai sasaran mereka secara legal dan karena mereka menilai beberapa sasaran (misalnya kesenangan) sangat tinggi.Anak-anak dengan kecerdasan rendah lebih mungkin untuk melakukan kejahatan karena mereka cenderung gagal di sekolah dan dengan demikian tidak dapat mencapai tujuan mereka secara legal. Anak-anak impulsif, dan yang memiliki kemampuan yang rendah untuk mengolah konsep abstrak, lebih mungkin untuk melakukan kejahatan karena mereka tidak memberikan pertimbangan dan bobot yang memadai  terhadap akibat yang mungkin dari tindak kejahatan. Anak-anak yang terpapar terhadap perilaku pengasuhan anak yang buruk, ketidakharmonisan, atau pemisahan pada pihak orang tua mereka mungkin untuk melakukan kejahatan karena mereka tidak membentuk kontrol internal terhadap perilaku yang tidak disetujui secara sosial, sementara anak-anak keluarga kriminal dan yang mempunyai teman yang jahat cenderung membangun sikap anti-otoritas dan kepercayaan bahwa tindak kejahatan dapat diabsahkan. Keseluruhan proses tersebut melestarikan-sendiri, dalam hal bahwa kemiskinan, kecerdasan yang rendah, dan kegagalan sekolah yang awal menimbulkan kemangkiran dan kurangnya kualifikasi pendidikan, yang pada gilirannya menimbulkan pekerjaan dengan status rendah dan masa pengangguran, yang keduanya menjadikan makin sulit untuk mencapai tujuan secara absah.

            Permulaan tindak kejahatan mungkin disebabkan oleh meningkatnya motifasi jangka panjang (kebutuhan yang bertambah terhadap benda materi, status, dan kesenangan), meningkatkan kemungkinan untuk memilihi metoda yang tidak disetujui secara sosial (mungkin sekali berkaitan dengan perubahan dalam pengaruh sosial yang dominan  dari orang tua ke teman),  meningkatnya kesempatan (karena kebebasan yang bertambah dari kontrol orang tua dan bertambahnya waktu yang dihabiskan dengan teman), atau meningkatnya  kegunaan yang diharapkan dari tindak kejahatan (karena makin pentingnya persetujuan teman dan makin kurang pentingnya persetujuan orang tua). Penghentian dari tindak kejahatan dapat dikaitkan meningkatkan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan  lewat cara yang legal (al mendapatkan benda materi lewat pekerjaan, mendapatkan kepuasan seksual lewat pernikahan), meningkatnya pengaruh yang bersifat melarang  dari pasangan dan teman satu tempat tinggal,  berkurangnya kesempatan (karena berkurangnya waktu yang dihabiskan dengan teman), dan berkurangnya  kegunaan yang diharapkan dari kejahatan (karena makin kurang pentingnya persetujuan teman dan makin pentingnya ketidaksetujuan dari pasangan dan tempat satu tempat tinggal).

            Kelaziman tindak kejahatan mungkin memuncak antara umur 14 dan 20 karena remaja pria (khususnya yang gagal pada sekolah kelas rendah) mempunyai impulsifitas tinggi, hasrat yang tinggi terhadap kesenangan, benda material, dan status sosial antara umur-umur ini, kesempatan yang kecil untuk mencapai hasrat mereka secara legal, dan kerugian yang sedikit (karena hukuman yang bersifat hukum lunak dan teman akrab mereka – teman pria – sering menyetujui tindak kejahatan). Sebaliknya, setelah umur 20, hasrat lebih lemah atau lebih realistis, terdapat kemungkinan yang lebih besar untuk mencapai sasaran yang lebih terbatas secara legal, dan biaya tindak kejahatan adalah lebih besar (karena hukuman yang bersifat hukum lebih keras dan teman intim mereka – istri atau pacar – tidak menyetujui tindak kejahatan).

Faktor Resiko dan Pencegahan

Metode-metode pencegahan atau perlakuan terhadap perilaku anti-sosial hendaknya didasarkan pada teori yang diabsahkan secara pengalaman tentang sebab-sebabnya. Dalam bagian ini, implikasi tentang pencegahan dan perlakuan ditarik dari beberapa faktor resiko dan sebab yang mungkin dair perilaku anti-sosial yang ditulis di atas. Fokus utamanya adalah pencegahan sosial yang awal terhadap tindak kejahatan (Untuk tinjauan yang lebih luas terhadap topik ini, lihat Kazdin 1985; Gordon dan Arbuthnot 1987; McCord dan Tremblay 1992). Implikasi yang ditinjau di sini adalah yang mempunyai pengabsahan empiris (pengalaman), khususnya dalam percobaan acak.  Pengaruh setiap intervensi terhadap pelanggaran hukum dapat diperlihatkan secara paling meyakinkan dalam percobaan-percobaan tersebut (Farrington 1983b; Farrington, Ohlin, dan Wilson 1986).

            Sulit untuk mengetahui bagaimana dan kapan mengintervensi secara paling balik, karena kurangnya pengetahuan tentang rangkaian perkembangan, umur-umur dimana faktor penyebab paling penting, dan pengaruh pada permulaan, keberlanjutan, dan penghentian. Sebagai contoh, jika bolos menyebabkan kejahatan dalam rangkaian perkembangan, mengintervensi secara berhasil untuk mengurangi bolos akan mengurangi kejahatan. Pada pihak lain, jika bolos dan kejahatan hanya merupakan perwujudan perilaku yang berbeda dari konsepsi mendasar yang sama, menggasak satu gejala tidak selalu berarti mengubah konsepsi mendasar tersebut. Pengalaman adalah berguna dalam membedakan antara rangkaian perkembangan dan perwujudan (manisfestasi) yang berbeda, dan memang Berg dkk (1979) menemukan lewat pengalaman bahwa turunya kemangkiran diikuti oleh berkurangnya kejahatan/pelanggaran hukum.

            Gagasan intervensi awal dan perlakuan pencegahan memunculkan banyak persoalan teoritis, praktis, etis, dan legal. Sebagai contoh, apakah teknik pencegahan hendaknya ditargetkan secara sempit pada anak-anak yang diidentifikasikan sebagai pelaku kejahatan potensial atau lebih luas pada semua anak yang tinggal dalam area berisoko tinggi (misalnya perumahan yang kekurangan)? Akan paling efisien untuk menargetkan anak-anak yang paling membutuhkan perlakuan tersebut. Juga, beberapa perlakuan dapat tidak efektif jika ditargetkan secara luas, jika perlakuan ini tergantung pada meningkatkan level orang yang ada pada dasar kumpulan dibandingkan semua orang yang lain. Namun, kelompok yang paling ekstrem mungkin juga merupakan kelompok yang paling menentang  perlakuan atau sulit untuk dilibatkan, sehingga mungkin terdapat pay-off (kompensasi) yang lebih besar dari menargetkan orang-orang yang tidak benar-benar paling membutuhkan. Juga, mungkin bisa diargumenkan bahwa identifikasi awal dapat memiliki efek pencelaan atau pemberian julukan yang tidak diinginkan, biarpun kasus yang paling ekstrim bagaimanapun cenderung dicela dan tidak ada bukti bahwa identifikasi untuk perlakuan pencegahan itu sendiri menimbukan akibat merusak. Tingkat pencelaan, jika ada, mungkin tergantung hakekat perlakuan tersebut. Untuk mendapatkan persetujuan politik, mungkin yang paling baik adalah menargetkan area bukannya individu.

            Persoalan etis yang muncul lewat intervensi awal tergantung pada level akurasi prediktif dan mungkin bisa diselesaikan dengan membebani biaya sosial terhadap tunjangan sosial. Sebagai contoh, Farrington dkk (1988a, b) menemukan bahwa tiga perempat anak-anak rentan yang diidentifikasikan pada umur 10 dihukum. Bisa diargumenkan bahwa,  jika perlakuan pencegahan telah diterapkan pada anak-anak ini, satu perempat yang “positif palsu” akan mendapat perlakuan secara tidak perlu. Namun, jika perlakuan terdiri dari tunjangan kesejahteraan tambahan untuk keluarga, dan jika hal itu efektif dalam mengurangi kejahatan dari ke-3/4-nya, tunjangan ini mungkin melebihi biayanya dan identifikasi awal mungkin bisa diabsahkan. Sebenarnya, anak-anak rentan yang tidak dihukum mempunyai masalah sosial lain, termasuk hanya sedikit atau tidak ada teman pada umur 8 dan tinggal sendiri dalam kondisi rumah yang buruk pada umur 32. karena itu, bahkan pria yang tidak dihukum dalam survei tersebut mungkin sudah membutuhkan dan mendapatkan keuntungan dari sejenis perlakuan pencegahan yang dirancang untuk menghindari masalah-masalah mereka.

            Impulsifitas dan karakteristik kepribadian lainnya dari para pelaku kejahatan mungkin bisa diubah dengan menggunakan seperangkat teknik yang disebut latihan kecakapan antarpersonal kognitif-perilaku, yang telah terbukti sangat berhasil (misalnya Michelseon 1987). Misalnya, metode-metode yang digunakan oleh Ross untuk memperlakukan para pelaku kejahatan remaja (lihat Ross dkk, 1988, Ross dan Ross 1988) secara mantap didasarkan pada karakteristik individual yang diketahui dari para pelaku, yaitu impulsifitas, pemikiran konkret bukan abstrak, empati yang rendah, dan egosentrisitas.

            Ross percaya bahwa para pelaku kejahatan dapat diajarkan kecakapan kognitif dimana mereka  kekurangan, dan bahwa hal ini dapat menyebabkan berkurangnya tindak kejahatan mereka. Tinjauannya terhadap program rehabiliasi kejahatan (Gendreau dan Ross, 1979, 1987) memperlihatkan bahwa orang-orang yang telah berhasil mengurangi tindak kejahatan bisanya mencoba untuk mengubah pemikiran pelaku kejahatan tersebut. Ross menjalankan program “Penalaran dan Rehabilitasi” sendiri di Kanda, yang bertujuan untuk memodifikasi pemikiran impulsif, egosentris para pelaku kejahatan, untuk mengajarkan mereka untuk berhenti dan berpikir sebelum bertindak, untuk mempertimbangkan konsekuensi perilaku mereka, untuk membuat konsep cara-cara alternatif untuk menyelesaikan masalah interpersonal, dan mempertimbangkan dampak perilaku mereka pada orang-orang lain, terutama korban mereka. Dia menemukan (dalam suatu percobaan acak) bahwa hal itu menyebabkan penurunan signifikan dalam melakukan kembali tindakan kejahatan untuk suatu sampel kecil dalam periode follow-up selama sembilan bulan.

            Jika kecerdasan yang rendah dan kegagalan sekolah adalah penyebab tindak kejahatan, maka setiap program yang menimbulkan peningkatan sukses sekolah akan menimbulkan pengurangan dalam tindak kejahatan. Salah satu pencegahan kejahatan yang paling sukses adalah proyek pra-sekolah Perry yang dilaksanakan di Michigan oleg Schweinhart dan Weikart (1980). Hal ini pada esensinya adalah program ”Awal Kepala” yang ditargetkan pada anak-anak kulit hitam yang bernasib buruk, yang ditempatkan (kira-kira secara acak) untuk kelompok percobaan dan kontrol. Anak-anak yang menjalani percobaan menghadiri program pra-sekolah setiap hari, didukung oleh kunjungan ke ruma mingguan, biasanya selama dua tahun (mencakup umur 3-4). Tujuan program ini adalah memberikan rangsangan intelektual, untuk meningkatkan kemampuan kognitif, dan untuk meningkatkan prestasi sekolah kemudian.

            Anak-anak pra-sekolah tersebut secara signifikan lebihbaik dalam motifasi sekolah dasar, prestasi sekolah pada umur 14,  peringkat guru dalam hal perilaku di kelas pada umur 6-9, laporan sendiri  atas perilaku di kelas pada umur 15, dan laporan sendiri atas tindak kejahatan pada umur 15. Lebih lanjut, studi follow-up kemudian terhadap sampel ini oleh Berrueta-Clement dkk (1984) memperlihatkan bahwa, pada umur 19, kelompok percobaan lebih mungkin untuk dipekerjakan, lebih mungkin untuk lulus dari sekolah tinggi, lebih mungkin untuk menerima pelatihan ketrampilan atau perguruan tinggi dan lebih kecil kemungkinannya untuk ditahan. Dengan demikian, program pengayaan intelektual pra-sekolah ini menyebabkan berkurangnya kegagalan sekolah dan berkurangnya kejahatan.

            Jika pengawasan orang tua yang buruk dan perilaku pengasuhan anak yang tidak menentu adalah penyebab kejahatan, tampaknya mungkin pelatihan orang tua dapat berhasil mengurangi kejahatan. Banyak jenis terapi keluarga telah digunakan (lihat misalnya Kazdin 1987), tapi latihan perilaku manajemen-orangtua yang dikembangkan oleh Patterson (1982) di Oregon adalah salah satu pendekatan yang paling menimbulkan harapan. Pengamatannya yang cermat terhadap interaksi orang tua-anak memperlihatkan bahwa orang tua dari anak-anak anti-sosial tidak memadai dalam metode pengasuhan anak mereka. Para orang tua ini gagal untuk mengatakan kepada anak-anakmerka bagaimana mereka diharapkan untuk bertindak, gagal untuk memantau perilaku untuk memastikan bahwa hal itu diharapkan, dan gagal untuk memaksakan aturan secara layak dan tidak mendua dengan imbalan dan hukuman yang tepat.  Para orang tua dari anak anti-sosial menggunakan lebih banyak hukuman (seperti  mencela, berteriak, atau mengancam), tapi gagal untuk menjadikannya bergantung pada perilaku anak. Patterson berusaha untuk melatih para orang tua ini dalam metoda pengasuhan anak yang efektif, yaitu memperhatikan apa yang dilakukan oleh seorang anak, memantau perilaku selama periode yang panjang, dengan jelas menyatakan aturan rumah, membuat hukuman dan imbalan bergantung pada perilaku,  dan menegosiasikan ketidaksepakatan sehingga konflik dan krisis tidak meningkat. Perlakuannya telah tampak efektif dalam mengurangi pencurian dan perilaku anti-sosial oleh anak-anal selama periode pendek dalam studi skala kecil (Dishion dkk, 1992; Patterson dkk, 1982, 1992).

            Jika mempunyai teman yang jahat menyebabkan kejahatan, maka setiap program yang mengurangi pengaruh mereka atau meningkatkan pengaruh teman pro-sosial dapat mempunyai efek mengurangi pada tindak kejahatan. Beberapa studi memperlihatkan bahwa anak-anak sekolah dapat diajarkan untuk menentang pengaruh teman yang mendorong merokok, minum-minum, dan penggunaan mariyuana (Untuk tinjauan mendetail dari program-program ini, lihat Botvon 1990, Hawkins dkk, 1992). Sebagai contoh, Telch dkk (1982) di California menggunakan siswa sekolah tinggi yang lebih tua untuk mengajar yang lebih mudah untuk mengembangkan kecakapan argumen-tandingan untuk menentang tekanan teman untuk merokok, menggunakan praktek pemodelan (peniruan) dan terbimbing.  Pendekatan ini sukses dalam mengurangi merokok pada siswa yang lebih muda, dan hasil yang serupa dilaporkan oleh Botvin dan Eng (1982) di New York City. Murray dkk (1984) di Minnesota menggunakan pemimpin teman pada usia yang sama untuk mengajar para siswa cara untuk menentang tekanan teman untuk mulai merokok, dan Evans dkk (1981) di Houston menggunakan film dengan tujuan yang sama.

            Dengan menggunakan pemimpin teman yang berstatus tinggi, penggunaan mariyuana dan alkhol dapat dikurangi begitu juga merokok (misalnya Klepp dkk, 1986l McAlister dkk, 1980). Botvin dkk (1984) di New York membandingkan penerapan  program pencegahan zat terlarang oleh guru dan pemimpin teman. Program ini bertujuan untuk membantu perkembangan kecakapan sosial dan mengajarkan para siswa cara untuk menolah tekanan teman untuk mengguanakn zat terlarang ini. Mereka menemuan bahwa pemimpin teman efektif dalam mengurangi merokok, mabuk, dan penggunaan mariyuana, tapi guru tidalk Analisis meta berskala besar oleh Tobler (1986) terhadap program pencegahan penggunaan zat terlarang menyimpulkan bahwa program-program yang menggunakan pemimpin teman adalah paling efektif dalam mengurangi merokok, minum-minum, dan penyalahgunaan obat-obatan. Teknik-teknik ini, yang dirancang untuk menandingi tekanan teman anti-sosial, dapat juga membantu mengurangi tindak kejahatan.

Karir Kriminal dan Kontrol Kejahatan

Implikasi riset karir kriminal terutama berkaitan dengan kontrol kejahatan. Berkaitan dengan prevalensi (kelaziman), jika tindak kejahatan berkembang luas  di keseluruhan komunitas, tindakan pencegahan primer yang menargetkan “sebab-sebab akar” kejahatan seperti, yang dijelaskan di atas, mungkin adalah yang paling tepat. Pada pihak lain, jika tindakan kejahatan secara sempit berkonsentrasi antara beberapa saja keluarga yang bermasalah, maka tindakan  peradilan kriminal seperti rehabilitas, pencegahan  individual,  dan pencabutan kapasitas (inkapasitasi) mungkin lebih efektif. Terdapat suatu pengabsahan untuk kedua pendekatan ini dalam riset karir kriminal, karena  kelaziman/prevalensi keseluruhan yang tinggi dari tindak kejahatan berdampingan dengan minoritas kecil para pelaku kejahatan “kronis” yang membentuk proporsi substansial dari masalah kejahatan.

            Penaksiran terhadap besarnya segi-segi karir kriminal seperti durasi karir dan frekuensi tindak kejahatan individual diperlukan untuk memperkirakan kebijakan peradilan seperti inkapasitasi selektif (Blumstein dkk, 1988). Semua studi frekuensi kejahatan individual telah menyimpulkan bahwa hal itu berbeda  secara mencolok di antara individu. Perbedaan ini tampak secara paling grafis dalam riset Rand tentang laporan-sendiri oleh para tahanan di California, Michigan, dan Texas (Greenwoo dan Abrahamse, 1982). Biarpun mayoritas pelaku kejahatan melaporkan taraf kejahatan yang relatif rendah, sejumlah kecil melaporkan taraf yang sangat tinggi. Sebagai contoh, terhadap semua pelaku kejahatan aktif, frekuensi kejahatan rata-rata  untuk tindakan maling adalah lima kejahatan per tahun, tapi 10 persen teratas dari maling rata-rata setidaknya 232 per tahun, dan sementara frekuensi kejahatan rata-rata untuk perampokan adalah lima per tahun, 10 persen teratas perampokan rata-rata melakukan setidaknya 87 per tahun. Greenwood dan Abrahamse (1982) mengembangkan  skala tujuh poin untuk menyelidiki seberapa jauh adalah mungkin untuk memprediksi para pelaku kejahatan bertaraf tinggi, berdasarkan hukuman dan penahanan sebelumnya. Skala ini terbukti sangat efisien dalam membedakan antara para pelaku kejahatan. Sebagai contoh, untuk para para maling California, taraf maling rata-rata tahunan adalah 1,4 untuk yang mencetak skor 0-1 pada skala, 6,0 pada orang yang mencetak 2-3, dan 92,9 untuk yang mencetak skor 4-7. hasil-hasil mereka ditiru di New Orleans oleh Miranne dan Geerken (1991).

            Greenwood dan Abrahamse (1982) melanjutkan untuk menaksir nilai kebijakan pemberian hukuman berupa inkapasitasi selektif yang menyangkut pemanjangan waktu yang dialami oleh para pelaku kejahatan bertaraf tinggi, dan pemendekan waktu yang dijalani para pelaku kejahatan bertaraf rendah. Untuk para perampok California, mereka memperkirakan bahwa kebijakan tersebut mungkinmencapai pengurangan 15 persen dalam taraf perampokan bersama dengan pengurangan 5 persen dalam populasi yang ditahan untuk perampokan. Untuk para maling California, kebijakan inkapasitasi selektif terbaik membutuhkan pengurangan 7 persen pengurangan dalam populasi penjara untuk mencapai pengurangan 15 persen dalam kejahatan. Kesimpulan tentang keuntungan inkapasitasi untuk para perampok California sangat direplikasi (ditiru) dalam analisis ulang oleh Vishler (1986), tapi dia menyimpulkan bahwa pengurangan 13 persen dalam kejahatan mungkin dicapai dengan tanpa kenaikan dalam populasi penjara. Hasil-hasil di Texas kurang mengesankan, karena frekuensi kejahatan yang lebih rendah.

            Rekomendasi tentang inkapasitasi selektif berdasarkan riset karir kriminal telah terbukti sangat kontroversial. Beberapa keberata diajukan (lihat Visher 1986), beberapa berfokus pada etika penerapan hukuman menurut perilaku yang telah diprediksi. Juga, dinyatakan bahwa semua informasi berasal dari laporang sendiri, dan bahwa para pelaku kejahatan tidak mungkin menghasilkan laporan sendiri yang benar jika panjang hukuman atau waktu yang dijalani tergantung kepada mereka. Lebih lanjut,  efisiensi prediktif mungkin telah diperkirakan secara berlebihan dalam riset ini, karena instrumen prediksinya tidak dibangun dalam satu sampel dan diterapkan ke sampel yang berbeda (validasi).

            Chaiken dan Chaiken (1984) menganalisis data yang sama tersebut tapi sampai pada kesimpulan yang berbeda. Mereka berargumen bahwa para pelaku kejahatan bertaraf rendah dapat diidentifikasikan secara lebih akurat daripada yang bertaraf tinggi. Dengan demikian, mereka mendukung bahwa pelaku kejahatan bertaraf rendah hendaknya dialihkan dari penjara menuju program komunitas, dan hal ini dapat dilakukan dengan resiko minimal terhadap publik. Juga, Rolph dan Chaiken (1987) memperlihatkan bahwa kesimpulan yang optimistis  tentang inkapasitasi selektif tidak dibenarkan  ketika catatan resmi digunakan untuk mengidentifikasikan pelaku kejahatan serius bertaraf tinggi, karena ketidak memadaian dalam catatan tersebut. Satu masalah adalah bahwa frekuensi kejahatan berdasarkan penahanan tidak pernah dapat dinyatakan tidak dengan sebenarnya seperti yang berdasarkan laporan sendiri. Sebagai contoh, Grenwood dan Turner memperlihatkan bahwa, dalam laporan sendiri, frekuensi tindak kejahatan pada 10 persen teratas pelaku kejahatan adalah lebih 15 kali frekuensi rata-rata, tapi dalam data penahanan frekuensi tindakan kejahatan dari 10 persen teratas tersebut kurang dari empat kali frekuensi rata-rata. Frekuensi melapor sendiri tampaknya lebihh dekat ke kenyataan.

            Dua implikasi kebijakan penting mungkin bisa ditarik dari pertumbuhan kemungkinan keberlanjutan sesudah masing-masih kejahatan yang berturut-turut. Yang pertama adalah bahwa karena proporsi tinggi pelaku kejahatan berhenti setelah kejahatan pertama atau kedua, intervensi sistem peradilan kriminal yang signifikan mungkin ditunda sampai kejahatan ketiga (Wolfgang dkk, 1972).  Tindakan yang bersifat mengalihkan mungkin cocok sesudah kejahatan pertama atau kedua. Yang kedua adalah bahwa penghentian adalah tidak umum sesudah enam atau lebih penahanan, setidaknya untuk remaja. Memang, Barnett dan Lofaso (1985) berargumen bahwa sebenarnya semua penghentian yang jelas dari para pelaku kejahatan di Philadelphia adalah ilusi, disebabkan oleh terpotongnya data pada ulang tahun ke-18. kemungkinan yang tinggi dari kejahatan yang diulangi oleh pelaku kejahatan yang berkelanjutan memperlihatkan bahwa mereka adalah target penting untuk tindakan kontrol kejahatan.

            Suatu implikasi penting dari spesialisasi yang biasanya bertingkat rendah oleh para pelaku adalah bahwa akan sulit untuk mencegah kejahatan jenis tertentu dengan menargetkan jeni pelaku kejahatan tertentu. Sebagai contoh, hukuman inkapasitatif khusus, pencegahan (deterrent) individual, atau rehabilitasi yang diterapkan pada orang-orang yang dihukum karena kekerasan tidak akan selalu mempunyai efek yang tidak proporsional dalam mengurangi kejahatan kekerasan, karena para pelaku kejahatan yang sering yang sedang ditahan atas kejahatan non kekerasan akan mungkin untuk melakukan kejahatan kekerasan pada masa depan seperti orang yang sedang dihukum atas kejahatan kekeraan. Adalah lebih efektif untuk menargetkan pelaku yang sering/kerap atau kronis daripada jenis pelaku kejahatan tertentu manapun.

            Kejahatan bersama mempunyai implikasi penting untuk kontrol kejahatan. Jika suatu kejahatan dilakukan oleh kelompok, tindakan peradilan kriminal yang ditargetkan pada satu anggota kelompok itu tidak akan selalu mencegah kejahatan tersebut. Adalah penting untuk menyelidiki pada keadaan apa usaha-usaha kontrol yang berfokus pada individu mencegah atau tidak mencegah kejahatan. Sebagai contoh, tindakan yang ditargetkan pada pemimpin kelompok mungkin mencegah kejahatan kelompok. Para perekrut adalah target utama untuk tindakan kontrol, dan lebih banyak riset yang dibutuhkan untuk menetapkan seberapa jauh para perekrut dapat diidentifikasi pada umur awal dan apa saja karakteristik mereka.  Sepanjang para perekrut orang-orang yang tadinya tidak berdosa ke dalam karir kriminal, tindakan kontrol kejahatan yang berhasil yang ditargetkan pada para perekrut dapa mempunyai dampak yang tidak proporsional terhadap prevalensi atau kelaziman tindak kejahatan.

            LeBlanc dan Frechette (1989) berargumen bahwa terdapa dua jenis pelaku kejahatan, situasional dan kronis, yang membutuhkan dua jenis strategi intervensi. kejahatan situasional  tidak sering, oportunistis, dan minor/kecil, sementara kejahatan kronis adalah bagian dari gaya hidup anti-sosial. Mereka mendalilkan bahwa pelaku kejahatan situasional hendaknya diperlakukan dengan toleransi, pengalihan, konsiliasi/pendamaian, perlindungan dan dukungan, sementara para penjahat kronis perlu kontrol peradilan/hukum, pengawasan intensif, dan pendidikan ulang sosial. Dengan mengikuti model dua jenis karir kriminal mereka, dapat diajukan bahwa tindakan pencegahan sosial dini hendaknya digunakan terhadap pelaku kejahatan situasional (atau kadang-kadang), dan tindakan peradilah kriminal hendaknya digunakan pada para pelaku kejahatan kronis (atau sering). Riset lebih lanjut, diperlukan tentang kapan dan bagaimana adalah mungkin untuk membuktikan di antara kedua kategori ini.

KESIMPULAN

Penelitian dari karir kriminal telah secara banyak sekali meningkatkan pengetahuan tentang kelaziman/kemerataan, frekuensi, awal, kontinyuitas, dan penghentian, dari individu yang melakukan tindak pelanggaran. Sebagai contoh, usia puncak dalam melakukan tindak pelanggaran di usia remaja terutama menunjukkan puncak dalam kelaziman/kemerataan; frekuensi tindak pelanggaran individu adalah relatif konstan pada usia yang berbeda, dan panjang karir sisanya mencapai puncaak pada usia 30-40 tahun. Tingkat awal puncak adalah pada usia 13-15 tahun, sedangkan tingkat penghentian puncak adalah pada usia 21-25.

            Pada awal permulaan dari tindak pelanggaran memperkirakan karir kriminal yang panjang dan serius karena kontinyuitas dari potensi kriminal yang mendasari (menjadi dasar). Pada Studi Cambridge, lebih dari setengah dari semua pria yang terbukti bersalah memiliki suatu karir kriminal yang tercatat lebih dari 10 tahun. Sekelompok kecil dari pelanggara berat dapat diidentifikasikan dengan cukup tepat pada usia 10 tahun. Sebagian besar pelanggar adalah fleksibel, tetapi terdapat suatu tingkat kecil/rendah dari spesialisasi yang terdapat pada sejumlah besar kefleksibelannya. Motif pendukung (partner) pelanggar dan hedonistik (untuk kesenangan saja) menurun dari remaja ke usia 20-an, sedangkan motif pelanggar tunggal/sendiri dan karena kebutuhan adalah meningkat.

            Pendekatan karir kriminal juga memiliki pengaruh penting untuk teori kriminologi, yang harus dialamatkan pada proses perkembangan. Teori yang diajukan / dikemukakan disini telah menyarankan bahwa pelanggaran bergantung pada proses pemberian tenaga, penyerahaan, penghambatan/penghalangan, dan proses pembuatan keputusan. Sebagai tambahan pada penjelasan perbedaan antar individu adalam kelaziman atau frekuensi dari tindak pelanggaran, teori harus menjelaskan perubahan dalam individu, mengapa orang memulai tindak pelanggaran, mengapa mereka berlanjut / meningkatkan tindak pelanggaran mereka, dan mengapa mereka berhenti melakukan tindak pelanggaran. Sebagai contoh, pemulaian dapat bergantung terutama pada tingkah laku pengasuhan anak yang buruk oleh orang tua, kontinyuitas dapat bergantung pada orang tua dan kriminal dan teman-temannya yang nakal, penghentian dapat bergantung pada tinggal menetap dengan  pasangan mereka dan pasangan berlainan jenis mereka.

            Terdapat sejumlah cara dimana penelitian karir kriminal dapat diperluas dan ditingkatkan. Penelitian yang ada adalah terutama berdasarkan pada data ofisial dari tindak pelanggaran. Proyek selanjutnya adalah dibutuhkan dimana mendapatkan informasi tentang pelanggaran, termasuk data akurat, dengan metoda pelaporan sendiri dalam survey longitudinal yang prospektif. Penelitian yang ada cenderung untuk menyatukan semua jenis tindak pelanggaran, terutama karena fleksibilitas dari tindak pelanggaran; penelitian lebih lanjut harus mencurahkan lebih banyak perhatian untuk mempelajari berbagai jenis tindak kriminal secara terpisah. Hal ini leibih mungkin (dapat dilakukan) dengan pelaporan sendiri daripada dengan data ofisial (karena kelaziman dan frekuensi yang rendah dari setiap jenis pelanggaran yang ada dalam data ofisial). Penelitian yang ada memfokuskan terutama pada pria. Studi lain yang dibutuhkan yang secara sistematis membandingkan pola karir kriminal yang berbeda dari kategori yang berbeda (Contoh pria vs wanita, kulit putih vs hitam, kelas yang lebih rendah vs kelas menengah). Penelitian memfokuskan pada individu, tetapi dapat juga merupakan studi dari karir kriminal dari unit yang lebih besar/luas, seperti keluarga, geng, komunitas (masyarakat), dan tempat.

            Tindak pelanggaran adalah salah satu dari elemen dari suatu gejala yang lebih besar tentang tingkah laku anti-sosial yang muncul dimasa kanak-kanak dan cenderung untuk berlanjut hingga dewasa, dengan sejumlah manifestasi (penampakan) tingkah laku yang berbeda. Meskipun demikian, ketika terdapat kontinyuitas terus menerus dalam tingkah laku anti-sosial, perubahan dapat juga terjadi. Hal itu biasa ditemukan bahwa kira-kira setengah dari sampel anak-anak anti-sosial tumbuh menjadi remaja anti-sosial, dan kira-kira setengah sampel remaja tumbuh menjadi orang dewasa anti-sosial. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan pada faktor yang bervariasi dalam individu dan yang memprediksi perubahan ini selama kurun waktu tertentu. Penelitian adalah terutama dibutuhkan pada perubahan manifestasi tingkah laku dan urutan kejadian yang berkembang pada usia yang berbeda. Dalam hal tertentu, usaha lain harus dilakukan untuk mengidentifikasikan faktor yang melindungi anak-anak yang rentan/rawan terhadap perkembangan menjadi remaja anti-sosial.

            Sejumlah besar hal telah dipelajari selama 20 tahun terakhir, terutama dari survey longitudinal, tentang faktor resiko untuk tindak pelanggaran dan tingkah laku anti-sosial jenis lain. Pelanggar berbeda secara signifikan (dengan jelas) dengan orang bukan pelanggar dalam banyak hal, termasuk impuls (dorongan emosi), kepintaran (intelejensia), latar belakang keluarga, pengaruh teman-temannya, dan perampasan sosio-ekonomi. Perbedaan ini dapat nampak sebelum, selama, dan setelah karir kriminal. Karena sebagian besar adalah diketahui tentang faktof resiko untuk kelaziman dan awal, penelitian lebih lanjut dibutuhkan pada faktor resiko untuk frekuensi, durasi (jangka waktu), peningkatan dan penghentian. Sedangkan rantai penyebab yang tepat yang menghubungkan faktor-faktor ini dengan tingkah laku anti-sosial, dan hal dimana memiliki pengaruh yang independen, interaktif, dan berulang, adalah tidak diketahui, adalah jelas bahwa individu yang memiliki resiko dapat diidentifikasikan dengan keakuratan yang cukup.

            Penelitian dibutuhkan pada metoda pencegahan dan perlakuan sindrom (gejala) kepribadian anti-sosial ini. Beberapa teknik yang menjanjikan direview dalam bab ini: pelatihan skil antar personal tingkah laku kognitif, program penambahan wawsan intelektual pra-sekolah, pelatihan tingkah laku manajemen orang tua, dan program pengaruh teman. Meskipun demikian pengaruh pencegahan pada tindak pelanggaran adalah seringkali kecil dalam ukuran, yang ditunjukkan dengan sampel yang kecil, dan terbukti tidak bertahan lama. Pengujian skala besar dari teknik ini, menggunakan eksperimen random dan periode kelanjutan jangka panjang, adalah benar-benar dijamin dan dibutuhkan. Penelitian yang lebih sistematis adalah dibutuhkan untuk dibangun dengan sampel apa dan teknik kondisi yang berbeda apa yang efektif secara optimal.

            Pengaruh kebijakan utama dari penelitian karir kriminal memfokuskan pada alat peradilan kriminal seperti inkapasitasi (menjadikan tidak mampu), penangkapan individu, dan rehabilitasi. Adalah penting untuk pembuat keputusan peradilan kriminal untuk mengetahui kecenderungan arah kedepan dari karir kriminal untuk kategori yang berbeda dari pelanggar, dan untuk mengetahui sejahu mana karir ini dapat diperkirakan. Perhatian khusus dapat dilakukan pada kategori dari pelanggar yang nampaknya cenderung untuk melakukan kembali pelanggaran dengan cepat, yang cenderung untuk melakukan pelanggaran serius di masa depan, dan yang cenderung untuk memiliki karir kriminal masa depan yang panjang. Sebaliknya, kategori dari pelanggar yang cenderunt untuk berhenti, yang cenderung untuk memiliki inteval (masa berhenti) yang panjang sebelum melakukan pelanggaran selanjutnya, dapat diperlakukan secara berbeda.

            Hal yang sama, adalah penting untuk pemberi pernyataan untuk mengetahui pengaruh relatif dari pernyataan yang berbeda pada aspek dari karir kriminal masa depan/selanjutnya, setelah mengontrol aspek dari karir kriminal sebelumnya. Informasi ini akan dapat membantu hakim dalam memilih pernyataan optimal  untuk kategori yang berbeda dari pelanggar. Sangat sedikit studi telah dilakukan untukk menghubungkan pernyataan yang mengarah pada kemungkinan resdivisme dengan kontrol minimal untuk variable karir kriminal lain (satu contohnya adalah Walker dkk, 1981). Juga sedikit studi telah menginvestigasi pengaruh dari pemrosesan ofisial sebagai lawan dari tindakan yang bukan ofisial, tetapi Farrington (1977) menemukan suatu peningkatan dalam frekuensi tindak pelanggaran setelah keterbuktian pertama. Hal ini kembali menyarankan bahwa pelanggar pertama dapat lebih baik diarahkan daripada dibuktikan bersalah.

            Untuk meningkatkan pengetahuan tentang perkembangan manusia dan karir kriminal, Farrington (1988a) menyatakan bahwa suatu generasi baru dari studi longitudinal berbagai kelompok adalah dibutuhkan. Sebagai contoh, Tonry dkk (1991) merekomendasikan bahwa 7 kelompok harus berlanjut hingga 8 tahun, dimulai selama periode pre-natal (dengan sebuah sampel dari wanita hamil) dan pada usia, 3, 6, 8, 12, 15, dan 18 tahun. Proyek semacam ini dapat meningkatkan pengetahuan tentang perkembangan dari tindak pelanggaran dan tingkah laku anti-sosial jenis lain dari sebelum kelahiran hingga usia pertengahan 20-an, yang mencakup periode utama dari awal/pemulaian, kontinyuitas, dan penghentian dari karir kriminal. Satu hal yang menarik dari rancangan ini adalah bahwa, dengan menggabungkan data dari kelompok pembatas, kesimpulan tentang perkembangan di usia kira-kira 25 tahun dapat digambarkan dalam suatu proyek yang hanya mengambil usia 10 tahun sebagai awal hingga selesai (termasuk persiapan, analisis, dan penulisan/pencatatan). Memang, kesimpulan preliminari/awal tentang perkembangan dari sebelum lahir hingga usia 21 tahun dapat digambarkan pada 5 tahun pertama dari proyek. Adalah juga penting untuk mencakupkan pengaruh/intervensi pengalaman dalam studi longitudinal, untuk membedakan antara penyebab dan indikator untuk menginvestigasi pengaruh dari usaha/alat pencegahan atau perlakuan pada fitur karir kriminal (Farrington 1992f).

            Kantor Pusat biasanya memfokuskan pada penelitian yang memiliki orientasi kebijakan jangka pendek secara sempit dan nampaknya segan untuk mendukung/mensponsori penelitian fundamental jangka panjang  tentang perkembangan dan peneybab dari tindak pelanggaran. Yang mengasumsikan bahwa tindak pelanggaran dan tingkah laku anti-sosial adalah indikator dari masalah kesehatan mental, adalah sangat diharapkan untuk suatu badan pendonor yang sehat untuk mengambil alih sebagai pemimpin dalam mensponsori penelitian jenis ini. Ini adalah jelas-jelas sangat dapat dipertanggungjawabkan dalam melakukan studi tindak pelanggaran, yang secara jelas suatu masalah kesehatan masyarakat (Shepherd dan Farrington 1993). Seperti dalam tindak pelanggaran dan tingkah laku anti-sosial, investigasi dari penyebab dan pencegahan dari penyakit kanker dan jantung seringkali membutuhkan studi longitudinal yang prospektif, identifikasi dari faktor resiko dan urutan kejadian perkembangan, dan pengujian klinis secara random untuk mengevaluasi keberhasilan dari metoda pencegahan dan perlakuan.

            Bab ini menunjukkan bahwa banyak yang telah dipelajari dalam dua dekadi terakhir tentagn perkembangan manusia dan karir kriminal. Dengan suatu investasi besar dalam studi longitudinal yang baru, akan terdapat kemajuan yang relatif banyak dikemudian hari dalam pengetahuan dan teori, dan peningkatan hasil dalam pencegahan dan kontrol tindak kriminal. Karena hubungan antara tindak pelanggaran dan sejumlah masalah sosial lain, setiap usaha yang berhasil dalam mengurangi tindak pelanggaran akan memiliki keuntungan yang dapat mengarahkan kepada hal yang melampaui hal ini. Setiap usaha yang mengurangi tindak pelanggaran mungkin juga akan mengurangi penyalahgunaan alkohol, mengemudi sambil mabuk, penyalahgunaan obat-obatan, seks bebas, tindak pelanggaran keluarga, pembolosan sekolah, kegagalan sekolah, pengangguran, ketidakharmonisan keluarga, dan perceraian. Adalah jelas bahwa masalah anak-anak cenderung tumbuh menjadi masalah pada orang dewasa, dan masalah pada orang dewasa itu cenderung untuk menghasilkan lebih banyak masalah pada anak-anak. Usaha utama untuk meningkatkan pengetahunan tentang dan mengurangi tindak pelanggaran dan tingkah laku anti-sosial adalah dibutuhkan secara mendesak.

Iklan