INDONESIA ABSEN STRATEGI

Oleh

AHMAD HERI FIRDAUS

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef)

(  Kompas, Hal.7, 27 Februari 2013)

 

Indonesia baru saja menorehkan catatan terburuk dalam seja- rah perdagangan internasional. Neraca perdagang­an pada 2012 mengalami defisit untuk yang pertama kalinya sejak 1961. Na- mun, nilai defisit tahun lalu relatif lebih besar di- banding tahun 1961.

Setelah 1961, neraca perda­gangan Indonesia selalu surplus. Bahkan, pada 2006 surplus per­dagangan mencetak rekor ter- tinggi 39,73 miliar dollar AS. Kon- disi sebaliknya teijadi di 2012, dengan neraca perdagangan de­fisit 1,63 miliar dollar AS. Sumber defisit terutama disebabkan oleh neraca perdagang­an migas yang defisit hingga 5,6 miliar dollar AS. Merosotnya ne­raca perdagangan migas disebabkan karena impor bahan bakar minyak (BBM) sulit dibendung akibat semakin tingginya kebutuhan BBM dalam negeri. Di lain pihak, meskipim neraca perda­gangan nonmigas masih meng­alami surplus 3,9 miliar dollar AS, surplus tersebut merupakan yang terendah sejak era Beformasi. Bahkan, jauh lebih rendah disbanding kaji krisis ekonomi glo­bal 2008 yang sebesar 9,2 miliar dollar AS.

Ketidakpastian ekstemal dan lambatnya pemulihan ekonomi global juga tidak bisa dijadikan satu-satunya alasan mengapa ne­raca perdagangan Indonesia terpuruk hingga mencapai defisit  Buruknya kinerja perdagangan, khususnya dari sisi ekspor, sebenarnya bukti dari lemahnya daya saing produk Indonesia di pasar internasional. Selain itu, ketergantimgan yang tinggi ter hadap bahan baku/penolong im­por juga turut menjadi penyebab terpuruknya kineija perdagang­an Indonesia.

 

Dampak FTA

Gejala tergerusnya neraca per­dagangan Indonesia sebenarnya sudah mulai terlihat sejak In­donesia giat melakukan perjan- jian kerja sama perdagangan bebas, baik secara bilateral, mul­tilateral, maupun regional. Dam­pak negatif mulai dirasakan se- saat setelah Indonesia terlibat dalam ASEAN Free Trade Area (AFTA), tepatnya mulai 2005 neraca perdagangan Indonesia de­ngan ASEAN mulai defisit Padahal, sebelum terlibat dalam AFT A, neraca perdagangan In­donesia dengan ASEAN selalu surplus. Pada 2005 terjadi defisit 0,45 juta dollar AS dan hingga 2012 defisit telah mencapai 455,4 juta dollar AS (nonmigas). Keadaan yang lebih parah teijadi dalam skema ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA). Se- jak 2008, neraca perdagangan In­donesia dengan China selalu de­fisit, yakni 3,6 miliar dollar AS pada 2008 dan 7,2 miliar dollar AS (hingga Oktober 2012).

Hingga 2012 tercatat sedikitnya Indonesia telah terlibat da­lam enam skema kawasan per­dagangan bebas (free trade area/FTA), yakni AFTA AC-FTA ASEAN-Korea FTA (AK-FTA), ASEAN-India FTA (AI-FTA), ASEAN-Australia- New Zealand FTA (AANZ-FTA), dan Indonesia-Japan Economic Partnership                           Agreement (QJ-EPA). Dampak terparah yang dirasakan Indonesia terlihat jelas dalam skema ACFTA dan AFTA Dalam skema lainnya pun, seperti AANZ-FTA dan IJ-EPA alarm bahaya juga sudah mulai menyala mengingat sejak 2007 neraca perdagangan nonmigas Indonesia dengan Australia dan Selandia Baru telah mengalami defisit Neraca perdagangan non­migas Indonesia dengan Jepang juga telah mengalami defisit se­jak 2010.

Indonesia terlihat sangat percaya diri dalam melakukan perjanjian kerja sama perdagangan bebas. Alhasil, banyak pujian yang diterima Indonesia dari dunia internasional. Namun, sayangnya, keputusan Indonesia ikut serta dalam peijanjian kerja sama tersebut dilakukan tanpa pertimbangan dan persiapan yang matang. Indonesia absen strategi dalam menghadapi kom- petisi perdagangan bebas.

Empat strategi

Terdapat empat strategi yang tidak dipersiapkan Indonesia da­lam menghadapi persaingan per­dagangan bebas.

Pertama, Indonesia tidak mempersiapkan industri berbasis bahan baku lokal, yakni in­dustri berbasis pertanian dan pertambangan. Dengan kata lain, hilirisasi industri belum berjalan. Selama ini sumber daya alam lokal yang seharusnya bisa diolah menjadi produk industri justru diekspor dalam bentuk mentah demi menghidupi industri di ne- gara lain. Adapun industri yang selama ini diprioritaskan untuk berkembang di Indonesia adalah industri berbahan baku impor. Ini langkah sal ah dan tak ra- sional. Kekayaan SDA lokal se- harusnya bisa jadi modal dan peluang untuk mengembangkan industri yang berdaya saing.

Kedua, Indonesia lambat dalam mengadopsi teknologi untuk sektor industri. Teknologi dapat hadir jika ada kegiatan investasi di sektor industri. Namun, in­vestasi baru akan datang jika terdapat iklim usaha kondusif.

Ketiga, Indonesia tidak memprioritaskan energi untuk kebutuhan sektor industri, melainkan untuk kepentingan ekspor. PaAdahal, 49,4 persen energi di In­donesia dikonsumsi industri (ESDM, 2012). Ini menunjukkan bahwa sektor industri sangat bergantung pada energi. Namun, saat ini sektor industri justru ke- sulitan mendapatkan energi yang sesuai dengan kebutuhannya. Padahal, Indonesia punya cadangan kekayaan energi, seperti gas alam dan batubara, yang cukup melimpah. Indonesia lebih menjadikan batubara dan gas alam sebagai komoditas ekspor, bukan modal membangun Industri.

Keempat, Indonesia tidak mempersiapkan diri dalam membangun sumber daya ma- nusia (SDM) yang ahli dan berkompeten di bidang industri yang berbasis sumber daya lokal. Padahal, Indonesia merupakan negara berpenduduk keempat ter banyak di dunia. SDM ini belum dimanfaatkan secara optimal un­tuk kepentingan kemajuan in­dustri nasional.

Dalam jangka panjang, keem­pat strategi tersebut (hilirisasi industri, pengadaan teknologi, penyediaan energi, dan SDM) harus ditempuh jika Indonesia ingin menciptakan produk in­dustri yang berdaya saing sehingga dapat melanjutkan tradisi surplus neraca perdagangan. Da­lam jangka pendek, untuk memperbaiki kineija neraca perda­gangan yang sedang terpuruk, pemerintah liarus berupaya menekan impor, khususnya BBM, dengan melakukan pembatasan konsumsi BBM dalam negeri. Dari sisi ekspor, pilihan hilirisasi tampaknya hal yang paling rasional dan realistis untuk me- ningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

Iklan